Belajar 4 Hal dari Pendidikan di Negara Maju - Oleh: Aries Musnandar, Dosen UIN Malang

Saya beruntung diberikan Allah kesempatan untuk mengarungi kehidupan di luar Indonesia khususnya di Eropa dan Amerika Serikat meski cuma sekitar dua-tiga tahun. Dari sana banyak sekali hikmah yang saya peroleh baik ketika berada di dalam ruang-ruang kuliah maupun saat berinteraksi dengan masyarakat setempat di luar tembok pendidikan formal. Saya merasakan dan mencatat sejumlah hal yang menurut hemat saya merupakan kekuatan aktivitas pendidikan di Eropa, Amerika dan negara-negara maju pada umumnya. Catatan dan pengalaman saya selama berada di negara-negara yang sering disebut sebagai negara maju akan saya ungkapkan secara ringkas dan sederhana dalam tulisan ini.

Paling tidak ada empat fenomena menarik yang dimiliki oleh masyarakat Eropa dan Amerika, sehingga menjadikan mereka dalam berbagai hal ditiru oleh negara/kelompok masyarakat lain. Pertama, hubungan antara dunia pendidikan dan kehidupan masyarakatnya amat berkaitan. Contoh-contoh yang dipraktekkan di sekolah atau institusi pendidikan juga berlangsung dalam kehidupan masyarakatnya, artinya kebiasaan yang mereka lakukan di dalam gedung maupun diluar gedung persis sama.

Siswa/pelajar dilatih disiplin, antri, menghargai pendapat orang lain yang ternyata fenomena itu juga yang dapat kita lihat dalam kehidupan masyarakatnya. Oleh karena itu kesopanan, tata pergaulan yang dibentuk di sekolah dengan baik juga terjadi diluar sekolah. Manakala mereka memperoleh sesuatu dari orang lain secara otomatis kata terima kasih selalu meluncur dari bibirnya, demikian pula mereka sering menyampaikan kata-kata pujian kepada pelajar yang menyelesaikan tugas sehingga membuat pelajar itu tambah bersemangat.

Ternyata kebiasaan mengucapkan terimakasih dan memuji orang yang telah mengerjakan sesuatu dengan baik juga biasa dilakukan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Singkatnya, semua kebiasaan baik yang dilakukan di sekolah/universitas juga dapat kita temui di ruang-ruang publik, ini berarti tidak ada perbedaan kualitas interaksi manusia antara sekolah dan luar sekolah. Kehidupan masyarakat yang disiplin, patuh/taat hukum, menyenangi perbuatan baik, mengormati orang lain dan sebagainya ternyata juga merupakan fenomena yang biasa berlangsung di lembaga pendidikan. Sehingga dapat dikatakan kualitas peradaban masyarakat di negara maju mencerminkan pula kualitas peradaban di sekolah dan begitu sebaliknya.

Kedua, keteladanan dan contoh nyata oleh guru amat diperhatikan terutama dalam pembentukan watak dan karakter anak. Pelajar dibiasakan untuk memosisikan segala sesuatu sesuai ketentuan, misalnya guru akan mengambil sampah tercecer dikelas untuk kemudian memasukkannya ke tempat sampah, lalu jika disekitar pelajar masih terdapat sampah berserakan serta merta guru mengingatkan pelajar untuk membersihkan. Namun oleh karena sudah menajdi kebisaan yang melekat sebelum guru mengingatkan dengans ednirinya sang pelajarr sudah tahu apa yang semestinya dilakukan terhadap sampah itu. Inisiatif untuk menmapatkan segala sesuatu pada tempatnya cukup tinggi dan langsung dipraktekkan. Kebiasaan ini yang akhirnya menjadi "darah daging" dan tertanam kuat pada diri pelajar, sehingga dalam kehidupan masyarakat kebiasaan-kebiasaan baik itu diejawantahkan dengan baik. Peran guru dalam mengarahkan perilaku pelajar menjadi begitu penting melalui berbagai keteladanan, sehingga guru mesti manusia pilihan yang berkarakter baik.

Ketiga, pendekatan learning by doing senantiasa dilakukan dalam memberikan pemahaman tentang berbagai subyek. Untuk melatih mengekspresikan pesan-pesan verbal guru menyuruh murid menyampaikannya secara lisan di depan kelas. Guru juga mengarahkan mengungkapkan pesan-pesan yang dimiliki murid dalam bentuk tulisan. Latihan-latihan langsung ini dibiasakan dalam setiap pembelajaran dan inilah yang disebut dengan pendekatan learning by doing itu. Setiap unjuk kerja murid selalu memperoleh penilaian positif sehingga membuat murid tetap bersemangat melakukan unjuk kerja dan selalu berupaya menjadi yang terbaik. Membangkitkan motivasi murid diperlukan, oleh karena itu pujian atas apa yang telah dilakaukan mutlak dilakukan guru. Tidak ada satu murid pun yang tertinggal untuk tidak menyampaikan pesan-pesan yang ingin disampaikan, ini berarti semua murdi kebagian dalam mempraktekkan learning by doing tersebut.

Keempat, pendekatan indiividu (individualized approach). Meski kegiatan pembelajaran dilakukan dengan cara klasikal namun tetap terbuka ruang dalam memerhatikan murid secara perseorangan. Bisa jadi dalam hal-hal tertentu ada saja murid yang tidak mampu mengikuti materi yang disampaikan dan jika hal ini terjadi sang guru dengan cermat dan cekatan akan melakukan pendekatan personal untuk mengetahui persoalan yang dialami siswa tersebut. Kesediaan guru untuk memerhatikan murid tertentu lebih dari yang lain dimungkinkan sepanjang dijumpai masalah dalam diri anak tersebut. Singkatnya, guru tidak hanya sekedar mengajar tetapi juga berupaya bagaimana 'membelajarkan' siswa agar tetap terus terjaga mintanya untuk meningkatkan kualitas unjuk kerjanya. Pendekatan individu semacam ini tidak hanya berlangsung di sekolah tetapi juga biasa terjadi di dunia perguruan tinggi. Dosen dengan senang hati akan menolong mahasiswa yang mengalami kesulitan memperoleh pemahaman atas suatu subyek atau memiliki kendala personal dalam mengkuti perkuliahan. Dosen dalam konteks ini berperan sebagai sahabat mahasiswa. (uin-malang.ac.id)

Related posts