Risiko dan Prediksi Perekonomian 2014

Berdasarkan pergerakan indikator-indikator makro hingga September 2013, FOB-USBI memproyeksikan bahwa pertumbuhan PDB riil Indonesia adalah 5,49% di 2013 dan 5.27% di 2014, “Tingkat pertumbuhan ini dapat berubah seiring perkembangan lingkungan eksternal,” tutur Dr. Wahyoe Soedarmono.

Pada skenario pesimistis, tingkat pertumbuhan diperkirakan hanya sebesar 4,62% di 2013 dan 4,88% di 2014. Skenario pesimistis di antaranya dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko yang terjadi secara bersamaan. Pertumbuhan ekspor akan sedikit menurun dikarenakan prospek pertumbuhan di negara tujuan ekspor dari Indonesia, tidak terjadi sebagaimana yang diharapkan.

Selanjutnya, eskalasi harga minyak dunia akibat gejolak politik di Timur Tengah akan berpengaruh pada kenaikan defisit neraca berjalan, meskipun impor minyak sedikit dibatasi. Kenaikan defisit neraca berjalan akan direspon oleh peningkatan aliran modal asing keluar, turunnya cadangan devisa, dan meningkatnya inflasi. BI rate dapat meningkat secara signifikan pada situasi ini, hingga menghambat investasi dan menekan potensi pertumbuhan.

Di saat yang sama, kebijakan stimulus fiskal di Jepang pada awal 2014 juga dapat mempengaruhi depresiasi rupiah terhadap dollar AS. Terkait kondisi Amerika dan Eropa pascakrisis, beberapa kebijakan dari kedua benua tersebut dapat dengan mudah membuat aliran modal asing keluar dari Indonesia dalam waktu singkat. Apabila gejolak finansial tersebut terjadi, BI rate juga dapat terus meningkat.

Dr. Wahyoe Soedarmono lebih lanjut menekankan bahwa skenario yang lebih optimistis menunjukkan bahwa Indonesia dimungkinkan dapat tumbuh hingga 5,91% di 2013 dan 5,85% di 2014. Hal ini terjadi apabila depresiasi rupiah dapat mendorong ekspor produk-produk bernilai tambah sehingga memperbaiki cadangan devisa Indonesia dan membuat defisit neraca berjalan turun.

“Penurunan defisit neraca berjalan akan meningkatkan kepercayaan investor asing. Apabila investasi asing dalam bentuk FDI dapat mendominasi struktur investasi asing di Indonesia, maka investasi agregat juga akan turut meningkat,” kata dia.

Related posts