Meski Melambat, Premi Asuransi Diprediksi Tetap Tumbuh

NERACA

Jakarta - Pertumbuhan premi pada 2014 mendatang diprediksi akan melambat. Namun tetap akan tumbuh sebesar 15%. Pasalnya kondisi ekonomi makro di tahun yang akan datang dinilai masih terus lemah. “Kami melihat ekonomi makro Indonesia tahun 2014 masih akan tetap lemah. Hal ini akan memperlambat generasi pertumbuhan premi asuransi. Tapi kami melihat pertumbuhannya masih bisa ditetapkan sebesar 15%,” kata Analis Penilaian Lembaga Keuangan PT Investment Credit Rating Agency (ICRA) Indonesia, Kreshna D Armand, di Jakarta, Rabu (11/12).

Dia mengungkapkan pada semester I 2013 ini saja pertumbuhan premi sudah menunjukan adanya penurunan. Pasalnya hingga Juni 2013 pertumbuhan premi baru mencapai 10%. Sedangkan pertumbuhan premi pada periode yang sama tahun 2012 mampu mencapai 13%. “Secara bijaksana premi asuransi perusahaan asurani umum saja baru membukukan total premi pada semester I sebesar Rp20,8 triliun sedangkan asuransi jiwa baru mencapai Rp57,6 triliun. Padahal pada periode yang sama tahun 2012 sudah bisa lebih dari itu,” tambah Kreshna.

Begitu juga dengan pertumbuhan kliam khususnya pada kendaraan bermotor. Hingga semester I tahun 2013, kliam asuransi kendaraan bermotor hanya meningkat sebesar 16,8%. Padahal pada periode yang sama tahun 2012 bisa mencapai 18,1%.

“Bertentangan dengan antisipasi awal, klaim asuransi kendaraan bermotor hanya meningkat sebesar 16,8%. Tapi industri secara keseluruhan masih terlihat tabah dengan terutama pemain-pemain utama yang masih memiliki banyak bantalan. Tapi juga perlu diingat sebagian besar asuransi kendaraan memang musti dipertahankan,” tutur Kreshna.

Untuk itu, pada 2014 Kreshna mengingatkan agar para pelaku industri asuransi menyiapkan rasio kecukupan modal yang seperti yang sudah ditetapkan yaitu Rp100 miliar. Pasalnya penetrasi pasar di tahun yang akan datang masih terlihat rendah. Sedangkan kemungkinan klaim kemungkinan akan meninggi.

“Diharapkan pada pelaku industri asuransi dapat memenuhi ketentuan minimum kecukupuan modal atau setidaknya ada peningkatan ekuitas sesuai yang dibutuhkan. Hal ini perlu dilakukan untuk menghindari kemungkinan gulung tikar akibat tidak sanggup bayar klaim. Ini juga merupakan himbauan dari pihak regulator,” ungkap Kreshna.

Perlu diketahui, kata Kreshna untuk tahun depan asuransi properti, kendaraan bermotor dan kecelakaan masih mendominasi binsis asuransi. Bahkan ia melihat sudah ada beberapa perusahaan asuransi umum yang menetapkan 70% pertumbuhan preminya pada tahun 2014 diperuntukan pada sektor-sektor tersebut.

“Tapi juga lihat bahwa di tahun 2014 pemerintah akan belakukan BPJS. Kita harus lihat dampaknya terhadap industri. Apakah ada pengaruhnya langsung terhadap kinerja perusahaan asuransi umum. Karena mereka akan memperebutkan segmen yang sama,” tukas Kreshna. [lulus]

BERITA TERKAIT

Peran Asuransi dalam Pencapaian SDGs

Oleh: Bahtiar Fitkhasya Muslim, Kepala Subbidang Kebijakan Asuransi, Dana Pensiun, dan Penjaminan Syariah, BKF Pada tahun 2015, 193 negara mengadopsi Sustainable…

Tumbuh 10%, Industri Minuman Didorong Terapkan Standar Hijau - Manufaktur

  NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus mendorong sektor manufaktur di Indonesia untuk menerapkan konsep industri hijau. Upaya ini sejalan…

Pendapatan Toba Bara Tumbuh 43,95%

Di kuartal tiga 2018, PT Toba Bara Sejahtra Tbk (TOBA) membukukan pendapatan sebesar US$ 304,10 juta, naik 43,95% dari periode…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Tol Trans Jawa, Jakarta-Surabaya Ditempuh 10 Jam

    NERACA   Surabaya - Waktu tempuh antara Jakarta ke Surabaya yang berjarak 760 kilometer dapat ditempuh paling lama…

93 Juta Sedotan Digunakan Setiap Harinya

    NERACA   Jakarta - Sebanyak 93 juta batang sedotan plastik digunakan dalam sehari di seluruh Indonesia yang akan…

Sebelum ERP Diterapkan, Ganjil Genap Tetap Berlaku

      NERACA   Jakarta - Kepala Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Bambang Prihantono menyatakan kebijakan ganjil-genap akan terus belaku…