Mobil Listrik Bisa Diproduksi Massal di 2017? - Sektor Otomotif

NERACA

Jakarta - Upaya pemerintah untuk menggenjot pembuatan mobil murah dan ramah lingkungan lokal hingga siap diproduksi secara massal terus dilakukan. Salah satunya mobil listrik. Apalagi kendaraan tersebut tengah menjalani uji coba level tujuh.

"Mobil listrik sekarang yang coba dijalani level 7, kalau tidak ada masalah besar, minor-minor saja masuk ke level 8, yang bisa diproduksi massal itu level 9, nah itu lebih banyak persiapan untuk mencetak alatnya, kan kalau mau banyak kan harus buat alat cetak kan, sekarang masih manual," ujar Menristek Gusti Muhammad Hatta di Jakarta, Kamis (12/12).

Sejauh ini, lanjut Gusti, sejumlah kementerian dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sudah siap bekerja sama demi memproduksi mobil listrik. Ditambah dua perusahaan swasta nasional yang sudah meluncurkan dua mobil listrik terlebih dahulu.

"Sudah banyak kementerian yang siap, pesannya banyak ini sekarang. Kita sudah ada dua swasta yang siap memproduksi, punya Dasep dan yang di Jogja itu," tandasnya. Lalu, kapan mulai diproduksi massal? "Kalau PSB kita maunya 2017 sudah (massal)," tukasnya.

100 Unit

Di tempat berbeda, PT Great Asia Link (PT GRAIN) berencana meluncurkan 100 unit mobil listrik dengan merek Elvi yang merupakan akronim dari Electric Vehicle pada Mei 2013. Mobil ini merupakan produk nasional.

Empat merek Elvi sudah siap dipasarkan, yaitu Elvi Ravi untuk jenis all purpose vehicle (APV), Elvi Hevi untuk jenis pick up, serta Elvi Hivi dan Elvi Suvi untuk jenis mobil kota city car. "Untuk mobil jenis APV, perseroan akan menjualnya di pasaran sekitar Rp 130 juta, pickup Rp 75-80 juta, dan city car sekitar Rp 170 juta per unit," kata Presiden Direktur PT GRAIN Ravi Desai seusai bertemu Menteri Perindustrian (Menperin) Mohamad S Hidayat, dengan didampingi Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi (IUBTT) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Budi Dharmadi dan Komisaris PT GRAIN JE Sendjaja.

Pada tahap awal, lanjut dia, kapasitas produksi mobil PT GRAIN mencapai 20 ribu per tahun, dengan target penyerapan tenaga kerja sebanyak 450 orang. Perusahaan ini bekerja sama dengan beberapa SMK di Jawa Timur untuk merekrut tenaga teknisi.

Ravi mengatakan, saat ini mobil listrik buatan PT GRAIN menggunakan kandungan lokal sebesar 40% dan beberapa komponen masih diimpor dari negara lain, seperti Korea Selatan dan Jepang. Perusahaan menargetkan kandungan lokal naik mencapai 50% dalam lima tahun mendatang.

Perseroan merupakan anak usaha dari PT Bukit Jaya Abadi, perusahaan yang berge-rak pada usaha pemasok dan penyedia mesin diesel dan struktur besi. Perusahaan ini berkantor pusat di Surabaya, Jawa Timur.

Sejauh ini, PT GRAIN telah menginvestasikan dana hingga Rp 100 miliar untuk merealisasikan fasilitas produksi mobil listrik nasional. Tahapan investasi akan terus bertambah dan ditingkatkan seiring perkembangan pasar. "Kami berkomitmen untuk mengembangkan mobil listrik. Mobil ini bisa menjadi alternatif karena biaya operasionalnya 75% lebih hemat dibandingkan mobil biasa," imbuh Ravi.

Sementara itu, Budi menuturkan, Kemenperin berkomitmen terus mendorong pengembangan mobil listrik di Tanah Air. Pasalnya, pasarnya masih terbuka luas dan belum banyak dikembangkan oleh prinsipal otomotif multinasional.

"Kemenperin akan terus mendorong pengembangan industri mobil listrik nasional, seperti yang dilakukan oleh PT GRAIN, sebagai salah satu perusahaan nasional yang merintis pembuatan mobil listrik secara komersial," ujar Budi.

Ravi melanjutkan, pihaknya tertarik memproduksi mobil listrik karena di Indonesia dan negara lain belum banyak dikembangkan.

Related posts