Mitigasi Sovereign Risk

Oleh : Tumpal Sihombing

CEO and Founder BondRI

Einstein pernah menulis, “we can not solve our problems with the same level of thinking that created them”. Tantangan yang dihadapi oleh perekonomian domestik kini mustahil diselesaikan dengan solusi berbasis ekonomi konvensional. Perekonomian adalah suatu studi yang senantiasa mengalami perkembangan, demikian juga dengan disiplin ilmu lainnya. Peran riset dalam ranah ekonomi adalah menciptakan pengetahuan yang lebih baik agar dapat menyelesaikan tantangan atau persoalan baru yang senantiasa muncul.

Ranah makroekonomi, makroekonomi, fiskal, moneter, industri jasa keuangan dan pasar modal, semuanya dan masing-masing telah dilakukan oleh lembaga (badan) yang definitif juga telah memiliki peran jelas dalam perekonomian Indonesia. Namun dalam praktek perekonomian yang berlaku, kondisi domestik masih lemah khususnya dalam hal koordinasi. Perihal koordinasi inilah yang perlu dipertegas dan diperkuat, agar konflik antar pemangku kepentingan tidak mengurangi efektivitas dalam tubuh perekonomian.

Kelemahan sistem perekonomian Indonesia saat ini adalah bukan terletak di eksistensi komponen yang saling berinteraksi, namun pada definisi tujuannya serta aturan mainnya. Selama ini belum definitif, maka status quo sistem perekonomian kita akan berpotensi meningkatkan sovereign risk, dengan kata lain menurunkan creditworthiness level nusantara.

Bagaimana itu bisa terjadi? Hal itu terkait dengan sifat perekonomian kita yang sangat relevan dengan basis sumber dayanya, baik alam maupun manusia. Agraria dan oseania, merupakan dua sifat utama sumber daya alam kita, sementara perusahaan yang mempekerjakan SDM yang mengelola SDA masih didominasi oleh industri berbasis labor-intensive. Untuk memperkuat perekonomian dalam tiap ranah lainnya (makro/fiskal/moneter/industri jasa keuangan/pasar modal), value creation harus lancar dan itu sebaiknya dimulai dari penguatan di sektor riil, yaitu industrinya. Jika proses value creation di dalam industri telah terbentuk solid serta sustained, maka proses profit creation akan dimungkinkan, yang selanjuitnya dapat meningkatkan pertumbuhan industri jasa keuangan dan pasar modal.

Jika value dan proses creation ini mampet, maka antara ekspektasi sang perumus kebijakan dengan dampak yang dihasilkan tidak akan ada kesesuaian, alias secara statistik disebut sebagai deviasi, atau dalam bahasa sederhananya : risiko. Dalam ranah praktis, risiko adalah perbedaan antara ekspektasi (hal atau tujuan yang diharapkan) dengan hasil yang diperoleh. Risiko inilah yang terjadi dan sedang berlangsung dalam kondisi entropi meningkat dalam sistem perekonomian Indonesia, risiko sovereign. Indikator yang paling mudah untuk diamati adalah yield obligasi acuan 10-thn, yang belakangan relatif tinggi dan naik, demikian juga halnya dengan figur CDS Sovereign 10-thn. Lalu apa solusinya?

Untuk saat ini, dengan menganggap kondisi eksternal tidak didominasi sentimen negatif berkelanjutan dari AS/Eropa/China/India/Jepang, maka trigger solusi terhadap tantangan perekonomian Indonesia ada di dalam ranah mikroekonomi. Industri sebaiknya didukung oleh otoritas moneter dan fiskal. Intensifikasi aktivitas marketing yang efektif oleh lembaga yang berwajib di negara tujuan ekspor dapat meningkatkan nilai ekspor, tanpa harus membiarkan rupiah terjun bebas dengan asumsi agar harga barang kita dinilai murah dulu oleh para importir. Kebijakan ini merupakan suatu proposisi yang mengorbankan total sistem demi menyelamatkan komponen tertentu dalam perekonomian.

Apabila kata bijak Einstein di atas tidak dipahami secara mendalam oleh para perumus kebijakan ekonomi, maka ada kemungkinan kebijakan yang ada hanya akan memperbaiki elemen-elemen perekonomian yang sebenarnya tidak rusak, kontradiktif dengan kata bijak yang menyatakan “If ain’t broke, do not fix it!”

Related posts