Sekolah Perikanan Hasilkan Dua Teknologi Budidaya - Program Pendidikan Vokasi

NERACA

Jakarta - Untuk mengantisipasi minimnya modal untuk memulai usaha di bidang perikanan tentu saja perlu adanya temuan teknologi yang sederhana, tapi mampu menghasilkan sesuatu yang besar, dan bermanfaat bagi khalayak luas. Paling tidak, dua jenis teknologi budidaya ikan yang sudah ditemukan dan diimplementasikan oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPSDMKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), yaitu budidaya udang vaname dengan cara Budidaya Udang Skala Mini Empang Plastik (Busmetik) dan budidaya lele teknologi bioflok mini.

“Kedua teknologi ini ditemukan dan dikembangkan oleh para anak didik dari Sekolah Perikanan, dan hasilnya sudah sangat signifikan. Dan memang untuk saat ini yang diperlukan bukan dengan teknologi yang canggih, tapi bagaimana bisa melakukan budidaya sederhana tapi menghasilkan,” kata Kepala BPSDM KP Suseno Sukoyono kepada Neraca di kantor KKP, Jakarta, Senin Malam (9/12).

Temuan seperti Busmetik ini sangat luar biasa karena mendapatkan perhatian lebih dari Presiden, maupun Menteri, dan ini merupakan anugerah yang sangat luar biasa karena dikerjakan oleh anak-anak murid dari Sekolah Perikanan. Inilah manfaat dari program pendidikan vokasi dimana mampu memberikan pelatihan kepada anak didik kita agar bisa lebih inovatif dalam menciptakan temuan-temuan yang bermanfaat dan menghasilkan.

“Hasil inilah yang mampu membangun maind set masyarakat kalau dulu anak-anak sekolah mencari uangnya jangka panjang, tapi sekarang kami tunjukan bahwa sambil sekolah bisa mendapatkan uang,” sambungnya.

Sedangkan untuk budidaya lele bioflok, kalau metode lama dengan digali sekarang bisa menggunakan metode bioflok ukuran mini sekitar satu meter saja bisa budidaya lele. Budidaya metode ini pun banyak ditiru oleh negera lain seperti Vietnam. Dan Temuan-temuan ini punya manfaat yang besar, negara lain saja meniru metode ini.

Menurut dia, harusnya masyarakat Indonesia bisa lebih mengembangkan teknologi ini, karena dengan cara-cara ini tidak membutuhkan biaya besar, tapi hasilnya luar biasa. “Bukan hanya anak didik saja yang mengembangkan temuan-temuan seperti ini harusnya masyarakat pun ikut serta dalam pengembangan ini sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat umumnya,” paparnya.

Adapun program pendidikan vokasi yaitu dengan pendekatan teaching factory. Pendidikan vokasi dicirikan dengan porsi praktek sebanyak 60% dan teori 40%. Adapun pendekatan teaching factory, adalah penyelenggaraan pembelajaran sesuai dengan proses produksi yang sebenarnya dan sesuai dengan tuntutan dunia usaha dan dunia industri, adapun saat ini yang sudah menerapkan pendidikan vokasi diantaranya adalah Sekolah Tinggi Perikanan, Akademi Perikanan Sidoarjo, Akademi Perikanan Bitung, Akademi Perikanan Sorong, dan 9 Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM).

Dari data yang ada pada tahun 2013 ini angka pengangguran ada sekitar 360 ribu S1 menganggur, tapi dengan pendidikan program vokasi anak sekolah mampu menghasilkan uang sendiri dan setelah lulus bisa mengembangkan lagi. Kita mau tunjukan bahwa dibangku sekolah pun bisa menghasilkan, dan bisa ditularkan untuk orang banyak. Makanya kami akan menyebar luaskan penyuluh untuk mensosialisasikan ke masyarakat.

“Selian itu juga kami bekerja Kementerian Komunikasi dan Informasi (Keminfo) untuk program Pusat Layanan Informasi Kecamatan (Plik), agar informasi atau sosialiasi tentang perikanan dapat masuk ke desa-desa,” ujarnya.

Go International

Dalam pertemuan FAO di Roma, Italia, belum lama ini, ujar Suseno, salah satu yang dia presentasikan mengenai metode-metode penemuan anak didiknya, dan mendapatkan respons positif. “Dan rencananya pada tahun 2014 nanti, kami akan mengirimkan Sumber Daya Manusia (SDM) yaitu anak didik kami yang sudah dilatih, untuk bisa dikirm ke Afrika untuk dapat berbudidaya disana daalam rangka memerangi kelaparan dinegara tersebut. Atas dasar penemuan dari merekalah akhirnya mereka bisa membantu negara lain dalam memerangi kelaparan. Ini merupakan sebuah anugerah luar biasa anak didik kami bisa membantu dalam sisi kemanusiaan memerangi kelaparan ditingkat International,” ungkap suseno.

Dari BPSDMKP sudah melatih sekitar 2.000 anak didik yang siap dikirm kesana, nan rencananya setelah diafrika akan melakukan metode-metode seperti busmetik atau bioflok, tinggal disesuaikan dengan kondisi alam dinegara Afrika sana. “Terobosan yang ditemukan oleh anak-anak didik kami sangat luar biasa bukan hanya ekspor produk, tapi kami mengirimkan SDM terutama anak-anak sekolah, dengan ini kita bawa anak-anak siswa kami pada level yang lebih tinggi dikancah International,” jelasnya.

Related posts