BKPM Klaim Indonesia Bakal Jadi Pemain Global

NERACA

Jakarta - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengklaim sudah saatnya Indonesia menjadi pemain global dalam hal investasi. Pasalnya, rasio penanaman modal dari investor dalam negeri sudah semakin tumbuh. Dengan begitu, Indonesia dinilai telah mampu melakukan ekspansi investasi ke luar negeri.

“Saya yakin Indonesia sudah saatnya menjadi pemain global. Outward investment tidak akan mengancam negara ini, karena sekarang kita yang mau mengancam investasi di negara lain. Jadi sudah saatnya berganti posisi," ungkap Kepala BKPM, Mahendra Siregar, di Jakarta, Rabu (4/12).

Dia juga menjelaskan, rasio investasi domestik atau penanaman modal dalam negeri (PMDN) saat ini hampir menyalip jumlah penanaman modal asing (PMA). Perbandingannya, terang Mahendra, adalah satu berbanding dua. Hal itu dapat dilihat pada laporan kuartal III 2013 yang menunjukkan realisasi nilai investasi domestik tercatat Rp33,5 triliun. Sedangkan aliran investasi asing yang sudah terealisasi mencapai Rp67 triliun.

"Kita beruntung bahwa juga banyak perusahaan asing yang modalnya berasal dari perusahaan Indonesia dengan kepemilikan saham mulai dari 1% sampai mayoritas. Kemudian banyak juga perusahaan Indonesia yang sekarang berbasis di Singapura atau Hong Kong. Hal ini bagus bagi iklim investasi kita supaya lebih mudah dalam mengakses pasar. Sehingga investasi asal domestik di luar negeri bisa naik sekitar 40%-50%," jelas Mahendra.

Meski begitu Mahendra mengakui pada dasarnya Indonesia sedang mengalami masalah perekonomian yang ditandai defisit neraca transaksi berjalan, pelemahan rupiah, harga komoditas, inflasi, dan perlambatan pertumbuhan.

Namun dengan mempertahankan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) di level 5,6%, dirinya menilai kepercayaan pada investor juga dapat dipertahankan. Dengan begitu investasi yang ditargetkan pada tahun depan tumbuh menjadi Rp506 triliun, dapat tercapai.

Dia melanjutkan, naiknya suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate secara berkala memang membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kian melemah. Bahkan, dengan angka mencapai 7,5% juga berpengaruh terhadap pertumbuhan tingkat inflasi. “Kami terus memperbaharui informasi terkait dengan pergerakan ekonomi dunia saat ini. Jadi meski pertumbuhan investasi Indonesia penuh dengan tantangan yang cukup keras, kami percaya target investasi dapat tercapai. Karena meskipun sulit bukan berarti hal tersebut tidak mustahil dilakukan,” tandasnya. [lulus]

Related posts