Fajar Surya Wisesa Bidik Penjualan Rp5 Triliun

NERACA

Jakarta- PT Fajar Surya Wisesa Tbk, emiten produsen dan pengolahan kertas daur ulang mengincar penjualan sebesar Rp 5 triliun pada tahun depan. Target tersebut nantinya akan ditopang dengan kenaikan volume produksi kerta perseroan yang diperkirakan dapat mencapai 1,07 juta ton pada tahun 2014. “Kami berharap, pada tahun depan volume produksi kertas FASW akan sekitar 1,07 juta ton. Mesin produksi kami masih dapat di utilisasi lagi,” kata Manajer Keuangan Fajar Surya Marco Hardy di Jakarta, Selasa (10/12).

Kenaikan volume produksi tersebut, kata dia, merupakan strategi perseroan untuk meningkatkan penjualannya pada tahun depan yang ditargetkan dapat mencapai Rp5 triliun. Proyeksinya, pada tahun ini perseroan dapat merealisasikan penjualannya hingga Rp4,8 triliun dengan kapasitas produksi 1,2 juta ton per tahun.

Untuk penambahan kapasitas produksi, menurut dia, perseroan juga berencana membangun pabrik kedelapan seluas 50 hektar di Surabaya, Jawa Timur. Targetnya, dengan keberadaan pabrik baru tersebut diharapkan mampu memenuhi target kapasitas produksi menjadi 1,5 juta ton per tahun. Sementara untuk saat ini perseroan memiliki satu pabrik dengan lima unit mesin yang berada di wilayah Cikarang.

Rencananya, untuk mendukung pengembangan bisnis di tahun depan, perseroan pun menganggarkan dana belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar US$80 juta. Sebagian dana tersebut akan digunakan perseroan untuk pembangunan pabrik baru di Surabaya. “Nilai investasi pabrik itu mencapai US$165 juta,” ujarnya.

Investasi pabrik tersebut, sambung dia, juga berasal dari pinjaman sindikasi yang diperoleh perseroan dari lima bank senilai US$240 juta pada September lalu. Meski demikian, untuk pengerjaannya akan dilakukan selama 2 tahun, yaitu dari awal 2014 hingga akhir 2015. Diharapkan, setelah pabrik ini rampung dan beroperasi, kapasitas produksi dapat bertambah 350.000 ton per tahun pada 2016, atau meningkat 30% dari saat ini.

Dengan begitu, total kapasitas produksi diproyeksikan dapat mencapai 1,5 juta ton per tahun. Sehingga dapat mengantisipasi meningkatnya permintaan konsumen dan daya saing perseroan. Pihaknya mencatat, saat ini pangsa pasar FASW di pasar domestik sebesar 30%. Sekitar 87% penjualan perseroan dihasikan dari penjualan domestik dan 13% dihasilkan dari penjualan ekspor.

Sementara hingga kuartal ketiga tahun ini, perseroan berhasil mencatatkan penjualan sebesar Rp 3,5 triliun. Dari penjualan tersebut FASW membukukan rugi bersih sebesar Rp 169,4 miliar. Kerugian tersebut dihasilkan karena kerugian kurs depresiasi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sebesar Rp 558,8 miliar.

Dia menambahkan, terjadinya pelemahan nilai tukar rupiah berdampak pada biaya untuk energi. Untuk itu, perseroan akan berupaya mengurangi biaya produksi dengan mengurangi jumlah bahan baku impor. Komposisi bahan baku perseroan sendiri saat ini adalah 40% impor dan 60% lokal. “Jumlah bahan baku lokal tahun ini akan ditambah menjadi 70%. Saat ini perseroan juga memiliki kontrak jangka panjang dengan perusahaan energi selama 10 tahun.” ucapnya. (lia)

Related posts