Total Pembiayaan BNI Syariah Tumbuh 50% - Per November 2013

NERACA

Jakarta - PT Bank Negara Indonesia Syariah membukukan total pembiayaan sebesar Rp10,95 triliun per November 2013 atau tumbuh 50% dibanding periode yang sama 2012."Total pembiayaan tumbuh sekitar 180% dibanding posisi saat spin off(lepas dari induk usaha) pada 2010 sebesar Rp3,26 triliun," kata Direktur Utama BNI Syariah, Dinno Indiano di Jakarta, Rabu (11/12).

Dia menyebutkan total aset pada saat pemisahan dari induk mencapai Rp5,32 triliun dan per November 2013 mencapai Rp14,55 triliun.Sementara itu total dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp11,91 triliun atau tumbuh 35,92% dibanding November 2012 yang mencapai sebesar Rp8,76 triliun.

Jumlah tersebut berasal dari 1.010.319 rekening per November 2013 sementara per November 2012 baru mencapai 760.789 rekening.Per November 2013, DPK berupa Giro mencapai 1,51 triliun, tabungan 4,75 triliun dan deposito Rp4,89 triliun.Terkait pembiayaan ke sektor mikro, BNI Syariah menargetkan pembiayaan ke sektor itu hingga mencapai Rp1,2 triliun pada 2014 dibanding posisi per November 2013 sebesar Rp803,94 miliar.

"Tahun depan kami akan menambah 20 outlet mikro dari jumlah saat ini 81 outlet," tambahnya. Dia punmenyebutkan, jika satu outlet atau gerai dapat menyalurkan pembiayaan sekitar Rp15 miliar maka total penyaluran pembiayaan akan mencapai sekitar Rp1,2 triliun.Menurut dia, target pembiayaan BNI Syariah akan lebih besar dari target penyaluran kredit BNI sehingga pertumbuhan perbankan syariah akan lebih tinggi.

Dana haji

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk, Gatot Murdiantoro Suwondo, mengatakan pihaknya akan mengkaji kucuran tambahan modal kepada BNI Syariah sebesar Rp500 miliar pada tahun depan. Sehingga total modal salah satu anak usaha BNI ini menjadi Rp1,5 triliun.

"Mereka (BNI Syariah) memang mengusulkan tambahan modal. Kami akan mengkaji usulan itu," kata Gatot. Selain itu, diamengakui BNI memang akan menyalurkan dana sebesar Rp500 miliar kepada BNI Syariah, yaitu dana haji yang sesuai permintaan Kementerian Agama harus dikelola oleh bank syariah. Saat ini, BNI mengelola dana haji sekitar Rp3,5 triliun.

"Rencananya Rp500 miliar dahulu. Tidak langsung semua, jadi bertahap," terangnya. Perseroan masihmenunggu kepastian dari pemilik dana yaitu Kementerian Agama dalam transfer dana haji dari bank konvensional ke bank syariah."Yang jelas BNI dan BNI Syariah sudah menyiapkan nota kesepahaman pengalihan dana haji itu dari bank konvensional ke bank syariah," tegas dia.

SementaraDirektur Bisnis BNI Syariah, Imam Teguh Saptono menambahkan, dalam konteks bisnis, modal BNI Syariah saat ini masih cukup. Namun, penambahan modal ini dalam rangka untuk memudahkan kemungkinan menghadapi 'shock' karena pada 2014-2015 kondisinya diperkirakan tidak lebih baik dari sekarang.

Dia menyebutkan dengan adanya tambahan modal maka bank akan lebih mudah menghadapi kemungkinan kondisi buruk yang dialami.Imam menjelaskan, ada dua pilihan untuk mendapatkan tambahan modal yaitu tambahan dari induk perusahaan (BNI sebagai induk usaha) atau melalui mitra strategis (strategic partner).

Menurut Imam, tambahan modal melalui strategic partnerlebih menguntungkan dibanding kucuran dari induk atau melalui penjualan saham di pasar modal (initial public offering/IPO)."Melalui strategic partner akan ada 'transfer skill' sementara melalui IPO hanya akan mendapat modal saja," tandasnya. [ardi]

Related posts