Ditjen Perikanan Budidaya Usung 4 Strategi - Pacu Penyerapan Teknologi

NERACA

Jakarta – Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggeber sosialisasi penyerapan teknologi yang dihasilkan oleh pemerintah dan para peneliti dengan menggunakan empat strategi.

Keempat strategi itu, menurut Dirjen Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto, adalah pertama, peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) di sektor perikanan. “Pertama dengan peningkatan kapasitas SDM. Dengan pelatihan-pelatihan. Dengan pembinaan-pembinaan langsung. Dengan pendampingan di masyarakat,” ujar Slamet kepada wartawan usai acara Dialog dan Ramah Tamah Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Bersama Pemenang Lomba Kelompok dan Kelembagaan Bidang Perikanan Budidaya di Jakarta, Selasa (10/12).

Strategi kedua, lanjut Slamet, DJPB membuat tambak-tambak percontohan yang menerapkan teknologi terapan. Tambak percontohan (demonstration farm atau biasa disingkat demfarm) kini banyak tersebar di kawasan pembudidayaan ikan di seluruh Indonesia.

Adapun strategi ketiga, sambungnya, dengan melakukan beragam sosialisasi teknologi ke para petambak. “Di setiap tempat kita lakukan sosialisasi, misalnya, bagaimana suatu teknologi sudah diciptakan dan diserap masyarakat. Ini banyak kita lakukan untuk mempercepat teknologi di masyarakat,” jelasnya.

Yang terakhir, atau strategi keempat, menurut Slamet, DJPB telah melakukan berbagai kerjasama dengan para pemangku kepentingan (stakeholder). “Sekarang kita kerjasama dengan SCI (Shrimp Club Indonesia-red). Kerjasama dengan pembenihan. Kita juga bentuk kelompok-kelompok pembudidaya tradisional. Mereka juga sebagai kelompok yang memudahkan pemerintah mentransfer teknologi pada masyarakat,” tambahnya.

Memang, tandas Slamet, ransfer teknologi perikanan kepada masyarakat masih lamban. Itu sebabnya, pihaknya terus menggenjot percepatan pembinaan kepada para petambak. Dia pun mengakui, pemerintah kekurangan tenaga atau SDM untuk secara total membina para produsen ikan. “Mereka (para pemenang lomba) sebagai pelopor sebagai tenaga untuk membantu dalam rangka mendampingi di masyarakat. Sehingga kita harapkan, akan mempercepat tingkat penyerapan yang ada di masyarakat dengan teknologi,” ujar Dirjen Slamet.

Slamet berharap, dengan beragam upaya yang dia lakukan, penyerapan teknologi sebagai jawaban atas tuntutan efisiensi produksi dan peningkatan produksi segera cepat dilakukan. “Dalam waktu dekat ini kita berharap teknologi dapat terserap dalam masyarakat. Teknologi terus kita ciptakan terus. kalau tidak secepatnya disosialisasikan, diserap masyarakat, ini akan percuma saja. Jadi sekarang kita balik. Kegiatan perekayasaan di perikanan budidaya ini harus diimbangi dengan pembinaan, pendampingan, dan pelayanan kepada masyarakat. Ini terus kita lakukan,” papar Slamet.

Pembudidaya Tradisional

Pada kesempatan ini, Slamet juga menggarisbawahi pembinaan para pembudidaya tradisional. Dengan penerapan teknologi, pemerintah, kata Slamet, tidak bermaksud untuk menghilangkan para pembudidaya tradisional, melainkan meningkatkan kelasnya menjadi pembudidaya tradisional plus bahkan lebih dari itu.

“Di masyarakat sudah ada banyak pembudidaya. Ada kelas-kelas. Ada kelas tradisional. Tapi mereka harus berkelompok untuk membudahkan pembinaan. Ke depan lagi, akan meningkat lagi, yang tadinya tradisional menjadi tradisional plus. Menjadi pembudidaya yang intensif, ke depan menjadi supra intensif,” urainya.

Pergeseran kelas tersebut, dimaksudkan Slamet untuk lebih memberdayakan para pembudidaya yang tradisional, mengedukasi mereka, dan tidak membiarkan mereka begitu saja. “Mereka diberi pengetahuan-pengetahuan memilih benih yang bagus, bagaimana mereka memilih air agar tidak tertularkan penyakit dari satu farm ke tempat yang lain,” terang Slamet.

Secara teknis, kelompok-kelompok pembudidaya tradisional ini akan dibentuk dalam klaster-klaster atau kelompok di kawasan budidaya yang memudahkan managemen mitigasi penyakit dan sistem penebaran dan lain-lain.

“Ke depan tidak ada pembudidaya tradisional murni. Karena sudah ada sentuhan teknologi. Karena pembudidaya tradisional mengikuti alam. Air mengikuti pasang surut saja. Awal tebar benur tidak dicek kesehatannya. Ke depan, dengan adanya kelompok-kelompok ini akan menaikkan harkat, pengetahuan, menaikkan pembudidaya tradisional menjadi tradisional plus,” tegasnya.

Diberi Penghargaan

Terkait dengan penghargaan kepada stakeholder perikanan budidaya tersebut, Slamet menjelaskan, pihaknya ingin memberikan apresiasi kepada para pembudidaya dan kepada para tokoh penggerak yang mendukung terhadap perikanan budidaya.

“Kita sangat terima kasih dan memberikan reward atas kerjasamanya yang telah membangun bangsa ini, dan mendukung target kebijakan kita ini. Kita harapkan dengan reward ini menjadi contoh kepada masyarakat yang lain. Dan diharapkan mereka dapat menularkan ilmunya, pengalamannya, sehingga timbul pembudidaya yang lebih banyak lagi,” tutur Slamet.

Adapun mengenai pertanyaan, dan harapan para peserta dialog, misalnya soal mahalnya pakan ikan, Slamet menjelaskan, pihaknya terus berupaya mendorong adanya efisiensi penggunaan pakan dengan berbagai cara, termasuk dengan penerapan teknologi di area tambak.

Related posts