Memacu Daya Saing PT Pusri Lewat Modernisasi Pabrik

NERACA Jakarta – Sudah menjadi rahasia umum bila tingkat efisiensi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) saat ini masih rendah, baik itu dalam pengembangan bisnis korporasi, cost produksi, sumber daya manusia hingga pembiayaan belanja modal atau investasi. Padahal efisiensi harus dilakukan agar korporasi mampu bersaing di sektor industri internasional. Rendahnya tingkat efisiensi di BUMN menjadi perhatian serius bagi Menteri BUMN Dahlan Iskan. Bahkan hingga mengusulkan merger terhadap BUMN yang tidak lagi sehat. Kata Dahlan, semua pemborosan di perusahaan plat merah sebenarnya bisa diatasi. "Masalahnya bukan bisa atau tidak bisa, tapi mau atau tidak mau,”tandasnya. Tuntatan menjadi perusahaan negara yang efisien, rupanya tengah di galakkan PT Pupuk Sriwidjaja Palembang (Pusri) melalui modernisasi pabrik yang sudah tua dengan menggunakan teknologi canggih dan ramah lingkungan. Langkah ini dilakukan selain guna meningkatkan daya saing serta meningkatkan kapasitas produksi, juga amanat dari Instruksi Presiden (Inpres) No.2/2010 tentang Revitalisasi Pabrik Pupuk, yang mengedepankan ramah lingkungan, meminimalkan penggunaan gas dan energi, serta meningkatkan produksi. Direktur Utama PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) Musthofa mengatakan, revitalisasi pabrik II B adalah komitmen perseroan untuk meningkatkan efisiensi, sehingga nantinya diharapkan kapasitas produksi meningkat,“Revitalisasi pabrik II B dilakukan karena pabrik sudah tua dan menggunakan teknologi tahun 70-an yang tentu saja boros bahan bakar minyak dan tingkat polusi masih tinggi,”ujarnya. Dirinya menuturkan, kondisi pabrik pupuk dan amonia di Indonesia sebagian besar sudah berusia tua dan kurang efisien dari sisi operasional dan bisnis. Maka dari itu, revitalisasi dan modernisasi pabrik sangat dibutuhkan. Hal ini pula yang dialami PT Pusri. Dimana perseroan memiliki empat unit pabrik yang rata-rata usianya 35 tahun k atas. Padahal secara teknis, idealnya usia pabrik pupuk paling lama 20 tahun sudah harus dilakukan revitalisasi. Total kapasitas produksi PT Pusri dari empat unit pabrik tersebut mencapai 2,262 juta ton pertahun. Namun karena kondisinya berusia tua, beberapa tahun terakhir kemampuan produksinya tidak bisa maksimal lagi dan karena itu, revitalisasi dan modernisasi pabrik sangat mendesak untuk mengejar ketertinggalan dan juga mencegah terjadinya penurunan kinerja perusahaan, “Nantinya setelah revitalisasi pabrik baru yang diperkirakan mulai berproduksi tahun 2015, diharapkan mampu mendongkrak produksi urea 2,61 juta ton per tahun hingga 2,8 juta ton per tahun, “kata Musthofa. Kemudian besarnya biaya investasi yang harus di kuras PT Pusri untuk revitalisasi ke seluruh pabriknya, menjadi alasan bila revitalisasi pabrik pupuk akan dilakukan secara bertahap. Banyak harapan dari revitalisasi pabrik, dimana kedepannya permintaan pupuk dalam negeri dapat diimbangi dan jumlah pupuk yang bisa diekspor lebih banyak lagi. Sekretaris Perusahaan PT Pusri, Zain Ismed menambahkan, nilai investasi revitalisasi pabrik II B sekitar US$ 561 juta. Dimana sumber pendanaan berasal dari ekuitas perusahaan dan pinjaman perbankan, “Nilai proyek US$ 561 juta didanai dari tujuh konsorsium bank, yakni Bank Mandiri, BNI, BRI, BJB, Bank Sumselbabel, dan UOB Indonesia,”ungkapnya.

Selanjutnya, Pusri juga akan meneruskan proses revitalisasi untuk pabrik III dan IV yang berdiri di lokasi yang sama. Di samping merevitalisasi keempat pabrik yang sudah ada, Pusri juga berencana membangun pabrik di lokasi baru. Disebutkan, pembangunan pabrik baru itu merupakan rencana jangka panjang dan akan lebih baik jika pabrik barunya itu didirikan di wilayah Sumatera Selatan.

Efisiensi Energi

Kata Zain Ismed, pabrik Pusri II juga akan menghemat pemakaian energi gas dari 21,47 MMBTU per ton menjadi 14,8 MMBTU per ton,”Kami akan mengkonversi bahan bakar gas ke batu bara di mana saat ini sedang proses pembangunan pembangkit yang dilakukan oleh PT Rekayasa Industri (Rekin),”paparnya.

Adapun estimasi kebutuhan batu bara untuk perseroan tersebut sebesar 400.000 ton per tahun. Nantinya, bahan bakar itu akan disuplai oleh PT Bukit Asam (Persero)Tbk. Dia mengatakan pabrik ini nantinya dapat memproduksi amonia sebanyak 2.000 ton per hari atau 660.000 ton per tahun, serta urea sebanyak 2.750 ton per hari atau 907.500 per tahun. Disebutkan, Pusri II-B menggunakan teknologi Ases 21 yang dikembangkan oleh Pusri dan Toyo Int, dengan pelaksana proyek PT Rekayasa Industri Persero dan Toyo Engg Corp Int.

Asal tahu saja, pabrik Pusri II yang menempati lahan seluas 15 hektar dinilai sudah tidak efisien lagi. Dimana saat ini kapasitas terpasang produksi amoniak sebanyak 445.000 ton setahun dan urea 552.000 ton per tahun. Setelah direvitalisasi, kapasitas masing-masing akan dinaikkan menjadi 2.000 ton dan 2.750 ton per hari. Itu artinya, saban tahun, pabrik Pusri II akan mampu memproduksi 726.000 ton amoniak dan 1,72 juta ton urea. Kapasitas tersebut akan melampaui kapasitas pabrik Pusri IB, yang merupakan hasil revitalisasi pabrik Pusri I pada 1994 silam. Dalam setahun, pabrik Pusri IB mampu memproduksi 396.000 ton amoniak dan 570.000 ton untuk pupuk urea.

Komitmen PT Pusri terhadap lingkungan tidak perlu diragukan lagi dan hal ini terlihat dari prestasi dan pengharagaan yang diraih. Pasalnya, menjadi perusahaan yang efisien dan ramah lingkungan menjadi komitmen perseroan. “PT Pusri Palembang juga terus berupaya menjadi perusahaan yang ‘dimiliki’ oleh lingkungan,” ujar Manajer Humas PT Pusri Palembang, Sulfa Ganie.

Perseroan, lanjutnya, mempunyai kebijakan yang memang diprioritaskan untuk efisiensi dan lingkungan hidup. Contoh kecil, sebutnya, dengan kecanggihan teknologi yang dimiliki PT Pusri Palembang semaksimal mungkin mengurangi dan mengolah limbah sehingga menjadi lebih baik. PT Pusri Palembang bahkan telah menginvestasikan dana miliaran rupiah untuk pengadaan alat-alat pengolah limbah. Mulai unit pengolah limbah cair, pengolah limbah gas, pengolah limbah minyak, termasuk polusi suara. Lebih jauh, sambung Sulfa, PT Pusri Palembang juga menerapkan sistem manajemen lingkungan ISO 14001-2004, dimana berdasar hasil audit internal dan eksternal yang dilakukan setiap enam bulan, PT Pusri Palembang tetap dipercaya untuk menerapkan sistem tersebut. (bani)

Related posts