Saham Intraco Bakal Tembus Rp 500 Per Saham - Dampak Pulihnya Harga Batubara

NERACA

Jakarta - Tren kembali meningkatkan harga batubara bakal memberikan dampak bagi perusahaan alat berat, maka hal inipula yang akan dirasakan perusahaan alat berat PT Intraco Penta Tbk (INTA). Bahkan melihat sentimen positif tersebut, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan harga saham PT Intraco Penta Tbk untuk 12 bulan sekitar Rp350-500 per lembar saham.

Informasi tersebut disampaikan Pefindo dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (10/12). Sebagai informasi, harga saham INTA saat ini di level Rp260 per lembar saham. Harga komoditas tambang akan kembali pulih dan sudah terjadi sejak Oktober tahun ini, dimana harga batubara sudah kembali diatas US$ 80 per ton, “Selain itu, datangnya musim dingin mendatang di sejumlah negara yang dapat meningkatkan permintaan batu bara," kata analis Pefindo Guntur Tri Hariyanto.

Di samping itu, meski produksi alat berat menurun sebesar 28% sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini seiring dengan menurunnya produksi yang diperkirakan sekitar 20%, namun jasa penyewaan INTA menyediakan alternatif bagi pemilik bisnis.

Sebagai informasi, perseroan berencana memperkuat bisnis jasa penyewaan dan menambah sekitar 30-40 unit alat berat untuk disewakan pada tahun ini. Pendapatan sewa tercatat melonjak 45% sepanjang sembilan bulan pertama 2013. Agka itu lebih rendah dibanding tahun sebelumnya yang naik 77%, namun kontribusi bisnis meningkat menjadi 5,3% dibanding 2011 sekitar 2,5%.

Kata Guntur, meskipun pendapatan menurun 14% di 2012 dan turun 5% di sembilan bulan pertama tahun ini, dirinya memperkirakan INTA membukukan pertumbuhan moderat sekitar 6%. Hal itu mempertimbangkan adanya indikasi permintaan alat berat akan sedikit rebound. Selain itu, bisnis sewa guna usaha (leasing), suku cadang (spareparts) dan pemeliharaan alat berat (maintenance) diprediksi akan tumbuh positif.

Selain itu, Pefindo memproyeksikan pendapatan INTA di penghujung tahun bisa mencapai Rp2,74 triliun atau naik 5,4% dibanding tahun lalu senilai Rp2,6 triliun. Akibat menyusutnya permintaan global dan jatuhnya harga komoditas yang berlangsung lama, perseroan diprediksi akan membukukan kerugian sebesar Rp222 miliar di akhir 2013, sedangkan tahun lalu mencatat laba bersih senilai Rp30 miliar. (bani)

Related posts