Tren dan peluang perekonomian Indonesia di tahun 2014 - Menghadapi Risiko, Memaksimalkan Peluang

Tren dan peluang perekonomian Indonesia di tahun 2014, pelaku bisnis diharapkan mampu mempersiapkan dan menyusun strategi bisnis yang tepat melalui pemetaan kondisi perekonomian Indonesia.

NERACA

Menuju penghujung 2013, perekonomian global masih diliputi ketidakpastian. Gejolak terbesar dirasakan oleh Indonesia sejak pertengahan 2013 saat Amerika mengumumkan penghentian program ekspansi moneter atauquantitative easing(QE), yaitu pembelian surat berharga pemerintah senilai US$ 85 miliar per bulan yang dilakukan sejak 2008.

“Sementara, gejolak yang dirasakan Indonesia mulai menurun pasca penutupan pemerintah AS (government shutdown) pada 1-16 Oktober 2013 yang membuat kebijakan QE kembali dilakukan oleh AS,” kata Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Siswa Bangsa Internasional, Prof.Dr. Adler H Manurung.

Namun, menurunnya tekanan eksternal bukan berarti membuat Indonesia berada pada posisi aman. Pelemahan ekonomi masih terus terjadi, khususnya setelah neraca transaksi berjalan mengalami defisit hingga 4,4% PDB pada kuartal kedua 2013, seiring harga komoditas dunia yang meningkat, seperti harga bahan bakar minyak.

Pemerintah kemudian mengeluarkan paket kebijakan pada Agustus 2013 yang di antaranya bertujuan mendorong investasi asing langsung (FDI), memperkuat ekspor dan sektor-sektor yang berkontribusi terhadap peningkatan lapangan kerja, membatasi impor seperti impor bahan bakar minyak, serta mendorong stabilisasi inflasi melalui pembatasan impor berbasis harga untuk beberapa produk seperti daging sapi dan hortikultura.

Paket-paket kebijakan tersebut konsisten dengan prospek pemuliahan ekonomi yang terjadi di negara-negara tujuan ekspor utama dari Indonesia, seperti Jepang, Cina, AS, Singapura, dan Korea Selatan. Pada akhir Oktober 2013, pemerintah kembali mengeluarkan paket kebijakan untuk mempermudah proses ekspor-impor, dan juga untuk mengakses layanan publik.

Defisit neraca berjalan kemudian diikuti oleh menurunnya devisa asing yang turun dari 104 miliar dollar AS pada Januari 2013 menjadi US$ 95,7 miliar pada September 2013, dan sedikit menguat di US$ 96,9 miliar pada akhir Oktober 2013.

Namun, menguatnya cadangan devisa tidak serta merta diikuti oleh penguatan rupiah. Rupiah terus melemah dari kisaran 9.700 per dollar AS pada Mei 2013 hingga ke 11.700 pada akhir November 2013. Terhadap dollar AS, depresiasi rupiah adalah yang terdalam dibandingkan depresiasi mata uang negara-negara ASEAN.

Tekanan inflasi pun turut meningkat dari 5,47% (Mei 2013) hingga 8,32% (Oktober 2013). Peningkatan BI rate yang dilakukan secara bertahap dari 5,75% pada Mei 2013 hingga ke level 7,5% sejak pertengahan November 2013, belum menunjukkan efektivitasnya dalam meredam depresiasi rupiah maupun inflasi, khususnya setelah kenaikan upah minimum regional di beberapa daerah di Indonesia sejak Oktober 2013.

Prof.Dr. Adler H Manurung menambahkan bahwa pada sisi sektor finansial, instabilitas indikator makro diikuti pula oleh volatiltas IHSG, meskipun terdapat perbedaan kinerja indeks pada lintas sektoral. Sektor-sektor yang tumbuh signifikan di pasar modal dari awal 2013 hingga Oktober 2013 adalah infrastruktur dengan kenaikan indeks sebesar 9,9%, disusul oleh perdagangan (7,8%), keuangan (6,2%), dan manufaktur (5,4%).

“Sebaliknya, sektor pertambangan mengalami penurunan indeks terbesar mencapai 18,8%, disusul oleh pertanian (11,1%), aneka industri (6,2%), dan industri dasar (4,9%),” papar dia.

Seiring melemahnya indikator makro dan volatilitas di pasar finansial, imbal hasil surat berharga pemerintah juga meningkat. Soal ini, Wahyoe Soedarmono, kepala Pusat Penelitian Perbankan Universitas Siswa Bangsa Internasional mencontohkan, surat berharga pemerintah tenor 10 tahun yang mengalami peningkatan signifikan dari Januari hingga Oktober 2013, sebesar 290 basis poin menuju level 7,3%.

“Peningkatan ini berarti investasi pada surat berharga pemerintah dapat dipandang menarik, meskipun dari sisi pemerintah, peningkatan ini juga berarti semakin naiknya biaya utang untuk belanja pembangunan,” tambah dia.

Sementara terkait dengan sektor perbankan, Wahyoemengungkapkan bahwa kinerja perbankan tetap optimistis dengan rasio kredit macet di bawah 3%, meski kondisi makro berada dalam ketidakpastian.

Rasio kecukupan modal juga mencapai kisaran 20%, di saat regulasi rasio modal minimum hanya mewajibkan bank membuat cadangan modal sebesar 8-14%. Hal yang perlu mendapat perhatian khusus adalah pertumbuhan kredit investasi yang sangat signifikan dari 22% pada Mei 2013 (year-on-year) mencapai level 33% sejak Juni 2013 (year-on-year). "Sejak Juni 2013 pula, sektor konstruksi adalah sektor dengan rasio kredit macet paling besar di antara sektor-sektor ekonomi lainnya,” kata dia.

Lebih lanjut, Wahyoe menuturkan bahwa pertumbuhan kredit investasi dan peningkatan rasio NPL pada sektor konstruksi mengindikasikan bahwa risiko sistemik sedang terbentuk di Indonesia, sebab tren tersebut diikuti oleh kenaikan harga properti di beberapa kota besar di Indonesia. Meskipun, tingkat kenaikan tersebut dipengaruhi oleh tipe rumah dan kota lokasi. Misalnya, data BI menunjukkan bahwa kenaikan indeks harga properti residensial terjadi di Jabodebek-Banten, khususnya untuk tipe perumahan kecil, dengan kenaikan hingga 23,53% hingga kuartal III-2013.

“Pada kuartal IV-2013 diperkirakan bahwa harga tipe perumahan kecil di Jabodebek-Bantennaik hingga 29,55%,” imbuh dia

Related posts