Pentingnya Menyiasati Risiko Berinvestasi Saham - Menyikapi Fluktuasi Indeks

NERACA

Jakarta- Sejatinya, mengelola keuangan pada instrumen investasi menawarkan keuntungan yang lebih menarik dibanding hanya menyimpan dana dalam bentuk tabungan atau deposito. Namun untuk memenangkan hal tersebut, tidak hanya dibutuhkan modal, melainkan juga kecermatan seseorang untuk mengelola portofolio investasinya. Apalagi jika dananya ditempatkan pada instrumen investasi berbasiskan saham. “Inilah yang sulit, dan harus dipenuhi investor bermain saham.” kata Associate Director Mutual Fund Sales dari Batavia Prosperindo Aset Management, Karma P. Siregar di Jakarta, Kamis (12/11).

Diketahui, harga saham bergerak fluktuatif, dan diikuti sejumlah sentimen yang mendorong seseorang untuk melakukan transaksi jual atau beli. Oleh karena itu, seseorang juga perlu mengetahui informasi yang baik secara makro dan mikro sehingga dapat meminimalisir kerugian. Utamanya bagi seorang trader, yang bermain saham dalam jangka pendek.

Volatilitas pasar belakangan yang ditengarai akibat sejumlah isu atau sentimen pun tidak bisa tidak menjadi hal yang perlu diperhatikan. Isu perlambatan ekonomi, dan pelemahan rupiah serta simpang siurnya pengetatan ekonomi (Tapering off) yang akan dilakukan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) telah mendorong dana-dana keluar di pasar modal. “Informasi sangat penting. Kalau bisa kita harus tahu sebelum isu-isu itu terjadi,” tegasnya.

Masih lekatnya sejumlah isu tersebut, kalangan analis pun menilai, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berpeluang mengalami pelemahan secara teknikal. Tercatat, sampai dengan perdagangan Kamis (12/11), IHSG masih nyaman berada di zona merah di level 4212.22, dengan penurunan sebanyak 59,53 poin atau sebesar 1,39%. “Pola evening doji star terbentuk atas IHSG yang mengindikasikan bearish reversal (pelemahan lanjutan),” kata Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang.

Sementara dari pasar luar negeri, Dow Jones juga tampak membukukan kejatuhan terbesar selama sebulan ini dalam perdagangan Rabu setelah turun 129,6 poin (0,81%) ditutup di level 15.843,53, disertai kenaikan tajam The Vix sebesar 10,86% yang ditutup di level 15,42. Kejatuhan tersebut diikuti volume perdagangan yang cukup besar sekitar 6,5 miliar saham berpindah tangan atau jauh di atas rata-rata perdagangan tahun ini sebesar 6,04 miliar saham.

Hal tersebut, menurut Edwin, terjadi setelah tercapainya kesepakatan Bipartisan Budget mengakhiri tiga tahun ketidakstabilan fiskal dan konfrontasi politik di Washington, di mana puncaknya di bulan Oktober sempat terjadi partial shutdown pemerintahan selama 16 hari. Hal itu pun diartikan pelaku pasar sebagai suatu sinyal the Fed berpeluang mempercepat penerapan tapering dalam pertemuan FOMC 17-18 Desember 2013.

Namun lepas dari hal tersebut, sebagian besar kalangan pemodal sepakat, menginvestasikan dana dalam instrumen investasi memiliki return yang lebih menarik dibandingkan hanya menempatkan dana tersebut dalam bentuk deposito. Fluktuasi harga saham dinilai hanya sebagai dinamika pasar. Secara teoretis, seseorang yang menyimpan uangnya di bank hanya akan memperoleh sekian persen dari rata-rata nilai suku bunga perbankan yang diberlakukan dan bersifat reguler.

Sementara, bagi seorang yang mengelola uangnya dalam instrumen investasi di saham misalnya, dapat memperoleh dua keuntungan sekaligus. Pembagian dividen atau bagi hasil, plus capital gain, atau keuntungan yang diperoleh dari selisih harga beli dan jual. Asalkan, seseorang mengetahui tujuan investasinya, mengelola portofolionya dengan baik, dan mencermati risiko di industri keuangan.“Bagi trader yang berorientasi jangka pendek, gejolak ketidakpastian pasar finansial memang membuat aksi spekulasi yang cenderung tinggi, namun tidak berpengaruh bagi investor yang berorientasi jangka panjang.” tambah pengamat pasar modal, Alfred Nainggolan. (lia)

Related posts