Nilai Rupiah Makin Buyar

Oleh: Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Nilai rupiah terhadap US$ kembali anjlok hingga menembus Rp 12.000 sehingga memberikan dampak yang berarti bagi pelaku usaha, termasuk industri yang memiliki pinjaman dalam bentuk dolar, maupun beban biaya produksi yang komponen bahan bakunya di beli dalam dolar AS. Tidak hanya itu, dampak yang sangat mengkhawatirkan, adalah posisi utang pemerintah dalam bentuk US$ akan terus membengkak hingga 25%. Semakin memburuknya kurs rupiah juga membuat kekhawatiran pelaku pasar menyangkut ketahanan stabilitas ekonomi, ancaman inflasi dan kekuatan cadangan devisa negara.

Apalagi sebagian analis sudah memprediskikan bila pelemahan nilai tukar rupiah akan berlangsung hingga pemilu 2014 mendatang. Apa yang menjadi kekhawatiran pelaku pasar sangat beralasan, karena kondisi ini menggambarkan hal yang sama dampak buruknya nilai tukar rupiah terhadap US$ mampu memporak-porandakan perekonomian dalam negeri yang terjadi pada 1998. Kala itu, pemerintah selalu mengklaim pelemahan rupiah masih dinilai wajar dan posisi aman. Sementara masyarakat diminta untuk tidak panik, namun apa yang disampaikan pemerintah ternyata diluar prediksi. Dimana rupiah di pasar makin bergerak liar hingga memicu terjadinya perekonomian dalam negeri kolaps karena inflasi terus bergerak tajam.

Kini kejadian yang sama akan kembali terulang, namun pemerintah masih bersikap tenang dan masyarakat lagi-lagi diminta untuk tidak panik. Hanya saja, apa yang disampaikan pemerintah belum direspon baik oleh masyarakat lantaran intervensi pemerintah terhadap pelemahan rupiah belum berjalan efektif. Apalagi, perekonomian dalam negeri berjalan lambat. Melihat kondisi demikian, sikap optimisme yang disampaikan pemerintah bila rupiah akan kembali normal dan masyarakat diminta tenang, tidak ada yang salah dengan cara yang dilakukan pemerintah untuk meredam kepanikan. Hanya saja, sikap waspada dan solusi kongkrit adalah paling utama agar tidak lalai dan dampak buruknya masyarakat dan pelaku usaha bakal dirugikan.

Terlepas dari berbagai faktor eksternal yang mempengaruhi anjloknya nilai tukar rupiah, namun yang pasti rupiah kini menuju keseimbangan baru di level Rp 12.000. Ironisnya, di tengah melemahnya nilai tukar rupiah masih saja masyarakat memanfaatkan kondisi buruk ini dengan berspekulasi menahan menjual US$ hingga batas paling akhir. Apalagi, kebutuhan valas di akhir tahun semakin tinggi hingga memicu para spekulan makin empuk memanfaatkan pelemahan rupiah.

Pemerintah sepertinya belum menyakinkan publik mampu meredam pelemahan rupiah dalam jangka pendek, alasannya di akhir tahun ini semua konsentrasi pemerintah semakin buyar untuk kepentingan pemilu 2014. Sehingga skala prioritas menyelamatkan rupiah dari dampak lebih buruk lagi hanya sebatas konsep, tetapi implementasi di lapangan masih jauh dari harapan. Sedangkan peran legislatif sebagai pengawas kebijakan pemerintah juga lebih fokus para persiapan pemenangan pemilu. Alhasil, lambat tapi pasti jika tidak diatasi secara serius, depresiasi rupiah semakin dalam tinggal menunggu waktu saja.

Related posts