Fluktuasi Rupiah Ganggu Kinerja Importir

NERACA

Jakarta – Para importir mengeluhkan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) karena menganggu kinerja dan rencana bisnis mereka. Rencana usaha yang sudah mereka buat harus selalu dirubah ulang karena rupiah yang tidak kunjung stabil.

“Dampak terbesar terhadap pengusaha importir adalah pelemahan rupiah, sejauh ini rupiah masih bergejolak sehingga kami sangat susah dalam penyusunan keberlangsungan usaha kedepan,” kata Bambang SN, Direktur Eksekutif Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (Ginsi), kepada Neraca, Kamis (12/12).

Terang saja, lanjut dia, hal itu sangat menggangu kinerja para importir, karena harus bisa segera menyusun strategi ulang, menghitung biaya produksi dan lainnya. “Selain itu, kami membeli barang dengan harga dollar, sedangkan menjual dengan harga rupiah, kalau rupiah terhadap dollar terus-terusan naik turun maka kami harus mengatur dan menyusun ulang cashflow-nya, agar mampu mengompres cost sehingga masih bisa komepetitif. Perencanaan sudah dibuat sedemikian rupa, tapi kalau rupiahnya tidak menentu, tentu saja akan merubah perencanaan yang sudah dibikin secara matang,” imbuhnya.

Dalam kondisi ini jelas, para pengusaha lebih baik bermain aman yaitu menunggu kestabilian dari rupiah. Kalaupun ada transaksi dibatasi hsambil menunggu kepastiuan rupiah. “Dalam kondisinya seperti sekarang kami lebih baik wait and see, sambil menunggu semuanya kondusif,” sambungnya.

Bagi Bambang, sebenarnya berapa pun besaran nilai rupiah terhadap US$ tidak dipermasalahkan, asalkan stabil. Naik turunnya nilai tukar rupiah dinilai mengganggu terutama sulitnya produsen merencanakan bisnisnya ke depan. "Sebenarnya berapa pun dollarnya bagi kami tidak bermasalah asalkan stabil, sehingga tidak menganggu perencanaan kami, karena dampaknya pada harga jual dari user ke konsumen," terangnya.

Tapi jika sampai dengan akhir tahuan kondisi rupiah tidak kian stabil maka pengusaha importir akan babak belur dalam menjalankan usahanya. “Kalau situasinya masih tidak menentu seperti ini importir juga akan kuwalahan dalam menjalankan bisnisnya,” tegasnya.

Besar harapan kami dari para pengusaha pemerintah mampu melakukan kesetabilan rupiah itu secepatnya. Sehingga di tahun 2014 tidak ada kekhawatiran dari para pengusaha terhadap pertumbuhan bisnis tidak terganggu. "Saya berharap betul dalam jangka pendek pemerintah mampu menstabilkan rupiah, sehingga tahun 2014 pertumbuhan binis impor nasioanl bisa tumbuh secara positif,” harapnya.

Secara khusus, disinggung mengenai kenaikan Pajak Penghasilan (PPh) pasal 22 mengenai impor barang konsumsi dari 2,5% menjadi 7,5%, menurutnya sebenarnya pihaknya tidak mempermasalahkan berapa pun kenaikannya, apalagi jika kebijakan itu untuk mendongkrak produksi domestik dan mendorong ekspor lebih tinggi.

“Sebenarnya kenaikan berapa pun tidak bermasalah, tinggal kami sesuaikan dengan cashflownya, asalakan kebijakan itu memang efektif untuk meningkatkan produksi dalam negeri dan memperkuat ekspor nasional, untuk mengurangi defisiti neraca perdagangan,” pungkasnya.

Related posts