Paradox Pangan Nasional

Paradox Pangan Nasional

Oleh Bani Saksono (Wartawan Harian Ekonomi Neraca)

Di zaman kolonial Belanda, Indonesia pernah berjaya sebagai penghasil pertanian unggulan dunia. Hasil bumi Indonesia sempat melegendaris di pasar internasional, yaitu rempah-rempah, tembakau, kopi, dan tebu. Di zaman penjajahan Jepang pun, beras dan jagung merupakan komoditas yang diperlukan Jepang.

Di era Orde Lama, Presiden Soekarno mampu mencukupi kebutuhan pokok seperti beras, jagung, kedelai, singkong, kacang tanah, juga ikan dan daging. Ketika itu, Bung Karno pun mencanangkan program intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian. Di era Orde Baru, Presiden Soeharto pun melanjutkan program tersebut sekaligus untuk mewujudkan swasembada pangan.

Dan, Pak Harto pun mendapat penghargaan dari Badan Pangan Dunia (FAO) karena mampu mewujudkan swasembada pangan dan mengurangi ketergantungan negara penghasil tanaman pangan lain. Para petani Indonesia mendapat perhatian besar dari pemerintah. Dulu kita kenal adanya Badan Usaha Unit Desa dan Koperasi Unit Desa (BUUD-KUD).

Para kelompok tani pun saling berlomba-lomba menghasilkan varietas unggul dan produksi yang banyak. Kita masih teringat mereka berlomba dalam forum Klompencapir yang secara rutin tampil di layar televisi. Program pertanian masuk sebagai kelompok unggulan dalam setiap Rencana Pembangunan Lima Tahunan (Repelita), maupun Rencana Pembangunan Jangka Pendek, Menengah, dan Panjang 25 tahunan.

Mobilisasi industri yang menunjang pertanian digenjot. Infrastruktur pertanian dibangun. Para pengusaha nasional diajak meninjau proyek percontohan peternakan sapi unggulan di Tapos, Bogor oleh Presiden Soeharto. Hal itu untuk menunjukkan bahwa Indonesia mampu menjadi negara penghasil sapi dan daging.

Negara tetangga seperti Vietnam dan Kamboja memilih Indonesia sebagai tempat belajar bagaimana mewujudkan ketahanan pangan nasional. Kini, Kamboja sudah menjadi negara pengekspor beras. Sebaliknya, Indonesia justru menjadi negara importir beras, pada 2004. Kini, Indonesia kebalikan dari Kamboja. Sepanjang 2011 saja sudah mengimpor 3 juta ton beras.

Komoditas impor pangan lainnya adalah jagung 2,8 juta ton, kedelai 1,8 juta ton, sapi 480 ribu ekor, susu 3,8 juta liter, beras ketan 150 ribu ton, beras broke 200 ribu ton. Impor hortikultura mencapai US$1,7 miliar, soybean meal 2 juta ton, gula 2,6 juta ton, bawang merah 400 ribu ton, bawang putih 600 ribu ton, meat bone meal 500 ribu ton, serta garam 34 ribu ton per minggu. Impor gandum mencapai 6 juta ton per tahun.

Kini, pabrik-pabrik alat pertanian dimatikan digantikan dengan impor. Jutaan hektare lahan pertanian kita disewakan ke Malaysia untuk ditanami sawit hingga negeri jiran itu tampil menjadi negara penghasil CPO menyaingi Indonesia. Bahkan, negeri itu unggul karena mampu memproduksi hingga turunan kedua, ketiga dan keempat dari sawit-sawit itu. Sebaliknya, target swasembada pangan Indonesia yang dicanangkan 2014 pun direvisi berkali-kali, entah kapan terwujud.[]

Related posts