Menunggu Langkah Konkret Pemerintah Menolong Rupiah

Menunggu Langkah Konkret Pemerintah Menolong Rupiah

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama jajaran kabinetnya tengah berupaya mati-matian mengataasi agar nilai tukar Rupiah tidak semakin terjun bebas, tapi membaik. Awal pekan ini Presiden pun menggadakan rapat koordinasi bidang perekonomian di Istana Kepresidenan di Cipanas, Cianjur, Jawa Barat.

Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha mengatakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima laporan perkembangan ekonomi Indonesia, terutama mengenai kondisi rupiah yang terus tertekan. Julian menjelaskan, ada dua faktor penyebab tertekannya nilai tukar Rupiah. Yaitu, faktor internal atau domestik, yang dipicu adanya defisit transaksi berjalan. Sedangkan faktor eksternal, adanya spekulasi bahwa Bank Sentral AS (FED) akan mengeluarkan kebijakan pengurangan stimulus.

Dalam rapat, kata Julian, Presiden menerima masukan dari para menterinya. “Masing-masing dari menteri teknis memberikan pandangan dan saran apa yang bisa kita lakukan atau diformulasikan menjadi kebijakan untuk antisipasi hal-hal yang berkaitan dengan tertekannya mata uang kita," kata Julian.

Dia menambahkan, antisipasi kebijakan pengurangan stimulus ekonomi perlu dilakukan lantaran perekonomian global masih sangat tergantung dengan perekonomian AS. Jika kebijakan itu benar diterapkan, kata dia, dampaknya akan luas.

Pada akhir Agustus 2013 lalu, pemerintah sudah mengeluarkan empat paket kebijakan ekonomi, salah satunya untuk menolong Rupiah. Pengumuman itu dilakukan oleh Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa.

Pertama, mendorong ekspor dan memberikan tambahan pengurangan pajak untuk ekspor padat karya yang memiliki ekspor minimal 30% dari total produksi, dan menurunkan impor minyak dan gas dengan mendorong penggunaan biodiesel.

Kedua, menetapkan pajak impor barang mewah dari sekarang 75% menjadi 125 – 150%, dan memperbaiki ekspor mineral dengan memberikan relaksasi kuota. "Paket kedua ditujukan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi," kata Hatta.

Pemerintah, kata Hatta, akan memastikan defisit fiskal tetap berada pada kisaran aman 2,38 persen serta penambahan pengurangan pajak untuk industri padat karya.

Sementara itu, paket ketiga, terkait dengan upaya untuk menjaga daya beli masyarakat dan tingkat inflasi. Pemerintah, kata Hatta, akan bekerja sama dengan Bank Indonesia terkait inflasi. Sedangkan untuk menjaga daya beli masyarakat, pemerintah berkomitmen untuk mengubah tata niaga sejumlah komoditi yang harga di pasarannya mudah terganggu.

Keempat, upaya untuk mempercepat investasi. Pemerintah akan antara lain akan menyederhanakan perizinan dengan mengefektifkan fungsi pelayanan terpadu satu pintu dan menyederhanakan jenis-jenis perizinan yang menyangkut kegiatan investasi.

Apa hasil dari empat paket kebijakan ekonomi moneter itu? Yang jelas, nilai tukar Rupiah belum stabil, apalagi menguat hingga pada posisi yang serendah-rendahnya. (saksono)

Related posts