Pertamina Gandeng Perusahaan Asal Thailand - Tekan Impor Bahan Baku Petrokimia

NERACA

Jakarta – Saat ini PT Pertamina belum dapat memenuhi kebutuhan industri hilirnya sehingga harus mengimpor bahan petrokimia dengan perkiraan nilai mencapai US$ 5 miliar per tahun. Atas landasan itu dalam waktu dekat Pertamina akan membangun komplek petrokimia yang berlokasi di Plaju, Sumatera Selatan. Upaya ini dilakukan sebagai langkah konkret dari Pertamina untuk mewujudkan ketersediaan Petrokimia dan menjadi pemain utama Petrokimia di Indonesia dan kawasan.

Untuk merealaisasikan itu, Pertamina menggandeng perusahaan petrokimia asal Thailand, PTT Global Chemical Public Company Limited (PTTGC). Kerjasama ini secara resmi telah dilakukan oleh kedua belah pihak sesuai dengan prinsip-prinsip perusahaan patungan. Cakupan dalam kerjasama ini meliputi beberapa lingkup seperti investasi hingga finalisasi detail rencana proyek yang rencananya akan dimulai pada awal 2014.

"Pertamina dan PTTGC telah mencapai kesepahaman dalam beberapa hal seperti tujuan dan sasaran proyek, model investasi, spesifikasi site, termasuk juga kekuatan dari masing-masing pihak yang dapat meningkatkan daya saing perusahaan patungan yang akan dibentuk," kata Direktur Investasi dan Manajemen Resiko Pertamina, Afdal Bahaudi, sesaat setelah penandatanganan Manufacturing Join Venture-Heads of Agreement (JV-HoA), di Jakarta, Selasa (10/12).

Kerjasama yang telah disepakatii ini untuk membuat kompleks petrokimia kelas dunia di Indonesia dan ditargetkan rampung bisa beroperasi secara komersial pada tahun 2018. "Tindak lanjut dari penandatangan JV-HoA, telah mencapai kesepahaman dalam beberapa hal, seperti tujuan dan sasaran proyek, model investasi, spesifikasi site. Adapun besaran investasi yang akan dikeluarkan untuk pembangunan ini masih dalam pembahasan lebih lanjut," imbuhnya.

Sejauh ini sambung Afdal, Pertamina telah mengadakan survei pasar polimer di Indonesia melalui distribusi dan pemasaran. Hal itu menjadi dasar bagi Pertamina dan PTTGC untuk menjalin konfigurasi awal kompleks petrokimia dan kajian teknis terhadap ruang lingkup investasi.

"Proyek ini merepresentasikan tonggak penting bagi strategi pengembangan bisnis hilir petrokimia Pertamina. Oleh karena itu, Pertamina menghadirkan kondisi investasi yang terbaik untuk dikaji lebih jauh seperti lokasi proyek yang dapat memberika daya saing secara ekonomi kepada proyek melalui pengintegrasian dengan kilang, ketahanan pasokan, dan infrastruktur dasar yang mendukung," sambungnya.

Pada kesempatan yang sama, President and CEO PTTGC, Bowon Vongsinudom mengatakan, penandatangan ini merupakan kelanjutan dari kesepakatan antara kedua perusahaan yang telah dilakukan di Bangkok, Thailand, pada April 2013. Dia mengatakan, usai penandatanganan ini, pihaknya telah bekerjakeras untuk menyelesaikan preliminary study dari proyek ini.

"Komplek petrokimia ini akan termasuk di dalamnya unit cracker dan bisnis hilir terintegrasi lainnya, yang akan dibahas lebih lanjut untuk dapat menghasilkan nilai tambah melalui berbagai sinergi dan integrasi bisnis," ungkap Vongsinudom.

Lebih lanjut, Vongsinudom menerangkan, kerjasama ini merupakan kolaborasi yang tepat. Ini karena PTTGC memberikan sumbangsih berupa pengetahuan dan pengalaman yang kuat di bidang industri petrokimia, sedangkan Pertamina memfasilitasi akses-akses lokal. "Kolaborasi ini akan menghadirkan potensi investasi yang sangat menjanjikan," tukas dia.

Saat ini pertamina memiliki dan mengoperasikan 6 kilang di seluruh indonesia dengan total kapasitas sekitar 1 juta barel per hari. Dengan adanya realisasi pembuatan komplek Petrokimia ini Pertamina mempunyai potensi yang besar untuk menguasai bisnis kilang dan petrokimia yang akan memberikan nilai tambah terhadap sumber daya alam Indonesia.

Adapaun dengan dibangunnya komplek petrokimia ini produks petrokimia domestik bakalan meningkat, diperkirakan, nilai pasar petrokimia saat komplek ini beroperasi mencapai US$ 30 miliar Dan ditargetkan dapat menguasai 30 persen pangsa pasar petrokimia Nasional.

Related posts