Rabobank Ajak Pengusaha RI Jajaki Afrika Sub-Sahara

Rabobank Ajak Pengusaha RI Jajaki Afrika Sub-Sahara

Di saat Indonesia mengalami paceklik produk pertanian dan bahan pangan, Rabobank mengajak para pengusaha Indonesia untuk berinvestasi di kawasan Afrika bagian Sahara. Rabobank International Senior Analyst Africa, Food and Agribusiness Research and Advisory (FAR) Sierk Plaat mengungkapkan, Afrika telah memasuki era baru dalam pertumbuhan ekonomi dan stabilitas politik. Itu memberikan peluang bisnis bagi perusahaan global maupun dari Indonesia.

“Perusahaan-perusahaan pangan dan agribisnis global memiliki kesempatan untuk berperan sebagai katalis,” kata Plaat dalam acara seminar internasional Rabobank Annual Conference 2013 di Jakarta, pekan ini. Hal senada juga diungkapkan Director of Food and Agribusiness Research and Advisory Rabobank Pawan Kumar, dan Head of Financial Marketing Rabobank International Asia Pasifik Michael Every.

Plaat menyatakan, perusahaan yang ingin menangkap peluang bisnis pangan dan pertanian di Afrika tak perlu menjadi perusahaan raksasa global terlebih dulu. Menurut dia, perusahaan dari seluruh dunia termasuk dari Indonesia dapat menjalankan bisnis di benua ini. Perusahaan yang memiliki spesialisasi di bidang pangan dan pertanian dari Australia, ICM Agribusiness, atau Jain Irrigation dari India sudah berkiprah di Afrika. “Jadi ukuran perusahaan tidak menjadi masalah. Yang penting adalah punya keunikan dan bisa bekerja sama dengan pihak lokal, jadi kemungkinan sukses pun menjadi besar,” tuturnya.

Plaat mengidentifikasi ada empat zona peluang investasi pangan dan pertanian di Afrika bagi

perusahaan global. Zona pertama adalah zona peningkatan produksi secara inklusif, yaitu ikut meningkatkan produksi dari ladang pertanian yang ada, serta melebarkan operasional yang memungkinkan.

Zona kedua adalah peluang membangun rantai pasok yang memiliki nilai tambah. Peluang ini muncul lantaran agribisnis di Afrika belum banyak berkembang, dan kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi masih kecil, dibanding dunia.

Zona ketiga adalah peluang menjadikan perusahaan kompetitif secara regional dan global.

Dengan mengisi kekosongan rantai pasok, termasuk dalam upaya ekspor, maka perusahaan akan berpeluang menjadi kompetitif secara regional dan global.

Zona keempat adalah peluang memenuhi kebutuhan konsumer Afrika. Kebutuhan pangan

orang Afrika terus berkembang sejalan dengan pertambahan penduduknya.

Dalam paparannya, Plaat juga mengungkapkan ada empat langkah dasar untuk memasuki

pasar pangan Afrika, yang perlu diperhatikan investor, termasuk dari Indonesia. Pertama,

evalusi kebutuhan dan keinginan konsumen. Kedua, identifikasi potensi latennya. Ketiga, tes

pasar dengan impor atau produksi langsung. Keempat, berinvestasi dengan mitra lokal yang

kuat.

Direktur Korporasi dan Investasi Perbankan Rabobank Indonesia Eri Budiono, kepada Neraca mengungkapkan, para pengusaha Indonesia di bidang pangan dan pertanian mmpunyai peluang yang besar di pasar Afrika Sub Sahara. Sebab, kata dia, kualitas produk kita sangat kompetitif dan berkelas global.

sependapat dengan Plaat. Menurut dia, Afrika memang memiliki zona-zona peluang bagi

perusahaan-perusahaan Indonesia baik untuk memenuhi permintaan konsumen Afrika

maupun membangun rantai pasok. “Kami siap memfasilitasi jika apa pengusaha Indonesia yang berminat masuk Afrika-Sub Sahara,” kata Eri. (saksono)

Related posts