Bangun Pabrik, BUDI Siapkan Dana Rp205 Miliar

Untuk merealisasikan rencananya melakukan pengembangan usaha, PT Budi Starch & Sweetener Tbk (BUDI) menganggarkan dana belanja modal sebesar Rp205 miliar pada tahun depan. Rencananya, pada akhir 2014, perseroan dapat menyelesaikan pembangunan pabrik di Lampung dan Krian, Jawa Timur sebagai langkah meningkatkan produksi.“Dari dana capex yang dianggarkan, 50 miliar (rupiah) untuk dana capex rutin dan sisanya untuk ekspansi,” kata Deputy President Director PT Budi Starch & Sweeteer Tbk, Sudarmo Tasmin di Jakarta, Senin (9/12).

Sumber pendanaannya sendiri, menurut dia, seluruhnya dari kas internal perseroan. Pembangunan dua pabrik tersebut diharapkan dapat memproduksi hingga 72 ribu ton per tahun. “Untuk pabrik di Lampung akan memproduksi glukose, sorbitol dan maltodextrine, dan nantinya akan memproduksi hingga 72 ribu ton per tahun,” jelasnya.

Sementara untuk pabrik di Krian, Jawa Timur akan memproduksi fruktose dengan perkiraan kapasitas produksi sebesar 72 ribu ton per tahun. “Kita targetkan akhir 2014 sudah selesai,” ujarnya.

Dalam catatan pengembangan bisnisnya, perseroan melakukan ekspansi pembangkit listrik tenaga bio gas (PLTBG), dan pembangunan pabrik tapioka di Madiun dan pabrik glukose di Jawa Tengah. Untuk pembangunan dua proyek pembangkit listrik tenaga bio gas (PLTBG) yang direncanakan pada tahun lalu ditaksir membutuhkan dana senilai Rp30 miliar. Sementara untuk pembangunan pembangkit listrik batu bara di Lampung Tengah sekitar Rp70 miliar.

Dari pembangunan PLTBG di delapan lokasi pabrik di Lampung, manajemen perseroan menyebutkan dapat memenuuhi kebutuhan listrik sekitar 87% dari total produksi yang dibutuhkan untuk memproduksi tapioka. Karena itu, pihaknya berharap juga bisa membangun PLTBG di dua wilayah pabrik perseroan di Solo dan Madiun.“Listrik yang kami pakai untuk operasional pabrik berasal dari PLTBG tersebut walaupun beberapa masih ada yang pakai solar,” jelasnya.

Perseroan menargetan pendapatan Rp 2,5 triliun tahun ini atau naik dari tahun sebelumnya Rp 2,3 triliun. Manajemen Budi Acid mengklaim menjadi produsen pertama yang menjual carbon credit sebanyak 115 CER hingga Mei 2013 sebesar Rp 14,5 miliar. “Kami optimistis, target pendapatan bisa dicapai,” imbuhnya. (lia)

Related posts