Nelson Mandela dan Kemandirian Bangsa - Oleh: Aries Musnandar, Dosen UIN Malang

Dunia berduka manakala tokoh HAM internasional, mantan Presiden kulit hitam Afrika Selatan pertama meninggal dunia. Tidak dipungkiri Nelson Mandela adalah tokoh HAM internasional terkemuka di abad 20-21 ini. Perjuangannya menghapus politik diskiriminasi apartheid di Afrika Selatan amat dikenal di seantero jagad raya.

Kegigihan dan keteguhannya dalam menegakkan HAM sudah tidak diragukan lagi, ia pun dicintai banyak orang dari berbagai kalangan dari kulit manapun. Ketika Nelson di penjara di negerinya sendiri atas upayanya membebaskan Afrika Selatan dari politik Apartheid masyarakat internasional membela dan berjuang agar dilepaskan dari penjara, Saya teringat tatkala berada di Inggris pada tahun 1985-1987, masyarakat internasional di London melakukan unjuk rasa 24 jam non stop tanpa henti hingga Nelson Mandela dibebasakan oleh rezim apartheid di Afrika Selatan. Demikian kuatnya dukungan masyarakat internasional atas perjuangan Nelson Mandela dalam membela kaum tertindas yakni warga kulit hitam di Afrika Selatan, sehingga membuat pemerintah rezim apartheid akhirnya membebaskan Mandela bahkan rezim tersebut tumbang dengan sendirinya.

Nelson Mandela sendiri di tahun 1955 bahkan pernah datang ke Indonesia menghadiri konferensi Asia Afrika di Bandung kala itu sebagai aktivist pejuang HAM di Afrika Selatan. Beliau amat kagum terhadap Bung Karno dan mengakui terinspirasi oleh pidato-pidato Bung Karno yang banyak mengupas soal kemerdekaan dan kemandirian bangsa. Semangat perjuangan Mandela bertambah besar manakala mengenal sosok Bung Karno yang teguh dalam menegakkan kemandirian bangsa.

Singkat cerita, setiap perjuangan yang membebaskan rakyat dari kediktatoran, perlakuan diskriminasi, pekastaan atau pengkotak-kotakan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara selalu didukung dunia internasional. Dahulu di Tanah Air ini tatkala Bung Karno memimpin perjuangan dalam merebut dan menegakkan kemerdekaan, masyarakat internasional pun serta merta mendukung rakyat Indonesia. Rakyat dan pemimpin berserta masyarakat internasional yang tidak menyukai penjajahan bersatu padu menentang bentuk-bentuk penjajahan fisik yang mengksploitasi tidak hanya sumber daya alam tetapi juga kedzholiman penjajah terhadap rajyat setempat.

Penentangan terhadap penjajahan satu bangsa terhadap bangsa lain di zaman dahulu memang amat jelas kasat mata dan dialami langsung oleh masyarakat yang terjajah. Dunia sekarang tidak lagi sepakat dengan penjajahan fisik tersebut, oleh karenanya zaman sekarang bisa dikatakan tidak ada lagi penjajahan fisik dimaksud. Akan tetapi esensi dari penjajahan sebenarnya masih saja ada di dunia ini. Jika secara fisik tidak dijajah tetapi secara non fisik tetap saja dijajah. Kedaulatan fisik mungkin sudah dapat diraih tetapi kedaulatan politik, ekonomi, ideologi dan sejenisnya hingga hari ini masih kita saksikan dan alami.

Bung Karno sendiri di berbagai pidatonya terutama setelah Indonesia menyatakan kemerdekaannya di tahun 1945 seringkali mengingkatkan rakyatnya akan penjajahan gaya baru yang beliau sebut dengan neo-kolonilaisme dan neo imperialisme. Penjajahan bentuk baru ini menurut beliau amat halus memang tidak tampak secara fisik tetapi amat dahsyat pengaruhnya sehingga negara tak lagi merdeka secara substansi. Menurut Bung Karno penjajahan di bidang ekonomi, budaya, politik dan ideologi masih menjadi bagian mereka yang memiliki jiwa ekspansif untuk menuasai dunia. Sasaran tembak Bung Karno saat itu amat jelas siapa lagi kalau bukan Amerika dan sekutunya yang menurut beliau mempunmyai agenda neo kolonialisme dan imperialisme dengan menguasai sektor ekonomi, poliitk dan mempengaruhi rakyatnya dengan budaya-budaya Barat.

Oleh karena itu dulu Bung Karno sangat marah apabila ada musisi-musisi (artis) Indonesia yang amat menyanjung musik, kesenian dan kebudayaan Barat, sementara kekayaan budaya kita tidak dijaga dan dikembangkan. Politik bebas aktif juga merupakan pengejawantahan para pendiri republik ini yang tidak suka dengan campur tangan Barat dalam kemandirian berpolitik. Demikian pula di bidang ekonomi, dulu dineal konsep berdikari, berdiri diatas kaki sendiri. Pada masa itu Indonesia mampu membangun simbol-simbol kemandirian seperti mendirikan Monumen Nasional, Gelora Olahraga, dan berbagai gedung-gedung besar lain secara mandiri dan gotong royong. (uin-malang.ac.id)

Related posts