Ekonomi RI di Ujung Tanduk

Kondisi ekonomi dunia yang penuh ketidakpastian akibat mulai membaikya perekonomian Amerika Serikat dan Jepang belakangn ini, tentunya akan berdampak bagi Indonesia. Selain penyelesaian krisis ekonomi Eropa yang berlarut-larut, IMF dan Bank Dunia sudah memberikan warning antisipasi terhadap memburuknya ekonomi negeri ini di waktu mendatang.

Sinyal Bank Dunia siap membantu Indonesia itu terungkap dari pernyataan Managing Director and Chief Financial World Bank Bertrand Badre saat bertemu dengan Menteri Keuangan Chatib Basri di Jakarta, pekan ini, terutama terkait dengan dampak bank sentral Amerika Serikat (The Fed) jika memutuskan mengurangi stimulus (tapering off) dalam waktu dekat.

"Kami siap memberikan bantuan finansial jika memang dianggap perlu. Stabilitas negara-negara emerging market juga merupakan tugas dan tanggung jawab Bank Dunia," ujar Badre.

Tidak hanya itu. IMF dan Bank Dunia juga memprediksi laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada akhir 2013 tidak mencapai 6%, sementara pertumbuhan ekonomi negara sedang berkembang Asia diperkirakan akan menurun 0,7% menjadi 7,0% dengan laju pertumbuhan ekonomi ASEAN-5 diperkirakan turun 0,4% termasuk Indonesia.

Banyak analis ekonomi menduga krisis ekonomi Eropa akan semakin buruk dan ketidakpastian solusinya telah menyandera ekonomi dunia ke dalam ketidakpastian, dan memberikan dampak negatif pada situasi perekonomian dunia.

Dampaknya, tentu saja berimbas berimbas ke kawasan negara Asia yang selama ini dikenal tangguh. Bahkan pertumbuhan ekonomi China pada kuartal IV-2012 turun menjadi kurang dari 8%, padahal saat krisis ekonomi AS masih tumbuh di atas 9% dan ekonomi India juga tumbuh 6,7% pada kuartal IV-2012. Walau demikian, perekonomian AS dan Jepang terlihat mulai membaik sejak triwulan III-2013 yang tentunya memberikan dampak bagi negara berkembang lainnya termasuk India akan terkena imbasnya.

Bagaimana dengan kondisi Indonesia? Dampak krisis di negeri ini mulai terasa sejak akhir 2011 di mana nilai ekspor mulai turun. Data BPS menunjukkan nilai ekspor per Oktober tercatat US$15,72 miliar, lebih rendah dari posisi Desember 2011 US$17,20 miliar, lebih rendah lagi dibandingkan posisi Juni 2011 US$18,3 miliar.

Pada periode yang sama ekspor nonmigas tercatat US$12,99 miliar, lebih rendah dari posisi Desember 2011 US$13,60 miliar pada Desember 2011, dan lebih rendah lagi dari posisi Juni 2011 US$14,82 miliar. Akibat berkurangnya ekspor tersebut, tak heran banyak pengusaha mulai mengurangi karyawan ataupun jam kerja karyawan.

Data Bank Indonesia (BI) juga menunjukkan defisit transaksi berjalan yang makin membengkak. Selama Januari-September 2013 defisit itu mencapai US$24,276 miliar, hampir sama dengan angka defisit 2012 US$24,418 miliar. Sedangkan defisit perdagangan Indonesia selama Januari-Oktober 2013 mencapai US$6,38 miliar, lebih besar dibandingkan pada defisit kuartal I-2012 t US$3,8 miliar. Padahal, pada kuartal II-2011 masih surplus US$11,8 miliar. Ini terjadi karena surplus perdagangan barang dan jasa semakin menipis serta transaksi modal dan finansial yang defisit sejak kuartal III/2011.

Karena itu, Indonesia harus mulai mewaspadai dampak krisis ekonomi Eropa yang membawa pengaruh besar pada perekonomian global saat ini. Apalagi situasi perkembangan internasional yang negatif tersebut dibarengi dengan kondisi dalam negeri yang menimbulkan banyak ketidakpastian, serta menghangatnya suasana sosial dan politik.

Karena itu, patut disadari bahwa saat ini banyak pengusaha maupun investor asing bersikap wait and see melihat kondisi perekonomian Indonesia di tengah balada dalam negeri dan isu tapering off bank sentral AS, yang sudah diindikasikan dengan makin melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belakangan ini. Jadi, pemerintah harus cepat mengantisipasinya ke depan.

Related posts