Bikin Pabrik Coklat, Cargill Rogoh Rp 1 Triliun - Investor AS Gelar Ekspansi

NERACA

Jakarta – Melihat pangsa pasar Indonesia yang luas terhadap konsumsi coklat, disamping itu Indonesia juga kaya dengan produksi kakao bahan baku coklat, perusahaan asal Amerika Serikat (AS) yaitu Cargill membangun pabrik pengolahan cokelat di Gresik, Jawa Timur. Dan ini merupakan pabrik pertama yang dibangun oleh Cargill diwilayah Asia. Adapun pembuatan pabrik ini menelan biaya investasi US$ 100 juta atau setara dengan Rp 1 triliun.

“Konsmumsi coklat di Indonesia sangat besar, selain itu juga Indonesia sebagai negara penghasil cacao. Makanya kami tertarik untuk bangun pabrik di Indonesia,” kata Job Leuning, Direktur Pengembangan Bisnis Cargill Cocoa and Chocolate, di Jakarta, Rabu (4/12).

Ekspansi bisnis membangun pabrik ini yang dikembangkan oleh perusahaan Cargill kali ini adalah pertama kalinya di Asia. Sebelumnya, memang Cargill mengembangkan bisnis cokelat di Vietnam, Shanghai, dan Tokyo namun hanya sebatas kantor penjualan saja bukan produksi. "Investasi terakhir kita saat ini adalah di Indonesia, dan itu merupakan pabrik pengolahan kakao dan cokelat pertama di Asia dengan total investasi US$ 100 juta," imbuhnya.

Leuning mengatakan, alasan Cargill mengembangkan bisnisnya di Asia karena menurutnya pertumbuhan permintaan cokelat di Asia sangat cepat. Apalagi di Indonesia dengan pangsa pasar melihat masyarakatnya yang mengkonsumsi coklat bertambah setiap tahunnya makanya potensi inilah yang kami lihat "Asia adalah negara yang cepat berkembang terkait konsumsi cokelat," ujarnya.

Adapun pembanguanan pabrik tersebut berlokasi di Kawasan Industri Maspion V Gresik, Jawa Timur. Tujuan dibangunnya pabrik baru tersebut untuk merangsang pertumbuhan dan pengembangan sektor kakao di Asia dalam memenuhi permintaan yang naik terhadap produk kakao di kawasan ini.

“Adanya pembangunan pabrik ini setidaknya akan menyerap sekitar 200 tenaga kerja baru di Indonesia, demikian juga berbagai posisi di bagian penelitian dan pengembangan kakao yang sebelumnya telah ada di Kuala Lumpur dan Beijing, untuk melayani kebutuhan pelanggan di Asia,” terangnya.

Adapun pabrik yang diperkirakan akan rampung pada pertengahan tahun 2014 ini diperkirakan akan menyerap dan membutuhkan sekitar 70,000 metrik ton biji kakao untuk memproduksi berbagai produk untuk kebutuhan pasar Asia. Hasil dari produksinya akan berbentuk bubuk, cairan dan lemak kakao (butter), termasuk produk bubuk premium kakao Gerkens.

“Fasilitas baru ini merupakan bagian dari strategi Cargill dalam mengantisipasi pertumbuhan sektor kakao Indonesia dan upaya perusahaan untuk mendukung produksi kakao berkelanjutan secara global,” sambungnya.

Selain membuat pabrik sumbang sih yang dilakukan Cargill untuk meningkatkan produksi cacao nasional adalah telah memulai program pelatihan petani yang terbilang cukup sukses di Indonesia yang mendorong penggunaan praktik pertanian berkelanjutan oleh petani kecil. “Pada tahun 2015,Cargill menargetkan untuk melatih lebih dari 1.300 petani kakao Indonesia,” ucapnya.

Dan melalui Sekolah Pelatihan Lapangan ini tujuannya untuk membantu para petani nasional dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas biji kakao. Dengan adanya pelatihan ini diharapkan mampu mendorong peningkatan hasil para produksi petenai sehingga mampu meningkatkan pendapatan petani dan kesejahteraan keluarga mereka. “Kedepan nantinya dari hasil para petani ini, nantinya akan ditampung pabrik kami untuk diolah agar mempunyai nilai lebih yang nantinya untuk mengisi pangsa pasar Asia,” pungkasnya.

Related posts