Bisnis dalam MEA 2105 Dianggap Menggiurkan

NERACA

Jakarta – Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan mulai pada 2015 dianggap menjadi peluang bisnis yang sangat menggiurkan. Pasalnya, ketika MEA sudah diterapkan maka segala bentuk perdagangan dan jasa akan mudah masuk ke negara-negara ASEAN. Hal tersebut seperti yang diungkapkan Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi di Jakarta, Rabu (11/12).

Menurut Bayu, dengan adanya MEA maka memberikan peluang bisnis yang menjanjikan dan adanya MEA juga menjadi kesempatan bagi pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) untuk bisa berekspansi ke seluruh kawasan di ASEAN. “Kalau UKM, produk Indonesia cukup berkualitas. Mulai tekstil, garmen atau tas,” jelasnya.

Bayu beralasan dengan MEA maka seluruh negara di ASEAN akan terintegrasi jadi satu. Setidaknya 600 juta penduduk di ASEAN akan menjadi bagian dari MEA 2015 merupakan pasar yang cukup potensial dan menantang. “Dan, Indonesia memiliki jumlah penduduk terbesar yakni 40% dari keseluruhan,” ucapnya.

Selain itu, lanjut Bayu, jumlah industri kelas menengah kecil alias UKM di Indonesia adalah terbesar. Data Kementerian Perdagangan, jumlahnya lebih dari 56 juta unit. “Diantara itu, terdapat 2.700 UKM yang masuk kategori stabil. Maksudnya, UKM yang mempunyai prospek bisnis berkelanjutan,” pungkas Bayu.

Perdagangan Defisit

Sampai dengan Oktober 2013, neraca perdagangan dengan neraga-negara ASEAN tercatat masih defisit. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) perdagangan non migas Indonesia terhadap negara-negara ASEAN pada Oktober 2013 ini mengalami defisit senilai US$10,5 juta. “Perubahan Oktober 2013 terhadap September 2013 Indonesia mengalami penurunan ekspor senilai US$10,5 juta terhadap negara-negara ASEAN. Begitu juga jika melihat perbandingan Januari hingga Oktober 2013 yang baru mencapai US$25,157 juta sedangkan pada periode yang sama 2012 sudah mencapai US$25,773 juta. Artinya ada penurunan sebanyak US$616 ribu secara year on year,” kata Ketua BPS Suryamin.

Secara rinci perdagangan Indonesia terhadap Singapura pada periode Oktober 2013 mengalami penurunan sebanyak US$77,5 juta. Pasalnya pada Oktober ini Indonesia baru mampu menjual komoditas dalam negeri kepada Singapura senilai US$756 juta. Padahal pada September 2013 mampu mencapai US$833,5 juta.

“Tapi kalau melihat periode Januari hingga Oktober 2013, Indonesia mampu mendapat devisa ekspor hingga US$8.673 juta terhadap Singapura. Padahal pada periode yang sama di tahun 2012 baru mencapai US$8.486,1 juta,” tutur Suryamin.

Kemudian tak jauh beda dengan neraca perdangan ekspor terhadap Malaysia. Jika dilihat perbandingan antara Oktober 2013 dengan September 2013, nilai ekspor dalam negeri mengalami surplus sebanyak US$23,6 juta. Pasalnya pada Oktober 2013 nilai ekspor ke Malaysia mampu menembus US$600,2 juta. Sedangkan pada September 2013 baru mencapai US$576,6 juta.

“Namun jika melihat perbandingan antara Januari hingga Oktober 2013 terhadap periode yang sama di tahun 2012, perdagangan ekspor dengan Malaysia mengalami penurunan. Pada periode tersebut di tahun 2012 ekspor mampu mencapai US$7.147,3. Sedangkan di tahun 2013 baru mencapai US$6.108 juta. Artinya ada selisih penurunan sebanyak US$1.039,3 juta,” terang Suryamin.

Begitu juga dengan Thailand, ekspor non migas pada Oktober 2013 mengalami penurunan menjadi US$429,2 juta. Padahal pada September 2013 sudah mencapai US$439 juta. Artinya ada selisih penurunan sebanyak US$9,8 juta.

“Bila melihat periode Januari hingga Oktober 2013, perdangan ekspor dalam negeri terhadap Thailand baru mencapai US$4.418,8 juta. Sedangkan pada periode yang sama di tahun 2012 sudah mencapai US$4.575 juta. Artinya secara year on year ada selisih penurunan sebanyak US$156,2 juta,” tutur Suryamin.

Pengamat Ekonomi dari Universitas Brawijaya Prof Dr Ahmad Erani Yustika mengungkapkan kalau Indonesia ini memang tidak siap menghadapi menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 nanti. “Dari data yang dilansir BPS, kalau saat ini kita mengalami defisit neraca perdagangan terhadap negara ASEAN sudah sangat jelas kalau pemerintah tidak bekerja dan melakukan pembohongan publik terhadap masyarakat, kalau mengatakan Indonesia siap menghadapi MEA nanti,” tegas Erani.

Lebih lanjut Erani mengatakan Indonesia hanya akan dijadikan sebagai pasar produk impor dari negara-negara tetangga. Karena itu, sebaiknya pemerintah mengurungkan niatnya gabung ke MEA. Dia meyakini, MEA hanya akan menguntungkan Singapura karena memiliki struktur industri dan perdagangan yang baik.

Direktur Eksekutif IGJ Riza Damanik mengatakan data dari BPS memperlihatkan bahwa pemerintah telah gagal dalam mengelola perdagangan non migas. “Melihat kondisi perekonomian Indonesia yang sudah dilaporkan ini, maka mustahil bagi Indonesia untuk bersaing dengan negara ASEAN lainnya,” ujarnya kepada Neraca.

Menurut dia, data defisit perdagangan tersebut memperlihatkan Indonesia akan kalah bersaing dengan negara-negara ASEAN. Riza pun menjelaskan seharusnya Indonesia sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi persaingan dalam MEA sehingga dapat menjadi kekuatan yang diperhitungkan oleh negara ASEAN lainnya.

Indonesia janganlah hanya menjadi suatu market atau pasar saja bagi negara-negara ASEAN lainnya, namun harus menjadi suatu kekuatan ekonomi di kawasan ASEAN. “Indonesia merupakan salah satu penggagas berdirinya Asean, oleh karenanya, Indonesia harus menjadi kekuatan ekonomi yang besar di kawasan ASEAN, ” tutur dia.

Related posts