Industri Baja Terkendala Pasokan Energi dan Bahan Baku - Pemerintah Terus Dorong Hilirisasi Tambang

NERACA

Jakarta - Kementerian Perindustrian mengungkapkan perkembangan industri baja dalam negeri terkendala oleh pasokan energi dan bahan baku. Dirjen Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian Benny Wachyudi mengatakan, pasokan energi dan bahan baku didalam negeri belum bisa mencukupi kebutuhan pasokan industri baja dalam negeri.

Alhasil, kata Benny, industri masih mengimpornya dari luar negeri, termasik bahan baku scrap. Padahal, dia mengatakan, berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), cadangan bijih besi di Indonesia mencapai 1,7 miliar ton yang tersebar di Sumatera, kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara.

"Kita terus mendorong program hilirisasi industri mineral untuk meningkatkan daya saing industri baja," katanya dalam acara munas ke-II Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA), di Jakarta, Kamis (12/12).

Ketua Umum IISIA Fazwar Bujang mengatakan, untuk meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri, industri besi dan baja nasional masih mengalami ketimpangan di hulu dan hilir. "Pertumbuhan pasar yang cepat, baik dari segi kuantitas maupun jenis, namun industri besi dan baja belim sekuat yang diharapkan. Kebanyakan industri baja di Indonesia masih lemah di hulu," ujarnya.

Fazwar juga meminta, agar peta industri besi baja nasional untuk menghadapi ASEAN Economic Community (AEC) 2015 untuk memperkuat struktur industri besi baja nasional. Karena itu, diperlukan alselerasi dan dukungan dari pemerintah, salah satunya melalui fasilitas perbankan dari sisi permodalan. Sedangkan di hilir, pemerinah perlu membuat kebijakan untuk mendorong masyarakat menggunakan produk besi dan baja dalam negeri.

Ketua Panitia Munas IISIA ke II Setiawan Surakusuma mengatakan, untuk bisa bersaing di pasar terbuka perlu peningkatan daya saing. Menurutnya, hal itu bisa diperoleh dengan memaksimalkan utilisasi kapasitas dari industri besi dan baja.

"Jika ada kebijakan pemerintah untuj mendorong pemakaian besi dan baja Indonesia dalam proyek dalam negeri akan meningkatkan utilisasi dan memberikan cost efficiency yang akhirnya meningkatkan daya saing, setidaknya di kawasan ASEAN," katanya.

Di 2012, kata dia, permintaan baja ditingkat nasional mencapai 13 juta ton per tahun. Artinya, jika di rata-rata konsumsi baja nasional adalah 40 kilogram per kapita per tahun. Angka ini masih sangat jauh dubandingkan dengan tingkat konsumsi baja di negara-negara maju yang rata-rata 600 kilogram perkapita pertahun.

Namun, dia bilang, asosiasi memproyeksikan konsumsi baja nasional akan meningkat menjadi 100 kilogram perkapita pertahun di 2020 nanti. Jika dihitung berdasarkan jumlah penduduk indonesia 250 juta jiwa maka total konsumsi baja nasional saat 2020 adalah 25 juta ton pertahun.

Penguatan Industri

Sebelumnya, IISIA mendorong pemerintah untuk ikut mendukung penguatan sektor industri tersebut melalui penyederhanaan sejumlah regulasi agar mampu bersaing menghadapi "ASEAN Economic Community" pada 2015.

Setiawan mengemukakan pemberlakuan AEC (Masyarakat Ekonomi ASEAN) 2015 akan membuka peluang produk besi dan baja dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara untuk masuk ke Indonesia dan bersaing dengan produk lokal. "Oleh karena itu, penguatan industri besi baja domestik dengan memanfaatkan pasar baja lokal menjadi hal yang sangat penting untuk meningkatkan daya saing pasar," katanya.

Hingga saat ini, produksi besi dan baja dalam negeri baru sekitar 7,2 juta ton, sementara kebutuhan nasional mencapai hampir 10 juta ton. Kekurangan stok tersebut harus dipenuhi melalui impor dari negara lain.

Namun, lanjut Setiawan, produksi besi dan baja Indonesia diperkirakan akan meningkat hingga mencapai 12 juta ton pada 2014 dan 15 juta ton pada 2015, seiring naiknya kebutuhan terhadap proyek-proyek pembangunan infrastruktur.

"Pemerintah memiliki peran sangat besar untuk meningkatkan daya saing besi baja, di antaranya melalui penyederhanaan regulasi impor bahan baku dan perizinan. Kalau itu bisa dilakukan, tingkat utilisasi besi baja domestik yang saat ini baru sekitar 60 persen bisa lebih meningkat," ujarnya. Setiawan menambahkan Vietnam menjadi salah satu negara yang pertumbuhan industri besi dan bajanya cukup bagus di Asia Tenggara.

Pada kesempatan sama, Co Chairman IISIA Ismail Mandry menambahkan sebagai negara kepulauan dengan jumlah penduduk yang cukup besar, Indonesia merupakan salah satu pasar potensial untuk produk besi dan baja di Asia Tenggara dan juga dunia.

"Kami ingin industri besi dan baja menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional, karena kebutuhan terhadap proyek infrastruktur dan manufaktur seperti pelabuhan, properti dan jembatan akan terus naik dalam beberapa tahun ke depan," katanya.

Program Rencana Induk Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang telah dicanangkan pemerintah menjadi peluang bagi sektor industri besi baja untuk meningkatkan produksi.

IISIA merupakan organisasi pelaku industri peleburan dan manufaktur besi dan baja yang dibentuk pada 9 September 2009 dan saat ini memiliki sebanyak 168 anggota. Organisasi ini dibentuk setelah melikuidasi Gabungan Asosiasi Produsen Besi dan Baja Seluruh Indonesia (GAPBESI). Setelah bergabung dalam IISIA, maka asosiasi lain seperti GAPSI (produk seng), GAPIPA (produk pipa), IPPAKI (paku dan kawat), ABBEPSI (besi beton), APBALSI (pemotongan baja lembaran), dan APBALI (produk baja lembaran) juga ikut dilikuidasi.

Related posts