Nobu Targetkan Kredit Tumbuh 34% di 2014

NERACA

Jakarta - Bank National Nobu (Bank Nobu) menargetkan pertumbuhan kredit sebesar Rp2 triliiun pada tahun depan. Jumlah tersebut meningkat sekitar 34% jika dibandingkan akhir tahun ini yang diprediksikan sekitar Rp1,4 triliun. Direktur Utama Bank Nobu, Suhaimin Djohan mengatakan, saat ini perusahaan telah mengetahui imbauan Bank Indonesia (BI) yakni dengan memperlambat kredit perbankan tahun depan yang dilakukan untuk menstabilkan laju pertumbuhan, yaitu dengan menekan pertumbuhan kredit dikisaran 15%-17%.

Suhaimin mengatakan, saat ini pihaknya telah melihat prospek yang cerah di bisnis tahun depan. “Sehingga kami akan mengambil peluang itu dan optimis pertumbuhan kredit akan diatas industri atau sebesar 30%-50%,” kata Suhaimin di Jakarta, akhir pekan lalu.

Karena itu, untuk mendorong pertumbuhan target tersebut, Bank Nobu akan terus memfokuskan diri ke sektor Usaha Kecil Menengah (UKM) tahun depan. Perseroan rencananya, akan menambah kantor cabang baru yang akan disebar di setiap kota besar dan provinsi yang ada di Tanah Air.

“Nantinya porsi penyaluran kredit tersebut akan lebih dominan ke segmen UKM atau bisa mencapai 90%. Sementara, sisanya di segmen konsumer dan komersial,” ujar Suhaimin. Selain target kredit perusahaan juga menargetkan perolehan dana pihak ketiga (DPK) di atas Rp2,5 triliun, dengan total aset diperkirakan akan di atas Rp3,5 triliun.

Pada kuartal III 2013, aset Bank Nobu mencapai Rp3 triliun lebih tumbuh 148% year to date (ytd) atau 276% dibandingkan posisi kuartal III-2012. Penyaluran dana yang dilakukan hingga September 2013 telah mencapai Rp868 miliar dengaan NPL yang tetap terjaga di nol persen.

Selain itu, Bank Nobu saat ini tengah melakukan pembenahan untuk mempersiapkan diri dan mengajukan proposal ke BI untuk mendapatkan izin menjadi Bank Devisa. Suhaimin memprediksikan, izin tersebut akan dikeluarkan tahun depan. “Kami harap tahun depan NOBU sudah menjadi Bank Devisa,” kata Suhaimin.

Namun, sebagai pendukung menjadi Bank Devisa nantinya, Suhaimin mengatakan perusahaan belum bisa untuk membuka cabang diluar negeri. Menurut Suhaimin, pembukaan cabang tersbut dinilai majal dan masih sulit untuk mengajukan perizinannya.

“Bayangkan, untuk membuka kantor cabang di luar negeri, minimal kami akan keluarkan dana sebesar Rp1 triliun dan urus peizinannya tidak mudah, jadi kami tidak akan serta merta membuka cabang disana, tapi kami akan menggunakan koresponden bank negara tersebut guna melancarkan bisnis kami sebagai Bank Devisa kami,” jelas dia. [sylke]

Related posts