2014, Pertumbuhan Multifinance di Bawah Dua Digit

NERACA

Jakarta - Pertumbuhan bisnis perusahaan pembiayaan pada tahun 2014 diprediksi tidak sampai dua digit. Pasalnya menjelang akhir tahun 2013 saja kinerja pembiayaan terlihat melambat. Meski begitu indutri tersbeut tetap dinilai menarik. “Pertumbuhan bisnis industri pembiayaan di tahun 2014 porsentasenya tidak akan sampai double digit. Kalau kita lihat sekarang saja pertumbuhannya sudah stagnan. Bahkan mulai melambat,” kata Analis Penilaian Lembaga Keuangan PT Investment Credit Rating Agency (ICRA) Indonesia, Kreshna D Armand, di Jakarta, Rabu (11/12).

Dia memaparkan hingga Oktober 2013 ini rata-rata pertumbuhan pembiayaan kendaraan roda empat baru mencapai 10,5%. Padahal pada periode yang sama tahun 2012 sudah mencapai 23,8%. Dengan kondisi ekonomi kedepan yang semakin tidak stabil maka dapat dipastikan pertumbuhan pembiayaan akan menurun lagi. “Untuk pembiayaan kendaraan roda dua memang mengalami peningkatan dari Oktober 2012 yang minus 13,8% menjadi positif 9,2% pada OKtober 2013. Tapi pertumbuhan itu belum berarti. Mengingat kenaikannya tidak seimbang dengan penurunannya,” terang Kreshna.

Lebih jauh Kreshna mengatakan jika pekan ini Bank Indonesia (BI) kembali menaikan suku bunga acuannya maka dapat dipastikan juga akan menjadi beban tambahan bagi kinerja perusahaan pembiayaan. Pasalnya dengan naiknya BI rate maka sisi pendanaan industri tersebut akan semakin berat. Karena dengan naiknya BI rate maka likuiditas yang ada di pasar akan menjadi sangat ketat mengingat BI rate sudah ada di level 7,5%.

“Strateginya mereka akan mempertahankan spread pembiayaannya yang sudah ada. Kedua, mereka tidak akan mematok target pertumbuhan yang lebih tinggi lagi di tahun 2014. Kedua hal itu otomatis terjadi jika BI rate tetap naik,” ungkap Kreshna. Dia juga menilai para pelaku industri pembiayaan di tahun 2014 akan lebih bersikap wait and see. “Memang mereka akan wait and see banget di tahun 2014. Sehingga kita melihat perusahaan multifinance akan lebih banyak bertindak banyak di konsolidasi saja. Misalnya melakukan pembangunan sistem, IT, dan hal-hal yang menunjang lainnya saja," jelasnya.

Meski begitu Kreshna melihat industri multifinance akan tetap menarik di tahun 2014. Meskipun persaingan likuditas akan memperketat konsumsi masyarakat. Bahkan resiko pertumbuhan NPL juga dapat semakin tinggi. “Masalah suku bunga juga memainkan peran penting sedangkan volatilitas harga bahan bakar dan harga komoditas dapat dianggap sebagai faktor eksternal. Sangat penting perusahaan multifinance harus melihat beban dan kesanggupan mereka dalam mengatasi potensi turbulensi dalam perekonomian,” tukas Kreshna. [lulus]

BERITA TERKAIT

Dunia Usaha - Pasar Masih Potensial, Pertumbuhan Industri Kacamata Dipacu

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus mendorong tumbuhnya industri kacamata di dalam negeri melalui peningkatan investasi. Di samping itu juga…

Hary Tanoesoedibjo & Jokowi Bicarakan Pembangunan Ekonomi dengan Pertumbuhan 7%-8%

JAKARTA, Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo bertemu Presiden RI Joko Widodo membahas pembangunan ekonomi Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta.…

Ekspor Toyota Indonesia Masih Tumbuh Dua Persen

Di tengah ketegangan perdagangan global yang dipicu konflik dagang Amerika Serikat dan Cina, Toyota Indonesia masih mampu mencatat pertumbuhan ekspor…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

BRI Syariah dan Paytren Lanjutkan Kerjasama

      NERACA   Jakarta - Anak perusahaan Bank Rakyat Indonesia (BRI), BRI Syariah dan Paytren lanjutkan kolaborasi terkait…

Bank Bukopin Siapkan Rp1 Triliun untuk Pembiayaan Kendaraan

    NERACA   Jakarta - PT Bank Bukopin Tbk (Bukopin) menyiapkan kredit modal kerja hingga Rp1 triliun untuk pembiayaan…

BI Tahan Suku Bunga Acuan

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan suku bunga acuan sebesar enam persen pada rapat…