13 Sektor Industri Menderita Defisit Perdagangan

NERACA

Jakarta – Di tengah minusnya neraca perdagangan luar negeri yang berbarengan dengan loyonya nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat, muncul juga kabar tidak sedap dari sektor industri. Kabar tersebut mencuat dalam rilis Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang menyebutkan 13 sektor industri ternyata juga mengalami defisit perdagangan.

Data Kemenperin mengungkapkan, industri yang mengalami defisit perdagangan terbesar secara berturut-turut adalah industri besi-baja, industri mesin dan otomotif, industri kimia dasar, serta industri elektronika. Industri makanan ternak mengekor di peringkat keenam, disusul industri alat-alat listrik, industri pengolahan aluminium, industri pupuk, dan industri plastik. Industri lainnya yang masih terbelit defisit adalah industri barang-barang kimia, industri makanan-minuman, dan produk farmasi.

Menurut Menteri Perindustrian Mohamad Suleman Hidayat, defisit perdagangan pada ke-13 sektor industri di Tanah Air itu dipicu oleh ketergantungan yang teramat besar pada bahan baku impor. Menteri Hidayat mengatakan pihaknya sebenarnya telah melakukan upaya jangka pendek dan panjang untuk menekan laju impor agar defisit bisa dikurangi.

Dijelaskan Hidayat, upaya jangka pendek yang dilakukan antara lain mengefektifkan kebijakan anti-dumping, penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI), dan mengoptimalkan penggunaan produk dalam negeri. Adapun untuk jangka panjang, kebijakan yang telah dilakukan di antaranya hilirisasi pada industri agro, mineral, serta minyak dan gas. "Namun ternyata belum efektif," ujar Hidayat di kediamannya di Jakarta, Senin (2/12) malam.

Sementara itu, Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Bidang Kebijakan Publik, Fiskal, dan Moneter Hariyadi Sukamdani mengaku tidak kaget menghadapi banyaknya industri yang masih mengalami defisit perdagangan. Sebab, kata dia, memang Indonesia masih bergantung pada bahan baku impor, terutama untuk pasokan logam.

Di mata Hariyadi, pemerintah terlambat melakukan pendalaman industri karena mayoritas bahan baku masih harus diimpor. Di sisi lain, pengusaha lokal juga masih sulit mengembangkan industri yang memproduksi bahan baku. Karena itu, menurut Hariyadi, pemerintah harus menjaga agar industri di sektor riil terus berjalan.

Secara terpisah, pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia, Lana Soelistianingsih, menyarankan agar pemerintah segera membangun industri hulu jika tidak ingin terus-menerus bergantung pada bahan baku impor. Menurut dia, selama ini pemerintah hanya memiliki wacana, tapi tak kunjung merealisasi pembangunan industri hulu. "Pembangunan industri hulu harus dimulai dari sekarang, jangan sekadar wacana. Ini adalah solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada impor. Semua sumber daya sudah siap, hanya pemerintah tidak memiliki kemauan yang kuat," jelas Lana.

Kendati demikian, secara keseluruhan, industri pengolahan non-migas tumbuh menggembirakan. Data Kemenperin menyebutkan, pada semester I-2013 tumbuh sebesar 6,58%. Pertumbuhan ini lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi (PDB) pada periode yang sama sebesar 5,92%.

Cabang-cabang industri yang mengalami pertumbuhan tertinggi antara lain industri logam dasar besi dan baja sebesar 12,98%, industri alat angkut, mesin dan peralatan sebesar 9,40%, industri barang kayu dan hasil hutan lainnya sebesar 8,45%, serta industri pupuk, kimia dan barang dari karet sebesar 8,03%.

Pertumbuhan industri pengolahan non-migas yang tinggi tersebut ditopang oleh tingginya investasi di sektor industri serta konsumsi dalam negeri. Nilai investasi PMDN sektor industri pada Semester I-2013 sebesar Rp 26,92 triliun atau meningkat sebesar 30,61%, sedangkan nilai investasi PMA sektor industri mencapai US$ 8,01 miliar atau meningkat sebesar 46,72% dibandingkan periode yang sama tahun 2012. [iwan/munib]

Related posts