Pemerintah Mengaku Membuka 20 Juta Lapangan Kerja - Periode 2001-2012

NERACA

Depok - Pemerintah mengklaim sejak 2001-2012 telah membuka 20 juta lapangan kerja baru. Bahkan sebagian besar dari tenaga kerja yang terserap masuk ke dalam sektor formal. Meski begitu yang paling tumbuh tinggi hanya sektor pelayanan.

“Lapangan kerja kita terus terbuka sejak tahun 2001. Hingga tahun 2012 sudah mencapai 20 juta lapangan kerja baru yang terbentuk. Sebagian besar masuk ke sektor pelayanan,” kata Direktur Tenaga Kerja dan Pengembangan Kesempatan Kerja Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Rahma Iryanti di FEUI, Depok, Jawa Barat, Selasa (3/12).

Dia menjelaskan, dari 20 juta lapangan kerja baru yang terbuka, 17 juta di antaranya merupakan sektor pelayanan. Angka itu mendominasi dibanding keterbukaan lapangan kerja di sektor industri yang hanya mampu mencapai 4 juta. Sedangkan sektor agrikultur justru turun 1 juta lapangan kerja.

“Perusahaan di sektor pelayanan memang masih menjadi fokus utama investor khususnya yang dari dalam negeri. Namun itu tidak cukup untuk menciptakan perekonomian yang kokoh. Sebab kita yang kita butuhkan kemajuan industrialisasi,” tuturnya.

Kemudian Rahma menerangkan, dari 20 juta lapangan kerja baru 85% di antaranya sudah terserap di sektor formal. Hal itu membuat jumlah pekerja di sektor informasl semakin menurun. Hal ini mencerimkan pembangunan di sektor ketenagakerjaan telah berjalan optimal.

“Pertumbuhan pekerja di sektor informal pada tahun 2012 mencapai 18,1% padahal di tahun 2011 baru mencapai 13,3%. Sedangkan pertumbuhan tenaga kerja di sektor informal menurun jadi 3,9% di tahun 2012. Padahal pada tahun 2011 masih diposisi 6,5%. Artinya, semakin banyak tenaga kerja yang sudah terserap di sektor formal,” terang Rahma.

Untuk itu Rahma mengaku target jumlah kemiskinan tahun 2013 dapat sesuai Undang-Undang Anggaran Perencanaan Belanja Negara (UU APBN) 2013 yaitu 5,6% sampai 5,9%. “Kalau kita berharap sesuai sasaran di level 5,6%-5,9% sesuai dengan rencana kabinet kita sekarang. Mudah-mudahan tercapai,” papar dia.

Lebih lanjut Rahma mengatakan, Pemerintah tengah mempersiapkan kualitas tenaga kerja dalam negeri untuk menghadapi tantangan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Dari sektor-sektor yang dibuka dalam perjanjian pemerintah yakin tenaga kerja Indonesia dapat bersaing. Hanya saja harus tetap konsisten untuk mempersiapkan hal tersebut.

Dari sisi ketenagakerjaan, kata Rahma, Pemerintah tengah mengembangkan konsep pengembangan kemampuan dengan membuka kelas-kelas keterampilan. “Kontennya akan disesuaikan dengan kebutuhan industri untuk memenuhi tenaga kerjanya. Serta menekankan kepada industri untuk mengembangkan inovasi agar tenaga kerjanya juga terus berkembang," pungkasnya. [lulus]

BERITA TERKAIT

Pemerintah Siapkan Rekayasa Urai Kepadatan Tol Cikampek

    NERACA   Bekasi - Pemerintah menyiapkan manajemen rekayasa untuk mengurai kepadatan Tol Jakarta-Cikampek. Hal itu seperti dikatakan Direktur…

DPR Desak Pemerintah Atasi Problem Beras Medium

NERACA Jakarta – Pemerintah diminta perlu benar-benar memastikan ketersediaan beras medium di tengah-tengah masyarakat di berbagai daerah agar dapat menghentikan…

SMGR Akuisisi 80,6% Saham Holcim Indonesia - Kuras Kocek US$ 917 Juta

NERACA Jakarta – Ekspansi bisnis semen milik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) semakin gemuk setelah berhasil sukses mengakuisisi saham…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Mengganti Terigu Impor dengan Produk Buatan Lokal - Teknologi Pangan

        NERACA   Bogor - Mie memang menjadi santapan favorit masyarakat Indonesia, tanpa pandang usia. Sayangnya mie…

Mewaspadai Inflasi Di Akhir Tahun

      NERACA   Jakarta - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai ancaman…

LPEI Mendorong BUMN Ekspor ke Pasar Prospektif

    NERACA   Jakarta – Pasar prospektif menjadi salah satu alternatif negara tujuan untuk memperluas ekspor di samping Cina…