Pasar Obligasi dan Saham Kurang Menarik - Jika BI Rate Kembali Naik

NERACA

Jakarta – Bank Indonesia di indikasikan bakal kembali menaikkan acuan suku bunga bank atau BI Rate untuk meredam gejolak melemahnya nilai tukar rupiah. Hal inipun diakui langsung oleh Presiden Direktur Bondri Tumpal Sihombing.

Dirinya berpendapat bahwa ada arah BI Rate bakal dinaikan kembali pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada Kamis ini. Namun dia berharap kenaikan ini tidak akan terjadi karena akan mengguncang pasar modal dan obligasi,”Jika dinaikan setengah persen akan membuat obligasi dan pasar saham menjadi kurang menarik. Alasannya, karena akan ada penarikan dana dari capital market ke money market”, katanya kepada Neraca di Jakarta, kemarin.

Dia menuturkan, bila Bank Sentral menaikkan BI Rate, maka dipastikan akan ada perebutan dana masyarakat antara obligasi dan deposito yang memiliki resiko dan imbal hasil yang setara. Selain itu, dia berharap jika BI akan menaikan BI Rate lagi, harus dipikirkan sebaik-baiknya. Pasalnya, pelemahan rupiah yang terjadi tidak kembali naik dengan BI Rate yang dinaikan, “Ini urusan fiskal dan seharusnya ini bukan menjadi tugas BI. Karena setinggi apapun dinaikan, rupiah tidak akan menguat”,tandasnya.

Dia menambahkan, jika rupiah bisa bertahan selama 6 bukan diposisi Rp11.000-Rp12.000 karena cadangan devisa, setelah itu cadangan devisa negara akan kebobolan. Sementara itu, pada tahun depan dirinya menilai obligasi akan kurang menarik jika kenaikan BI rate menjadi 8%. Nantinya obligasi akan terlalu beresiko dan kondisinya tidak akan seaman semester pertama 2013.

Pengamat pasar modal dari Recapital Asset Management Pardomuan Sihombing pernah bilang, kenaikan BI rate akan berdampak negatif terhadap perkembangan pasar modal. Tidak terkecuali, bagi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). “Jika BI Rate kembali dinaikkan, mungkin ini langkah yang harus dilakukan untuk menekan currant account deficit. Tapi dengan begitu, ekonomi akan melambat dan dampaknya pada kinerja emiten,”ujarnya.

Menurutnya, dengan dinaikkannya suku bunga, tentunya akan menaikkan biaya produksi dan berpotensi memangkas pertumbuhan laba emiten sehingga berpengaruh terhadap pergerakan harga sahamnya di pasar.“Seharusnya yang diharapkan pelaku pasar itu tetap, bahkan diturunkan karena jika kembali dinaikkan akan menambah biaya produksi yang ditanggung perusahaan atau emiten. Karena itu, pelaku pasar masih dalam posisi wait and see sampai jelang rapat dewan gubernur BI pada 12 Desember.” jelasnya.

Namun, jika suku bunga diturunkan, menurut dia, biaya produksi yang harus ditanggung emiten tentunya juga akan terdorong mengalami penurunan. Dengan begitu perusahaan bisa mendorong peningkatan produknya untuk ekspor. Dia pun memproyeksikan, jika BI benar kembali menaikkan BI rate maka posisi IHSG hanya akan bergerak stagnan atau bahkan melemah.

Sektor-sektor yang tentunya akan terpengaruh dengan kenaikan BI rate, antara lain sektor domestik, sektor keuangan, pembiayaan dan perbankan, juga properti. Termasuk sektor-sektor yang memiliki kewajiban yang besar. “Kalau dinaikkan (BI rate), mungkin bisa di level 4.100-4.200. Tapi kalau tetap, mungkin bisa sedikit lebih optimis di level 4.400,”ungkapnya. (nurul)

Related posts