Kenaikan TDL Bakal Mengerem Industri Tekstil - Biaya Produksi Bengkak

NERACA

Jakarta - Industri tekstil Indonesia pada tahun 2014 mendatang diprediksi akan tumbuh melambat. Meski demikian, ekspor tekstil Indonesia masih akan naik walaupun agak tersendat. Salah satu faktor yang membuat industri tekstil dalam negeri melempem adalah rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) di 2014 mendatang.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Tenaga Kerjan Benny Soetrisno mengatakan rencana kenaikan tarif listrik sama saja membunuh industri tekstil. Kebijakan ini juga dinilai bertolak belakang dengan janji pemerintah yang akan meningkatkan industri dalam negeri.

"Yang saya takutkan rencana kenaikan tarif listrik lagi, itu yang sebetulnya yang tidak inline dengan kehendak pemerintah untuk meningkatkan daya saing, itu akan memangkas kemampuan daya saing kita di industri manufaktur," ucap Benny di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Kamis (12/12).

Namun demikian, pelemahan rupiah dirasa cukup menguntungkan industri tekstil karena mayoritas produk mereka untuk ekspor. Bahkan pelemahan rupiah ini disebut bisa meringankan beban perusahaan karena kenaikan UMP 2013 lalu.

"Tapi memang kenaikan (listrik) ini baru diberlakukan 1 januari 2014. Kalau UMP kan sudah terkompensasi dengan pelemahan rupiah, kalau pelemahan rupiah dari Rp 9.500 ke Rp 11.500 saya untuk 30% jadi ada kenaikan, jadi itu sudah ter-offset," jelasnya.

Inevstasi tekstil kedepannya juga diprediksi akan menurun karena kebijakan pengetatan moneter yang diambil pemerintah. Perbankan lebih hati-hati dan mengerem penyaluran kredit mereka. Namun demikian ekspor akan tetap naik memanfaatkan negara Amerika dan Eropa yang sudah mulai pulih.

"Tahun depan sistem ekonomi negara maju naik dan bagus, ini justru memberikan suatu peningkatan eksportasi tekstil kita kesana, kan ekspor kita terbesar ke AS, AS lagi naik, Eropa lagi mulai mau naik, Jepang akan mengeluarkan duit banyak, ini sebetulnya diharapkan ekspor kita naik," tutupnya.

Pengusaha Menolak

Sementara itu, para pengusaha di bawah Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dan Kadin Indonesia sepakat menolak rencana kenaikan tarif listrik tahun 2014, apalagi dengan rencana pencabutan subsidi. "Pengusaha Indonesia menolak untuk dinaikkan tarif listrik," ungkap Wakil Sekretaris Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Franky Sibarani.

Menurut rencana, kenaikan TDL 2014 akan dikenakan bagi kalangan industri golongan B2 dan B3. Kenaikan didasarkan atas harga minyak dunia yang melonjak dan depresiasi nilai tukar dolar. Selain usulan pemerintah, dikatakan Franky, pihak DPR juga mengusulkan kenaikan TDL untuk industri golongan E4 atau industri bahan baku dan golongan E3 atau perusahaan terbuka.

"Kalau saja subsidi dicabut naiknya bisa mencapai 42% artinya produk plastik dan lainnya juga akan naik. Industri golongan B2-B3 kenaikan listrik tahun 2012 sudah 20%. Pemerintah kita harapkan gunakan biodiesel untuk PLN. Kalau itu memang naik TDL, daya saing kita semakin berkurang," imbuhnya.

Sementara itu Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional Chris Kanter berpendapat beban listrik selama ini ditanggung oleh para pengusaha. Sedangkan untuk sektor rumah tangga kenaikan listrik tidak dikenakan padahal daya beli cukup kuat.

"Pelanggan di bawah 900 dan 450 tidak terjadi kenaikan. Ini nggak fair, mereka naiknya hanya Rp 4.800-5.000. Sementara buat beli pulsa Rp 100.000 mereka bisa beli. Tetapi semua beban listrik ditanggung kepada pengusaha hingga 18% atau bisa sampai 27%," kata Chris.

Pemerintah kembali menaikkan tarif tenaga listrik (TTL) mulai Senin (1/7). Kenaikan itu merupakan penyesuaian yang ketiga pada tahun ini. Tarif listrik baru tersebut diatur Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 30 Tahun 2012 Tentang Tarif Tenaga Listrik yang disediakan PT PLN (Persero).

Berdasarkan regulasi yang ada, pemerintah telah memutuskan untuk menaikkan tarif listrik pada tahun ini sebanyak empat kali dengan jadwal sebagai berikut.Tahap pertama,1 Januari 2013-31 Maret 2013. Tahap kedua,1 April 2013-30 Juni 2013,Tahap ketiga 1 Juli 2013-3Q September 2013 dan Tahap terakhir 1 Oktober 2013.

Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian, Euis Saedah mengatakan, sektor IKM yang paling terkena dampak atas kenaikkan TTL ini ialah IKM sektor otomotif serta IKM tekstil dan garmen. Pasalnya, dari sekian banyak, kedua sektor itulah yang paling banyak mengkonsumsi listrik dalam skala besar. "Yang paling merasakan adalah industri otomotif dan garmen, karena listrik merupakan input faktor dari industri mereka. Kalau IKM yang lain, listrik hanya untuk penerangan saja," kata Euis.

Dengan naikknya TTL tersebut, Euis mengatakan, otomatis kedua sektor tersebut akan menyesuaikan produksinya. Pasalnya, kata Euis, kenaikkan TTL tersebut berpengaruh hingga 15% terhadap ongkos produksi.

"Bisa bertambah 10-15% untuk cost produksi mereka. Tapi mereka pintar untuk mengadakan penyesuaian bagaimana supaya fleksibel. Apakah produksinya dikurangi, apakah bahannya. Produk mana yang paling boros listrik itu mereka kurangi dulu. Nah itu mereka sangat cepat untuk melakukan itu," papar Euis.

Menurut Euis, tak ada bentuk protes dari para pelaku industri tersebut, karena sebelumnya, mereka telah bersiap-siap untuk melakukan antisipasi kenaikkan ini. Dikatakan Euis, saat ini dari 9 juta lebih IKM, terdapat 100 ribu IKM yang bergerak di sektor otomotif, namun hanya 4.000 sektor usaha yang berskala besar dan mengkonsumsi listrik lebih besar. "Kalau garmen ada banyak jutaan. Tapi yang besar hanya sampai 200.ribuan," tutur Euis.

Related posts