Meskipun Berisiko, Rights Issue Masih Diminati

NERACA

Jakarta- Aksi korporasi penerbitan saham baru (rights issue) dinilai menjadi langkah alternatif emiten untuk menarik gairah investor di tengah pasar yang volatile. Selain menunjukkan kinerja emiten penerbit saham baru yang masih solid, dana yang diperoleh dari aksi korporasi ini sejatinya digunakan investor untuk melakukan ekspansi.

Praktisi pasar modal, Lucky Bayu Purnomo mengatakan, dibanding penawaran saham umum perdana (Initial Public Offering/IPO), rights issue menjadi alternatif pendanaan yang lebih diminati. Apalagi di tengah volatilitas pasar modal yang tinggi akibat sentimen ketidakpastian pasar global dan dalam negeri. “Rights issue dapat menjadi pelipur lara dalam kondisi seperti sekarang ini. Dengan menerbitkan rights issue, emiten dinilai berada dalam posisi yang masih solid.” katanya di Jakarta, Kamis (5/12).

Oleh karena itu, menurut dia, banyak emiten yang cukup confident untuk melaksanakan aksi korporasi ini hingga tahun depan. Catat saja, dari sektor perbankan, antara lain PT Bank Bukopin Tbk (BBKP), yang akan melaksanakan penawaran umum terbatas (PUT) atas 25% saham baru atau sekitar 2,7 miliar saham biasa. Aksi korporasi ini dilakukan perseroan dengan hak memesan efek terlebih dahulu, dengan target dana segar sebesar Rp1,72 miliar-Rp1,86 miliar.

Selain BBKP, PT Bank Windu Kentjana International Tbk (MCOR) juga akan melakukan penawaran umum terbatas dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) senilai Rp228,42 miliar dan penerbitan waran seri II senilai Rp173,59 miliar. Perseroan mengincar perolehan dana senilai Rp402,01 miliar yang diharapkan dapat memperkuat permodalannya untuk masuk ke Buku II.

Sementara dari sektor lainnya seperti sektor penerbangan, PT Garuda Indonesia Tbk (Garuda) juga tengah mematangkan rencananya untuk melaksanakan right issue sebesar 10% pada semester pertama 2014. Dana dari hasil korporasi ini diharapkan dapat mendukung ekspansi bisnisnya dan memperkuat modal usaha.

Meski demikian, sambung Lucky, emiten yang menerbitkan saham baru tersebut juga harus memperhatikan risiko pasar. Salah satunya, apabila rights issue tersebut nyatanya tidak dapat mengangkat harga sahamnya di pasar. "Apabila setelah dilakukannya rights issue, sahamnya tidak menguat di pasar. Itu yang jadi risiko." jelasnya.

Dia menilai, pasar modal Indonesia masih berada dalam tekanan dan cenderung melemah (downtrend). Kekhawatiran terjadi pengetatan ekonomi (Tapering off) oleh pemerintah Amerika Serikat (AS) tidak bisa tidak menjadi perhatian pelaku pasar. "Masyarakat tidak berorientasi pada berapa persentase penarikan stimulus The Fed, namun mereka menilai bahwa The Fed akan melakukannya, meski dibatasi.” ujarnya.

Faktor itulah, kata dia, yang menyebabkan pasar modal Indonesia saat ini dinilai rentan karena masih berada dalam tekanan sentimen. Apalagi dengan semakin dekatnya pelaksanaan pemilihan umum (Pemilu) yang dapat mendorong pasar lebih bergejolak. Sebagian besar pelaku pasar cenderung menghindar dibanding melakukan spekulasi. “IHSG hingga akhir tahun ini diproyeksikan masih berpeluang koreksi, berada di kisaran 4.100-4.000.” pungkasnya.

Sekadar informasi, pada perdagangan Kamis (5/12) IHSG tercatat melemah di level 4.216,89, turun 0,5% atau 24,4 poin. Sebanyak 160 saham bergerak melemah, 73 saham menguat, dan 113 saham stagnan. (lia)

Related posts