Penjualan Obat OTC Meningkat 10% - Industri Farmasi

NERACA

Jakarta – Di tengah lesunya perekonomian nasional sehingga tidak sedikit industri-industri yang tidak bisa bertahan pada tahun ini, tapi tidak demikian untuk industri farmasi. Nielsen Holdings perusahaan informasi dan pengukuran global mencatat hingga bulan Agustus 2013, pasar produk farmasi di Indonesia terus bersinar dengan memperlihatkan pertumbuhan yang signifikan dimana produk farmasi Over The Counter (OTC) atau yang bisa dibeli bebas bertumbuh sebesar hampir 10%, dua kali lipat dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Dan penjualan produk ini didominasi oleh masyarakat ekonomi menengah dan bawah.

“Pertumbuhan penjualan produk farmasi OTC ini didorong oleh konsumen dari kelas menengah dan kelas bawah, dimana nilai pembelanjaan lebih tinggi di kelas bawah meningkat 43% dan jumlah pembelian lebih tinggi di kelas menengah meningkat 30%” kata Hellen Katherina, Director Consumer Panel Service, Nielsen, di Jakarta, Rabu.

Adapun penjualan pada konsumen kelas menengah, pengeluaran untuk produk farmasi OTC ini terjadi pada semua segmen dan vitamin merupakan segmen dan penetrasinya tertinggi di setiap rumah tangga hingga 56%. Pengeluaran tertinggi kedua adalah untuk segmen obat batuk dengan 22% disusul oleh obat analgesik dan penurun demam dengan sedikit perbedaan yaitu 21%.

Sementara itu untuk konsumen kelas bawah, semua segmen produk farmasi OTC mengalami kenaikan yang signifikan akibat terjadi peningkatan nilai pembelanjaan. Di kelas ini, seperti halnya pada konsumen kelas menengah, segmen vitamin bertumbuh 56%. Sementara itu segmen obat analgesik dan penurun demam bertumbuh sebesar 43%; dan segmen obat batuk bertumbuh sebesar 27%.

Obat-obatan yang biasa di cari obat flu, demam dan sakit kepala merupakan penyakit yang biasa dialami konsumen dari kelas menengah dan bawah. Hal ini terlihat dari tingginya kontribusi penjualan segmen obat analgesik dan penurun demam pada total penjualan produk farmasi OTC sebesar 19%. Pada konsumen kelas menengah, “Penjualan obat segmen ini meningkat 20,5% sementara peningkatan tertinggi terjadi pada konsumen kelas bawah dengan 42,6%,” terangnya.

Dan 70,3% penjualan obat analgesik dan penurun demam sebagian besar terjadi di pasar tradisional, tepatnya di toko atau warung dan penjualan di apotik atau toko obat hanya sebesar 17,2%. Sementara itu, 22% pembelian adalah eceran, sementara sisanya membeli minimal pembelian 1 bungkus.

Kesadaran Kesehatan

Penetrasi vitamin telah mencapai 34% pada konsumen perkotaan Indonesia dengan konsumen dari kelas menengah keatas sebagai target utama. Pada konsumen kelas atas terjadi penetrasi sebesar 46%, pada kelas menengah sebesar 36% dan pada kelas bawah sebesar 22%. “Untuk multivitamin baru didominasi oleh ekonomi keatas,” ujarnya.

Adapun demikian pada kelas menengah terjadi peningkatan baik pada frekwensi pembelian mengalami peningkatan 0,7%, maupun pada nilai pembelanjaan meningkat hingga 14,1% untuk vitamin.“Tren ini bisa jadi menunjukkan indikasi bahwa konsumen, terutama dari kelas menengah, semakin mengerti atau semakin sadar akan pentingnya kesehatan,mMeningkatnya penetrasi vitamin berarti terjadi peningkatan konsumsi dan dapat dikatakan bahwa konsumen saat ini lebih sadar untuk mencegah datangnya penyakit ketimbang mengobati,” ucapnya.

Sedangkan untuk konsumen kelas menengah, pertumbuhan tertinggi untuk vitamin (36%) berasal dari penjualan di apotik dan toko obat. Sementara itu penjualan di toko umum dan warung mencatat peningkatan sebesar 24%. Multivitamin merupakan produk yang terbanyak dibeli di kedua griya penjualan tersebut. “Dengan meningkatnya kesadaran konsumen terutama di kelas menengah untuk menjaga kesehatan pasar vitamin terus bertumbuh,” tukasnya.

Mayoritas Impor

Pada kesempatan lain, sebelumnya, Wakil Sekretaris Jenderal Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia Kendrariadi mengatakan hingga saat ini, sebanyak 90% kebutuhan bahan baku industri farmasi masih harus didatangkan dari luar negeri atau impor. "Sebanyak 90% bahan baku masih impor, dan importasi terbesar dari China dan India yang mencapai 60%," kata Kendrariadi.

Kendrariadi menjelaskan, sesungguhnya, apabila ada perusahaan yang berinvestasi untuk membangun parik bahan baku akan jauh lebih baik, namun tentunya hasil produksi tersebut bukan hanya untuk dipasarkan di dalam negeri saja."Jika ada perusahaan yang akan berinvestasi, itu sangat baik, namun juga harus diingat, hasil produksi bukan hanya untuk konsumsi dalam negeri saja, harus diekspor," ujarnya.

Kendrariadi mengatakan, peranan pemerintah untuk mendorong masuknya investasi industri bahan baku farmasi sangat dibutuhkan, karena industri farmasi bukan hanya bersifat jangka pendek, melainkan bersifat jangka panjang."Kita juga selalu mencari berbagai bentuk kerja sama dengan perusahaan-perusahaan asing, namun dari dalam negeri sendiri juga harus ada kejelasan khususnya dari segi politik dan keamanan yang harus stabil," jelasnya.

Menurut Kendrariadi, untuk saat ini, beberapa perusahaan asing yang masuk ke Indonesia baru memasuki fase pembelian pabrik-pabrik yang sudah ada atau melakukan kerja sama antar perngusaha."Beberapa perusahaan dari Spanyol dan juga Singapura berminat untuk melakukan kerja sama dengan kita," ucapnya.

Related posts