Peduli Pendidikan Suku Anak Dalam - Rini Terima Anugrah APP

NERACA

Mengajar Suku Anak Dalam di pedalaman hutan di Jambi memang tidak mudah. Mereka tidak bisa berbahasa Indonesia, suka bertindak semaunya, dan tidak memerhatikan kebersihan.

Hal ini diperparah dengan adanya aturan adat di Suku Anak Dalam, dimana ada adat yang mengatakan bahwa dewa akan menjauh dari mereka yang sudah dekat dengan dunia luar. Hal itu membuat banyak orang tua melarang anak-anaknya belajar atau bersekolah.

Namun kendala-kendala tersebut tidak menyurutkan Tri Rini Widiyastuti, perempuan asal Yogyakarta yang bertransmigrasi ke Jambi untuk mengabdikan diri sebagai guru Suku Anak Dalam di sekolah Alam Putri Tijah Dusun Kutai, Desa Pematang Kabau, Kecamatan Air Hitam Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi. Tak ayal, inisiatifnya ini, membuat dirinya sebagai salah satu nominator dalam APP 2013 kategori Individu.

“Saya ingin orang di sekitar kita jangan meremehkan suku anak dalam atau yang di pedalaman,” ujar Rini, usai jumpa pers tentang Anugerah Peduli Pendidikan (APP) 2013 di Gedung A Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta belum lama ini.

Perempuan kelahiran 5 Agustus berkisah, pada awalnya ia membenci Suku Anak Dalam karena perilaku mereka yang terlalu liar. Namun hatinya merasa terpanggil untuk mengajar mereka, saat ditawari sebuah perusahaan kepala sawit yang ingin menjalankan Corporate Social Responsibility (CSR) di bidang pendidikan.

Saat itu Rini belum lulus SMA. Ia putus sekolah saat duduk di kelas 2 SMA. Demi mengajar Suku Anak Dalam, Rini pun mengikuti Program Kejar Paket C, kemudian memulai pengabdiannya mengajar.

Rini mengajarkan calistung (membaca, menulis dan berhitung) kepada Suku Anak Dalam di sebuah balai panggung yang terbuka di pinggiran hutan, setiap Senin sampai Kamis. Kelas berlangsung dari pukul 07.30 hingga 12.00. Rini membagi 18 anak didiknya ke dalam tiga jenjang. Pagi-pagi ia mengajar untuk jenjang pendidikan dasar, lalu pendidikan menengah, kemudian pendidikan lanjutan.

Related posts