Perkuat Modal, Bukopin Gelar Rights Issue - Bidik Dana Rp 1,8 Triliun

NERACA

Jakarta – Perkuat moda di tahun 2014, PT Bank Bukopin Tbk (BBKP) berencana mendanainya lewat penerbitan Penawaran Umum Terbatas (PUT) III dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue.

Direktur Utama PT Bank Bukopin Tbk, Glen Glenardi menyebutkan, pihaknya merencanakan hasil rights issue ini untuk memacu pertumbuhan perseroan dan dialokasikan sepenuhnya untuk modal kerja perseroan pada 2014,“Kami akan mengadakan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 11 Desember mendatang untuk meminta persetujuan kepada para pemegang saham”, katanya di Jakarta, Kamis (5/12).

Dalam aksi korporasi kali ini, perseroan menawarkan sebanyak-banyaknya 25% saham baru atau sekitar 2.659.505.614 saham biasa kelas B baru. Sedangkan harga pelaksanaannya sebesar Rp650-Rp700 per saham, dengan begitu perseroan akan memperoleh dana Rp1,72 triliun sampai Rp1,86 triliun.

Para pemegang saham nantinya dapat menambah kepemilikan sahamnya di Bank Bukopin dengan cara membeli saham baru yang diterbitkan perseroan. Dia menjelaskan bahwa, dalam aksi ini tidak memiliki pembeli siaga untuk menyerap rights issue perseroan, akan tetapi para pemegang saham Bank Bukopin memiliki hak untuk membelinya,”Seperti contohnya Bosowa dan Kopelindo yang mempunyai hak beli saham dan akan menyatakan exercise,”ujarnya.

Tercatat, PT Koperasi Pegawai Bulog Seluruh Indonesia (Kopelindo) mempunyai saham di Bank Bukopin sebanyak 2.161.458.910 lembar saham atau 27,09% dan PT Bosowa Corporindo memiliki 1.115.828.181 saham atau 13,98%.

Sementara itu, terkait adanya kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 7,5% memberikan dampak bagi kinerja keuangan perseroan. Dimana perseroan menurunkan target pertumbuhan kredit pada tahun ini di kisaran 16% sampai 17% dari target sebelumnya 20%,”Kita berhati-hati karena kemungkinan sampai akhir tahun pertumbuhan kredit 16 sampai 17% saja. Tahun depan Bank Bukopin akan fokus kepada pembiayaan sektor Usaha Kecil Menengah (UKM), khususnya pada segmen perdagangan,”ungkapnya.

Dia menambahkan, untuk mendorong pertumbuhan tersebut, perseroan akan memperkuat perolehan Dana Pihak Ketiga (DPK). Namun, untuk pemnbiayaan, perseroan akan lebih teliti dalam menyeleksi sektor apa saja yang akan diberikan kredit,”Kita akan lihat sektor apa yang bisa bertahan pada tahun depan, apa infrastruktur, properti atau yang lainnya. Hanya saja saat ini belum bisa mengatakan sektor tertentu”, katanya.

Kedepannya untuk sektor properti, kata Glen Glenardi, perseroan akan memilih kelas menengah ke atas. Walaupun saat ini masih bermain di pasar menengah ke bawah. Nantinya, untuk pembiayaan apartemen kelas menengah akan berangsur-angsur ditinggalkan unutk mengejar kelas high-end.

Hingga kuartal ketiga 2013 kredit segmen UKMK berhasil tumbuh 16,45% menjadi Rp16,79 triliun dibandingkan periode yang sama pada 2012 sebesar Rp14,4 triliun. Sedangkan segmen mikro, outstanding kredit mikro mencapai Rp2,98 triliun atau tumbuh 7,76%. Sementara untuk laba, perseroan membukukan laba tumbuh 18,86% year on year dan pertumbuhan aset hingga 12,54% menjadi Rp69,15 triliun. (nurul)

Related posts