Berdaya Agar Sehat

Oleh: Kencana Sari, SKM., MPH

Peneliti di Litbang Kesehatan Kemenkes

Kesenjangan antara sang kaya dan si miskin semakin terlihat jelas. Tidak hanya dalam penghidupan sehari-hari tetapi juga dalam hal kesehatan. Kondisi sosial demografi yang berbeda membuat status kesehatan yang berbeda pula. Mirisnya mereka yang miskin benar-benar rentan terhadap status kesehatan yang buruk. Status kesehatan masyarakat ditunjukkan pada hasil Riset Kesehatan Dasar 2013 terlihat bahwa benar mereka yang miskin berisiko terhadap status kesehatan yang lebih buruk dibanding mereka yang kaya.

Mereka yang miskin jelas akan lebih sulit mendapat perawatan dan pengobatan untuk mempertahankan kualitas hidupnya sebab sumber daya yang terbatas. Misalnya saja mereka yang mengalami gangguan fisik, baik pendengaran maupun penglihatan, serta disabilitas terjadi paling banyak pada kelompok tidak sekolah dan kelas ekonomi terbawah. Akses terhadap sanitasi yang baik memang terendah pada mereka di kelas ekonomi terbawah. Tak heran jika kejadian diare pada balita meningkat dengan semakin rendahnya kelas ekonomi. Begitu juga dengan pneumonia pada balita. Tidak hanya penyakit infeksi, penyakit asma, penyakit paru kronis, stroke, jantung koroner dan gagal jantung, gangguan jiwa dan gannguan emosional, hingga penyakit sendi juga bertambah seiring menurunnya kelas ekonomi.

Sayangnya, hal itu diperburuk dengan kurangnya informasi kesehatan yang mereka terima. Padahal itu adalah bahan mereka untuk dapat mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidup. Sehingga perilaku berisiko terhadap status kesehatan yang buruk pun tak heran terbiasa dilakukan. Pada kelompok ekonomi paling bawahlah sebagian besar perokok berada. Dengan didominasi pada mereka yang tidak bersekolah dan tidak tamat sekolah dasar, 8 dari 10 perokok adalah mereka yang tidak mengenyam perguruan tinggi.

Namun, mereka yang di kelompok ekonomi kelas menengah atas bebas dari risiko penyakit. Kelompok ini rentan terhadap penyakit tertentu misalnya hepatitis A atau B, kanker, diabetes. Tapi mungkin kelompok ini lebih beruntung karena adanya sumber daya yang memungkinkan mereka mencari pertolongan sehingga kualitas hidup tetap terjaga.

Bermacam penyakit yang timbul pada kelompok masyarakat menengah kebawah ini harus segera diatasi. Menjadi urgensi mengingat Indonesia sistem jaminan kesehatan akan segera berlaku mulai tahun depan. Jika tidak, porsi pembiayaan kesehatan akan banyak tersedot pada kuratif. Dari mana memulainya? Dari masyarakat itu sendiri. Tidak mungkin pemerintah bisa melakukan dan mengubah pola pikir dan pengetahuan masyarakat dengan hanya mengunakan top down strategi. Pemberdayaan masyarakat salah satu kuncinya. Pemerintah harus bekerja bersama masyarakat.

Menjadikan masyarakat pemilik program. Biarkan masyarakat mengenali apa yang terjadi di lingkungannya, masalah dan potensi, sehingga dapat menggugah mereka untuk melakukan pembenahan paling tidak untuk dirinya sendiri. Berikan apresiasi terhadap kader dan sukarelawan sehingga kualitas dan keberlangsungan suatu program tetap terjaga. Tentu saja harus dipastikan bahwa ketersediaan alokasi anggaran, penguatan sistem dan penegakan peraturan penting untuk dilakukan.

Related posts