Produksi Rendah, Kertas Basuki Revitalisasi Mesin

NERACA

Jakarta- PT Kertas Basuki Rachmat Indonesia Tbk (KBRI) akan melakukan revitalisasi Paper Machine No.1 (PM-1). Hal tersebut dilakukan mengingat terbatasnya ketersediaan bahan baku afval di pasaran yang pada akhirnya menyebabkan rendahnya hasil produksi PM-1. “Rencana untuk memodifikasi PM-1 bertujuan agar PM-1 mampu memproduksi jenis kertas lain dengan kualitas dan nilai tambah yang lebih tinggi,” kata Sekretaris Perusahaan KBRI, Budi Priyadi di Jakarta, Rabu (11/12).

Menurut dia, dalam upaya revitalisasi mesin tersebut pihaknya akan menggunakan Deinking Plant sehingga bahan baku PM-1 bisa menjadi lebih mudah didapat di pasaran dan tentunya dengan harga yang lebih murah. “Kami akan gunakan Deinking Plant agar lebih mudah mendapatkan bahan baku lebih mudah dan hasilnya nanti memiliki kualitas yang tinggi,” jelasnya.

Untuk merealisasikan rencana tersebut, sambung dia, perseroan membutuhkan dana sebesar Rp 70 miliar. Sumber pendanaannya sendiri telah diperoleh perseroan dari pinjaman perbankan. "Kami telah dapat fasilitas kredit dari Bank Capital untuk melancarkan aksi kami tersebut," ujarnya.

Dia menyebutkan, kapasitas terpasang PM-1 saat ini mencapai 10 ribu ton per tahun. Sedangkan, sampai dengan periode September 2013 hasil produksi PM-1 sebesar 5.044 ton atau lebih kecil 30% dari rencana, sehingga mengakibatkan naiknya biaya produksi sebesar Rp 316 per kilo gram (Kg), atau 21% dari rencana. Hal tersebut disebabkan terbatasanya ketersedianya bahan baku afval di pasar sehingga mengakibatkan terganggung pasokan bahan baku.

Diketahui, pada periode sembilan bulan tahun ini perseroan mencatatkan penurunan pendapatan usaha sebesar 70% menjadi Rp10,46 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp34,86 miliar. Jumlah produksi juga mengalami penurunan menjadi 5.044 ton hingga September 2013 dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5.484 ton. Terjadinya penurunan tersebut ditengarai karena adanya perubahan pola produksi yang dilakukan perseroan dari produksi ke makloon. “Kebutuhan modal kerja untuk proses mandiri lebih besar dari proses produksi makloon.” tegas Budi.

Sementara beban pokok perseroan pada September 2013 juga mengalami penurunan secara signifikan mencapai 73,90%, menjadi Rp9,71 miliar dari tahun sebelumnya sebesar Rp.37,20 miliar. laba kotor perseroan menjadi Rp746 juta dari sebelumnya mencatatkan rugi kotor sebesar Rp2,34 miliar. Meski demikian, rugi komprehensif yang dicatatkan perseroan hingga September 2013 masih sebesar Rp13,32 miliar, dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencatatkan laba komprehensif sebesar Rp47,45 miliar.

Selain produksi yang masih rendah dari PM-1, kata dia, pihaknya juga mengalami kendala dalam menyelesaikan Paper Machine No.2 (PM-2). Salah satunya terkait pembatasan kredit valas dari perbankan, terutama terhadap perusahaan yang baru akan memasuki ekspor. “Perseroan masih melanjutkan proses pencarian dana ke perbankan atau mencari investor untuk menyelesaikan PM-2.” imbuhnya. (lia)

Related posts