Kemenkeu Akan Terbitkan Kebijakan Insentif Ekspor - Tekan Defisit Neraca Perdagangan

NERACA

Jakarta - Kementerian Keuangan akan mengeluarkan kebijakan baru untuk menghadapi gejolak ekonomi dalam negeri. Kebijakan itu terkait dengan pemberian insentif untuk eksportir dalam pengiriman barang ke luar negeri. Hal ini dianggap perlu untuk menekan defisit neraca perdagangan. "Dalam minggu ini akan ada pengumuman tentang kebijakan insentif ekspor. Isinya terkait kemudahan mengirim barang ke luar negeri. Dengan begitu para eksportir juga dapat terdorong menggenjot produksi," ujar Menteri Keuangan Chatib Basri, di Gedung Djuanda, Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (5/12).

Menurut dia, kebijakan baru yang akan diluncurkan itu merupakan bagian dari upaya Pemerintah untuk menggalakkan ekspor. Bahkan kebijakan tersebut dinilai sebagai jalan keluar dari masalah defisit neraca perdagangan. Juga untuk menjaga minat investor asing untuk tetap menanam modalnya di dalam negeri.

“Upaya insentif tersebut sebagai dorongan Pemerintah menggalakan ekspor untuk menekan defisit neraca perdagangan. Juga sebagai jalan keluar dari kemelut ekspor yang agak susah karena global pun mengalami tekanan dengan gejolak ekonomi dunia. Juga sebagai jawaban untuk menjaga minat investasi di dalam negeri. Karena neraca perdagangan Indonesia selalu terjadi defisit hampir selama empat kuartal. Dan kalau pemerintah tidak segera memperbaiki defisit neraca transaski berjalan investor akan sedikit masuk ke Indonesia,” terangnya.

Selain itu, Chatib menekankan agar para pelaku usaha di dalam negeri bisa lebih inovatif. Pasalnya dalam bersaing dengan pasar ekspor tidak hanya melalui produk berupa barang atau jasa. Tapi juga bisa berupa industri kreatif. “Keberhasilan Korea Selatan mengangkat perekonomiannya tidak terlepas dari berbagai inovasi di bidang teknologi maupun jasa. Mereka bahkan sukses menumbuhkan industri kreatif yang mampu menjadi penopang pertumbuhan ekonominya. Bahkan industri kreatifnya tidak hanya dikonsumsi dalam negeri tapi juga untuk ekspor. Nah, Indonesia harus bisa menirunya jika mau menjadi negara maju,” tutur dia.

Chatib juga menilai Indonesia juga memiliki kesempatan yang sama dengan Korsel untuk bisa mengembangkan teknologi serta menciptakan inovasi dalam segala hal. "Karena Indonesia juga mempunyai sumber daya alam berlimpah. Sehingga inovasi dan teknologi menjadi sesuatu yang mutlak untuk dikembangkan agar negara ini dapat mengekspor setiap barang mineral bernilai tinggi karena diolah menggunakan teknologi canggih dan membangun hilirisasi industri," tukasnya.

Pada kesempatan yang sama Ketua Badan Kebijakan Fiskal, Andin Hadiyanto, menambahkan Indonesia sangat terbuka untuk menerima investasi dalam bentuk apapun. Bahkan pemerintah juga akan membantu melalui pembentukan regulasi yang memudahkan. Pasalnya masih banyak sektor yang belum terinvestasikan. “Kita butuh lebih banyak lagi investasi untuk membangun transportasi. Selain itu kita juga butuh investasi yang berkelanjutan untuk produksi energi terbaharukan. Dengan begitu petumbuhan ekonomi di Indonesia bisa bergerak lebih cepat,” tandas dia. [lulus]

Related posts