Intraco Konversi Utang Anak Usaha Jadi Saham

NERACA

Jakarta – Perusahaan alat berat, PT Intraco Penta Tbk (INTA) mengonversi utang anak perusahannya, PT Intraco Penta Prima Servis (IPPS) menjadi saham. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Senin (9/10).

Disebutkan, kesepakatan Intraco Penta mengkonversi utang anak usaha telah di tandatangani perjanjian tersebut pada 5 Desember 2013. Dalam perjanjian itu disepakati bahwa utang IPPS sebesar Rp10 miliar kepada perseroan dikonversi menjadi 10 juta lembar saham baru di IPPS.

Selain itu, anak perusahaan perseroan lainnya, yakni PT Intraco Penta Wahana (IPW) juga menandatangani perjanjian konversi utang sehubungan dengan kesepakatan konversi sebagian utang IPW kepada INTA sebesar Rp10 miliar menjadi 10 juta saham baru dalam IPW.

Pelaksanaan konversi utang menjadi saham di IPPS dan IPW tersebut efektif setelah mendapat persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 6 Desember 2013 yang dilakukan IPPS dan IPW. Alasan dilakukan transaksi konversi tersebut karena INTA selaku induk usaha IPPS dan IPW melihat peluang yang cukup besar untuk pertumbuhan dan perkembangan usaha di bidang perdagangan besar alat-alat berat yang dilakukan kedua anak perusahaannya tersebut.

Transaksi ini salah satu bentuk komitmen perseroan sebagai induk usaha dalam mendukung perkembangan anak perusahaan, yang pada akhirnya diharapkan dapat memberikan tambahan kontribusi kepada pertumbuhan perseroan secara grup.

Sebagai informasi, di kuartal ketiga tahun ini, PT Intraco Penta Tbk mencatatkan rugi bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp165 miliar lantaran merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Disebutkan, pencapaian ini merosot signifikan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, yang berhasil membukan laba sebesar Rp42,35 miliar. Disebutkan, rugi tersebut dipicu turunnya pendapatan usaha, meningkatnya beberapa beban dan meningkatnya rugi selisih kurs.

Pendapatan usaha perseroan pada akhir September 2013 tercatat sebesar Rp1,96 triliun atau turun 5,3% dibanding akhir September 2012 senilai Rp2,07 triliun. Sementara beban pokok berhasil ditekan menjadi Rp1,49 triliun dibanding periode yang sama tahun lalu Rp1,65 triliun. Namun, beban penjualan naik menjadi Rp102,9 miliar dari Rp102,36 miliar, beban umum dan administrasi juga meningkat menjadi Rp138,13 miliar dari Rp120,04 miliar.

Adapun, beban keuangan melonjak menjadi Rp129,06 miliar dari Rp72,75 miliar dan rugi selisih kurs naik menjadi Rp258,74 miliar dari Rp70,69 miliar serta bagi hasil bertambah menjadi Rp55,89 miliar dari Rp40,44 miliar.Kas dan setara kas akhir tahun tercatat meningkat menjadi Rp102,07 miliar dibanding periode yang sama 2012 sebesar Rp59,24 miliar. Sedangkan, jumlah aset perusahaan pada akhir September 2013 naik menjadi Rp4,8 triliun dari posisi akhir tahun lalu senilai Rp4,27 triliun. (bani)

BERITA TERKAIT

Bayar Utang Eksisting - TBIG Bakal Rilis Global Bond US$850 Juta

  NERACA Jakarta –Danai pelunasan utang yang jatuh tempo, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) menerbitkan obligasi dalam denominasi dollar…

Berbagi Keberkahan di Ramadhan - MARK Buka Puasa Bersama Anak Yatim

NERACA Jakarta – Sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan, MARK kembali gelar buka puasa bersama anak yatim piatu dari panti…

Impack Beri Pinjaman Anak Usaha US$7 Juta

Dukung pengemangan bisnis anak usaha, PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) memberikan pinjaman kepada entitas anak ImpackOne Sdn Bhd, Malaysia…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pefindo Raih Mandat Obligasi Rp 52,675 Triliun

Pasar obligasi pasca pilpres masih marak. Pasalnya, PT Pemeringkat Efek Indonesia atau Pefindo mencatat sebanyak 47 emiten mengajukan mandat pemeringkatan…

GEMA Kantungi Kontrak Rp 475 Miliar

Hingga April 2019, PT Gema Grahasarana Tbk (GEMA) berhasil mengantongi kontrak senilai Rp475 miliar. Sekretaris Perusahaan Gema Grahasarana, Ferlina Sutandi…

PJAA Siap Lunasi Obligasi Jatuh Tempo

NERACA Jakarta - Emiten pariwisata, PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) memiliki tenggat obligasi jatuh tempo senilai Rp350 miliar. Perseroan…