Harga Makanan dan Minuman Akan Naik 10% - Biaya Produksi Semakin Tinggi

NERACA

Jakarta - Tingginya biaya produksi di sektor industri makanan dan minuman membuat sebagian produsen kelimpungan. Untuk itu, para pengusaha berencana menaikkan harga produk makanan dan minuman mulai tahun depan. Alasannya karena beberapa biaya operasional dan beban upah juga mengalami kenaikan.

"Makanan dan minuman kita akan naikkan sampai 10% tahun depan," ujar Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Pudjianto di Jakarta, Selasa (10/12).

Menurutnya biaya operasional terbebani paling besar karena kenaikan upah buruh dengan rata-rata naik per daerah melebihi 10%. Sementara upah merupakan 45% dari total biaya operasional perusahaan ritel."Yang namanya 40%-45% itu operation cost-nya untuk gaji, nah itu kan UMR naik,di beberapa daerah naiknya melebihi 10%," kata salah satu petinggi Alfamart ini.

Biaya lainnya adalah pada harga sewa tempat yang meningkat dibanding sebelumnya. Penyebabnya adalah kenaikan harga properti dan tarif listrik yang naik. "Masalahnya sewa, sewa itu naiknya tinggi sekali, kontribusi sewa 20%-25% dari biaya," kata Pudjianto.

Kemudian persoalan bahan bakar minyak (BBM) dan listrik yang naik. Ini membebani pada wilayah transportasi dan distribusi barang. "Listrik sama bensin, itu kurang lebih 10-15%," ujarnya.

Sementara itu, Beban industri makanan dan minuman (mamin) makin berat di tahun ini. Kenaikkan harga berbagai komponen bahan baku yang ramai terjadi saat ini macam bawang merah dan bawang putih akhir-akhir ini menyusul kenaikkan upah buruh dan energi yang harus mereka tanggung.

Padahal dengan kenaikkan upah buruh dan energi sejak awal 2013 ini saja, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi Lukman bilang ada beberapa pelaku industri mamin yang menahan kenaikkan harga. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari turunnya permintaan di pasar. Meski langkah ini dipastikan akan mengurangi margin keuntungan perusahaan. "Masih ada yang mengorbankan margin menahan kenaikkan harga karena takut terjadi distorsi pasar," kata Adhi di Jakarta, akhir pekan lalu.

Namun dengan makin naikknya beban industri akibat ketidakstabilan harga bahan baku, ia memprediksi semua produsen mamin akan menaikkan harga pada bulan depan. Menurut Adhi, langkah mengorbankan margin sudah tidak bisa ditolelir dengan ketidakstabilan harga bahan baku ini. Dengan terus menurunkan margin maka industri ini berpotensi sakit. "Sehingga di April saya rasa sudah naik semua hingga' 10%," ujarnya.

Di industri mamin sendiri, margin keuntungan para produsen disebut bervariasi mulai dari 5% hingga 12%. Saat ini saja, Adhi melanjutkan kenaikkan harga mamin sudah terjadi di tingkat retail sekira 5% hingga 10%. Beberapa produk mamin yang sudah naik harga diantaranya adalah produk turunan terigu dan jus buah.

Tumbuh Stagnan

Di tempat berbeda Sekjen Gapmmi Franky memperkirakan pertumbuhan industri makanan dan minuman (mamin) di 2013 akan stagnan seperti tahun ini yaitu sebesar 8%. "Dugaan kami pertumbuhannya di 2013 masih seperti tahun ini sebesar 8% karena kami pesimistis pemerintah mampu menjaga stabilitas politik yang mempengaruhi produksi pengusaha," kata dia.

Dia mengatakan situasi di dalam negeri tahun 2013 akan sama dengan 2012 yaitu banyak agenda politis yang dijalankan pemerintah. Hal itu, kata dia, yang menyebabkan kebijakan yang diambil cenderung populis tanpa memperhatikan kepentingan pengusaha. "Angka moderatnya 8% di tahun depan, karena kami tidak percaya pemerintah bisa menjaga stabilitas politik dan keamanan," ujamya.

Menurut dia, pertumbuhan industri dalam negeri khususnya mamin dipengaruhi stabilitas keamanan dan jaminan stabilitas keputusan terkait industri. Dia menilai 2012 tidak ada jaminan keamanan dari pemerintah sehingga mengganggu proses produksi. "Karena tahun depan apabila dilihat dari tahun 2012 akan lebih banyak diramaikan dengan peristiwa politik" katanya.

Dia menjelaskan, tahun depan diperkirakan akan terjadi konsolidasi partai politik menjelang pemilu 2014 sehingga berbagai isu populis akan diusung. Hal itu menurut dia akan berujung pada pengerahan massa dan menjauhkan terhadap hubungan industrial yang ideal.

"Demo buruh pasti melibatkan tenaga kerja dan menyebabkan terjadinya stagnasi produksi atau bahkan penghentian produksi. Apalagi di tahun 2013 tensi politiknya akan lebih tinggi," katanya.

Selain itu menurut dia, kenaikan harga pangan dan melemahnya ekspor juga berperan dalam menekan pertumbuhan sektor industri makanan dan minuman. Dia mengatakan kompetitor dari negara lain yang produknya lebih murah terus berproduksi dan melebarkan pangsa pasarnya ke Indonesia.

BERITA TERKAIT

BPOM: UU POM Akan Perkuat Penindakan Produk Ilegal

BPOM: UU POM Akan Perkuat Penindakan Produk Ilegal NERACA Jakarta - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Lukito…

Harga Saham Melorot Tajam - Saham Cottonindo Masuk Pengawasan BEI

NERACA Jakarta - Perdagangan saham PT Cottonindo Ariesta Tbk (KPAS) masuk dalam pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) karena mengalami…

Patok Harga IPO Rp 103 Per Saham - Nusantara Properti Raup Dana Rp 200 Miliar

NERACA Jakarta – Menyusul emiten yang sudah tercatat di pasar modal awal tahun ini, bakal di ikuti PT Nusantara Properti…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Pemerintah Akselerasi Pengembangan Kendaraan Listrik

NERACA Jakarta – Pemerintah segera menyiapkan fasilitas insentif fiskal dan infrastruktur dalam upaya mengakselerasi pengembangan kendaraan listrik di Indonesia. Untuk…

Kebutuhan Gula Seiring Kinerja Positif Industri Pengguna

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian memproyeksi kebutuhan gula kristal rafinasi (GKR) untuk sektor industri makanan dan minuman serta industri farmasi…

Songsong Era Digital, Kemenperin Beri Pengarahan

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian menyambut kehadiran 375 Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) hasil rekrutmen tahun 2018. Jumlah tersebut terdiri…