BI Apresiasi Pelapor LLD dengan Penghargaan

NERACA

Jakarta - Deputi Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengatakan pihaknya memberi apresiasi kepada pelapor Lalu lintas devisa (LLD), Lembaga Bukan Bank (LBB) dan pelapor Devisa Hasil Ekspor (DHE). Dia menjelaskan, penghargaan ini diberikan kepada bank maupun lembaga bukan bank yang menjalankan kewajiban pelaporan LLD dan DHE.

“Penilaian LLD ditetapkan berdasarkan jumlah dan variasi laporan, kualitas data, kecepatan dan ketepatan penyampaian laporan, serta kerjasama dan kecepatan respons petugas pelapor LLD terhadap permintaan BI,” kata Perry di Jakarta, Rabu (4/12). Dia mengatakan, kategori pelapor DHE dibagi dalam dua kelompok, yaitu Bank yang menyampaikan Rincian Transaksi Ekspor (RTE) dan Eksportir. Penilaian terhadap bank RTE didasarkan pada kriteria jumlah penerima DHE dan record RTE, serta dokumen pendukung kesesuaian laporan RTE dengan laporan transaksi.

“Kriteria yang dipergunakan untuk eksportir pelapor DHE adalah besarnya nilai DHE, rasio DHE terhadap Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) free on board, dokumen pendukung, serta kesesuaian PEB dengan DHE dan dokumen pendukung,” tambah dia. Lebih lanjut Perry mengungkapkan, data LLD sangat berperan untuk merumuskan kebijakan yang akan dilakukan oleh pemerintah dan bank sentral. "Dari tahun 1997 lalu, ketika krisis ekonomi terjadi, kebutuhan LLD sangat penting untuk melakukan monitoring yang selanjutnya akan diputuskan langkah langkah untuk melakukan pencegahan," tambah Perry.

Dia menambahkan, awalnya laporan dimulai dari perbankan yg melaporkan LLD yang dilakukan oleh bank dan nasabah. Kemajuan bisa dilihat dari jumlah pelapor dana data yang bisa lihat di statistik. “Pada posisi September 2013, jumlah pelapor LLD - Bank, LLD LBB dan LLD - ULN secara berturut-turut sebesar 120 pelapor, 2.514 pelapor dan 2.313 pelapor. Sedangkan pelapor DHE saat ini berjumlah sekitar 11.700 eksportir,” imbuh Perry.

Selain itu, coverage data juga meluas. Data ULN September US$136,7 miliar. Meningkat 11% dari September 2012. “Pencapaian merupakan kerjasama yang baik. Peningkatan jumlah pelapor dan coverage hanya berhasil karena dukungan yang penuh dari pelapor,” jelas dia. Dengan pelaporan yang efektif maka hal ini diharapkan dapat berkontribusi besar pada stabilitas makro ekonomi, sehingga pelaku bisnis yang diantaranya termasuk pelapor LLD dan pelapor DHE juga akan dapat menjalankan roda bisnisnya dengan lebih baik.

“Untuk itu, dalam kesempatan ini, Saya berpesan agar laporan LLD harus senantiasa dijaga baik kualitas maupun kuantitasnya secara lengkap, benar dan tepat waktu,” jelas Perry. Pada awalnya kewajiban laporan LLD dimulai dari LLD bank yang melaporkan kegiatan LLD yang dilakukan oleh Bank sebagai pelaku sendiri maupun nasabahnya. Kemudian berikutnya dikuti dengan laporan LLD–Lembaga Bukan Bank.

Demikian pula untuk laporan LLD–Utang Luar Negeri (ULN) yang sebelumnya bersifat sukarela (voluntary) menjadi wajib dilaporkan kepada Bank Indonesia sejak tahun 2000. Dalam rentang waktu hampir 13 tahun sejak diluncurkan ketentuan dimaksud, pelaporan LLD menunjukkan kontribusinya yang semakin signifikan dalam memasok data bagi perumusan kebijakan di Bank Indonesia. [sylke]

Related posts