Tren Konsumsi Domestik Bakal Meningkat - 5-10 Tahun

NERACA

Jakarta -Tingkat pertumbuhan konsumsi domestik di Indonesia diperkirakan akan terus mengalami tren peningkatan bahkan hingga 5-10 tahun mendatang. Hal ini didorong oleh perilaku masyarakat yang konsumtif dan menyukai hal-hal baru yang tengah menjadi tren.

"Indonesia adalah negara yang spesifik karena fundamental ekonominya ditopang konsumsi masyarakat. Tingginya pertumbuhan konsumsi domestik membuat laju perekonomian Indonesia tetap stabil di tengah kondisi perekonomian dunia yang penuh dengan ketidakpastian," kata Fabrice Carrasco, Managing Director Indonesia-Vietnam-Philippines Kantar WorldPanel (KWP), di Jakarta, kemarin.

Dijelaskannya, hampir sebagian besar masyarakat Indonesia memiliki perilaku konsumtif dan menyukai barang-barang baru. Mereka juga rela menghabiskan sebagian pendapatan mereka untuk membeli produk baru yang sedang tren. "Di negara lain hanya ditopang kinerja ekspor maupun government spending atau belanja pemerintah namun disini pada konsumsi domestik," lanjutnya. Karenanya, dirinya menyarankan pemerintah terus menjaga pertumbuhan konsumsi agar tidak mengalami penurunan.

Senada hal itu, General Manager Kantar Worldpanel Indonesia, Lim Soon Lee, menyatakan kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu membuat beban pengeluaran rumah tangga di Indonesia menjadi bertambah. Hal ini memberikan pengaruh terhadap pembelanjaan mereka pada produk-produk FMCG seperti makanan, minuman, perawatan tubuh, dan perawatan rumah tangga. Namun konsumsi domestik tidak anjlok pertumbuhannya karena pemerintah sudah memberikan program kompensasi.

"Kenyataannya, konsumen Indonesia hampir selalu bisa beradaptasi dalam keadaan sulit. Data survei Kantar Worldpanel menunjukkan beberapa brand baru prpduk FMCG justru mengalami kenaikan yang signifikan setelah pertama kali dilaunching di pasaran," ujar Soon Lee.

Yang diperlukan, lanjutnya, perusahaan-perusahaan FMCG terus berinovasi dalam produk-produk mereka sehingga brand-nya mendapat perhatian dari konsumen dan konsumen memiliki intensi untuk membeli produk tersebut.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Kantar WorldPanel, ada 5 karakteristik konsumen di Indonesia. Yakni, Pertama, masyarakat Indonesia menyukai hal hal yang berbau digital dan perkembangan teknologi seperti membeli produk smartphone merek terbaru atau menambah koleksi smartphone.

Kedua, masyarakat Indonesia lebih memilih kenyamanan produk. Sehingga jika sudah menyukai satu merek produk maka mereka tidak akan membeli merek lain. Ketiga, konsumen di Indonesia cenderung membeli produk yang sesuai dengan kepribadian misalnya dalam membeli pakaian atau baju disesuaikan dengan karakter masing-masing.

Keempat, konsumen di Indonesia lebih suka membeli produk kesehatan baik itu multivitamin, produk perawatan rambut dan produk perawatan kulit. Kelima, konsumen di Indonesia lebih mengutamakan value atau manfaat dari sebuah produk. Mereka tidak akan membeli produk yang tidak sesuai kebutuhan.

"Kami menyimpulkan, dalam lima tahun kedepan konsumsi masyarakat di Indonesia masih akan terus tumbuh, prospeknya sungguh luar biasa," ujar Fabrice.

Kenaikan BBM sempat merubah kebiasaan konsumen dalam membeli produk. Sebelum BBM naik, konsumen lebih cenderung membeli produk merek terkenal dengan harga mahal, namun setelah itu mereka mulai mempertimbangkannya dan menggantinya dengan produk yang jauh lebih murah. Hal ini ditopang pula dengan terkendalinya inflasi.

Dalam kesempatan yang sama, Expert Service Director, Regional Centre of Excellence Kantar WorldPanel Asia, Andrew Foster mengatakan dari hasil survei, tren perilaku konsumen Indonesia, ternyata ada empat tipe loyalitas pelanggan di Indonesia, yakni 100% Loyals, Shifting Loyals (loyalitas di antara dua pilihan merek), Split Loyals, dan Switcher (mereka yang suka gonta-ganti merek).

Lebih jauh dipaparkannya, dari 7.000 rumah tangga yang disurvei Kantar World Panel, 49,8 persen konsumen Indonesia masuk ke dalam golongan Split Loyal, kemudian disusul tipe Loyals sebesar 20,7 persen, Shifting Loyals 18,2 persen, dan Switchers 11,3 persen.

"Split Loyal adalah tipikal consumer yang cenderung mengganti merek produk lain jika mereka sudah bosan dengan merek lama. Secara umum, konsumen Indonesia merupakan tipikal yang menyukai hal baru," katanya.

Survei KWP mendapati, dalam kategori FMCG seperti mie instan misalnya, tipe pelanggan Split Loyals justru mendominasi, dengan angka 76,1 persen. Sementara Switchers 19,4 persen, Shifting Loyals 2,5 persen, dan hanya 2,1 persen adalah mereka yang 100% Loyals.

"Nah, untuk kategori kopi instan, tipe Split Loyals dan Switchers sangat mendominasi. Split Loyals mencapai 50,2 persen dan Switchers mencapai 44,9 persen. Sisanya, Shifting Loyals 3 persen dan 100% Loyals yang hanya 1,9 persen<" timpalnya.

Berbeda dengan kategori mie instan dan kopi instan, kategori minuman coklat justru hampir didominasi oleh tipe 100% Loyals yang mencapai 86,2 persen. Selanjutnya, disusul oleh tipe Shifting Loyals 10,2 persen, Split Loyals 3,5 persen, dan Switchers 0 persen. Hal itu, lantaran sebuah merek minuman coklat ternama begitu mendominasi konsumen Indonesia, Milo.

Di kategori laundry detergent, pelanggan terbanyak datang dari mereka yang Split Loyals, mencapai 70 persen. Adapun di kategori pasta gigi, mereka yang Split Loyals mencapai 47,6 persen, 100% Loyals mencapai 31,6 persen, dan Shifting Loyals mencapai 20,5 persen.

Sementara itu, kategori susu bubuk pertumbuhan, 100% Loyals mencapai 39,6 persen, Split Loyals mencapai 35,9 persen, dan Shifting Loyals mencapai 23,6 persen. Angka itu berbeda dengan kategori susu kental, yang justru jumlah Split Loyals-nya mencapai 50,8 persen.“Sukses sebuah merek dapat dilihat dari kemampuan mereka mendorong konsumen untuk menjadikan mereknya sebagai bagian dari pilihan konsumen untuk loyal,” pungkasnya. [bani]

Related posts