Menanti Kabar BI Rate, IHSG Rawan Koreksi

NERACA

Jakarta –Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, Selasa kemarin bergerak menguat seharian. Mengakhiri perdagangan saham, indek harga saham gabungan (IHSG) di tutup melesat 61,336 poin (1,46%) ke level 4.275,678. Sementara Indeks LQ45 ditutup melonjak 13,951 poin (1,99%) ke level 713,772. Aksi buru saham murah yang dilakukan investor domestik menjadi pemicunya dan indeks BEI menguat sendirian, ditengah koreksi yang terjadi di seluruh bursa regional.

Kata analis Trust Securities, Yusuf Nugraha, penguatan indeks BEI masih terbatas dikarenakan kondisi bursa Asia yang mayoritas berada dalam area negatif,”Beberapa saham di bursa domestik menguat, namun masih tertahan dikarenakan kondisi bursa Asia belum mendukung, sehingga pelaku pasar cenderung menahan transaksinya lebih jauh," katanya di Jakarta, Selasa (10/12).

Dia menambahkan, pelaku pasar saham domestik juga masih "wait and see" menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada Kamis (12/12) mendatang. Dimana pelaku pasar menanti apakah ada kebijakan dari BI untuk mengubah suku bunga acuan (BI rate) atau tidak. Maka melihat sentimen tersebut, indeks BEI Rabu diproyeksikan akan bergerak di kisaran 4.200-4.300 poin.

Sementara analis Sinarmas Sekuritas, Christandi Rheza Mihardja menuturkan, di tengah kemungkinan The Fed mengurangi stimulus, IHSG mengalami kenaikan, berbeda dari tren-tren sebelumnya."Tampaknya, dengan data-data inflasi di China dan Amerika yang lebih rendah dari estimasi telah mengurangi kekhawatiran masyarakat dunia akan kemungkinan kenaikan suku bunga dalam jangka waktu dekat,”tandasnya.

Perdagangan kemarin, aksi beli yang dilakukan investor memanfaatkan posisi indeks yang sudah jatuh cukup dalam bahkan hampir balik ke level 4.000. Transaksi investor asing pada perdagangan kemarin melakukan penjualan bersih (foreign net sell) tipis senilai Rp 1,78 miliar di seluruh pasar. Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 145.331 kali pada volume 6,008 miliar lembar saham senilai Rp 6,106 triliun. Sebanyak 130 saham naik, sisanya 117 saham turun, dan 95 saham stagnan

Data Ekonomi China yang baru saja diumumkan menjegal pergerakan bursa-bursa di Asia. Akhirnya bursa regional menutup perdagangan Selasa dengan kompak melemah. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Gudang Garam (GGRM) naik Rp 1.150 ke Rp 40.150, Indocement (INTP) naik Rp 650 ke Rp 19.650, HM Sampoerna (HMSP) naik Rp 650 ke Rp 61.200, dan Unilever (UNVR) naik Rp 550 ke Rp 26.800.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Asahimas (AMFG) turun Rp 300 ke Rp 6.700, Tower Bersama (TBIG) turun Rp 250 ke Rp 5.850, Asuransi Bina Dana (ABDA) turun Rp 250 ke Rp 4.250, dan Supreme Cable (SCCO) turun Rp 200 ke Rp 4.200.

Menutup perdagangan sesi I, indeks BEI ditutup menguat 43,636 poin (1,04%) ke level 4.257,978. Sementara Indeks LQ45 menanjak 10,182 poin (1,45%) ke level 710,003. Seluruh indeks sektoral di lantai bursa menghijau berkat perburuan saham yang dilakukan investor. Saham-saham komoditas dan finansial naik cukup tinggi.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 86.031 kali pada volume 2,701 miliar lembar saham senilai Rp 2,695 triliun. Sebanyak 124 saham naik, sisanya 82 saham turun, dan 98 saham stagnan. Pelaku pasar di Asia mulai mengambil untung, padahal diawal momentum penguatan dari bursa global masih ada. Bursa China masih bertahan positif jelang pengumuman data ekonomi setempat bulan November.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Gudang Garam (GGRM) naik Rp 850 ke Rp 39.850, Unilever (UNVR) naik Rp 500 ke Rp 26.750, Indocement (INTP) naik Rp 400 ke Rp 19.400, dan Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 350 ke Rp 28.950. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Supreme Cable (SCCO) turun Rp 300 ke Rp 4.100, (ABDA) turun Rp 250 ke Rp 4.250, Elang Mahkota (EMTK) turun Rp 200 ke Rp 5.350, dan Bayan (BYAN) turun Rp 150 ke Rp 8.550.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka naik 14,07 poin atau 0,33% menjadi 4.228,42, sedangkan indeks 45 saham unggulan (LQ45) menguat 4,07 poin (0,58%) ke posisi 703,89,”Indeks BEI kembali berada dalam area positif meski mayoritas bursa saham di Asia cenderung melemah," kata Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada.

Dia mengatakan, beberapa pelaku pasar masih mengambil posisi beli sehingga kesempatan untuk penguatan lanjutan masih terbuka. Akan tetapi, kenaikan yang terjadi saat ini masih dibayangi sentimen negatif maka pelaku pasar saham diharapkan selalu mewaspadai potensi pembalikan arah indeks BEI.

Menurut dia, rapat kebijakan the Fed pada 17-18 Desember mendatang akan menjadi penentu arah pergerakan indeks bursa global, dan tentunya hal itu juga akan menjadi perhatian pelaku pasar di bursa domestik serta dampaknya bagi IHSG.

Sementara itu, Tim Analis Teknikal Mandiri Sekuritas dalam kajiannya mengemukakan bahwa untuk sentimen dari dalam negeri, investor menanti Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang akan memutuskan soal suku bunga acuan (BI Rate) pada pekan ini. Di sisi lain, lanjutnya, pasar juga mengkhawatirkan inflasi Desember 2013 karena faktor Hari Natal. Di tengah kondisi itu, diperkirakan IHSG akan bergerak 'mixed' namun masih berpotensi menguat. Sementara itu bursa regional, diantaranya indeks Hang Seng dibuka melemah 56,54 poin (0,24%) ke posisi 23.754,63, indeks Nikkei-225 turun 42,34 poin (0,27%) ke posisi 15.607,99 dan Straits Times melemah 4,96 poin (0,16%) ke posisi 3.108,61. (bani)

Related posts