Bakrieland Sepakat Tak Keluarkan Terkait PKPU

NERACA

Jakarta – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) dan Bondholders akan mengupayakan untuk menyepakati kondisi standstill pada tanggal 19 Desember 2013, termasuk sepakat untuk tidak mengeluarkan pernyataan publik apapun atau disclosure tentang Obligasi.

Hal ini terkait dengan permasalahan yang tengah dihadapi yaitu permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) terhadap Bakrieland. Pada tanggal 30 September lalu, dimana para pemegang obligasi (Bondholders) Bakrieland melalui Bank of New York Mellon, London, UK (selaku Trustee) telah mengajukan Permohonan Kasasi atas putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, tertanggal 23 September 2013 yang lalu.

Perseroan dan bondholders sepakat tidak akan mengeluarkan pernyataan publik kepada pihak manapun kecuali bila diharuskan oleh Peraturan dan Undang-Undang yang berlaku di Indonesia dan atau telah disepakati bersama sebelumnya oleh kedua belah pihak.“Telah disepakati bersama pula bahwa kedua belah pihak dapat mencari opsi lain, dalam hal restrukturisasi tidak tercapai”, kata Chief Corporate Affairs Officer PT Bakrieland Development Tbk Yudy Rizard Hakim dalam siaran persnya (8/12).

Ditambahkan bahwa, PKPU tersebut diinisiasi oleh Bondholders setelah dianggap upaya restrukturisasi atas obligasi terkait tidak mencapai kesepakatan di antara Bakrieland dan Bondholders. Bakrieland telah menyampaikan bahwa negosiasi untuk restrukturisasi tidak akan dilakukan kecuali setelah Permohonan Kasasi tersebut dicabut.

Sebagai langkah awal dengan niat baik, Bondholders setuju untuk mencabut Permohonan Kasasi sehingga dapat duduk bersama kembali guna melakukan negosiasi dengan Bakrieland. Para Pihak memahami bahwa pencabutan atas Permohonan Kasasi tersebut adalah guna memfasilitasi penyelesaian yang baik bagi kedua belah pihak dan tidak diartikan sebagai pengakuan Bondholders atas Putusan Pengadilan Niaga tersebut.

Dalam proses negosiasi, perseroan secara prinsip menyetujui untuk menjaminkan asetnya berupa tanah dengan luas sekitar 600 hektar di kawasan Sentul atau Bogor yang dinilai cukup menjadi jaminan kepada Bondholders dalam proses restrukturisasi, serta akan melakukan upaya maksimal untuk menjaga nilai dari aset tersebut hingga finalisasi penyelesaian restrukturisasi obligasi secara komprehensif.“Diperkirakan dalam jangka waktu 2 bulan kedepan dengan catatan jangka waktu tersebut dapat diperpanjang bila diperlukan dan disepakati oleh kedua belah pihak”, katanya.

Sebelumnya, perseroan berupaya untuk menyelesaikan utang equity-linked bonds (ELB) senilai US$151 juta melalui restrukturisasi. Skema yang ditawarkan perseroan terkait restrukturasi utang yakni, meminta perpanjangan masa jatuh tempo yang sebelumnya Maret 2015 menjadi Maret 2016.

Direktur Utama ELTY Ambono Januarianto menjelaskan, pembayaran utang tersebut akan dilakukan secara bertahap yakni menggunakan skema pembayaran 60 hari pertama sebesar US$30 juta dan seterusnya. Untuk yang senilai US$30 juta, akan bayar tunai. Sedangkan untuk melunasi sisa utangnya sekitar US$120 jutaan, perseroan akan menjaminkan asetnya berupa tanah di Sentul atau Bogor dengan luas lahan mencapai 600 hektar.(nurul)

Related posts