Jabatan Adalah Amanah dan Kerja Keras - Dr. Ir. Slamet Soebjakto, M.Si, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP

Ketika jabatan dia anggap sebagai amanah, maka namanya kerja keras terasa lebih pas dilafalkan dalam satu tarikan nafas. Kecuali memancarkan sosoknya yang bersahaja, sorot matanya juga sekaligus memberitakan pribadi yang gemar bekerja. Semangat kerja keras nan membara itulah yang dia yakini mampu mengalahkan segalanya....

NERACA

Di lantai 23 sebuah gedung pencakar langit di Jakarta Selatan, sosok Slamet Soebjakto seperti terurai dalam serpihan-serpihan yang mengagumkan. Waktu dua jam terasa masih kurang mengeja pembawaannya yang humble dan sederhana. Segelas teh manis juga tak cukup membedah beragam kesibukannya sebagai pejabat eselon I yang gemar turun ke lapangan. Di kantornya tersebut, khusus kepada Neraca, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan ini berkisah banyak mengenai dirinya yang senantiasa berbalut kesibukan itu.

Slamet mengaku lahir dari keluarga sederhana. Latar belakang itulah yang sedikit banyak membentuk kepribadiannya sekarang ini. Bila agregasi media massa kerap merilis gaya hidup glamor para pejabat tinggi, sebut saja kelaziman main golf, dia malah mengaku tidak tertarik menjalaninya. Bukan karena menafikan apalagi menampik “manfaat” main golf atau semata lantaran dompet kosong, suasana batin bapak tiga anak ini agaknya memang tidak sreg dengan olah raga ala orang berduit tersebut.

Nah, barangkali, memang, keinginan Slamet untuk meninggalkan “jejak” positif dalam pengembangan perikanan budidaya di Indonesia membuat dirinya lebih semangat bekerja ketimbang main golf. “Tapi saya kira, buat orang lain (main golf) sangat menyehatkan dan bagus,” ungkapnya, masih dengan gaya tutur rendah hati. Berjalan kaki meninjau tambak dan kolam, menurut hemat Slamet, sama halnya dengan jalan-jalan yang dilakukan pada saat main golf, tapi dengan manfaat yang jauh lebih besar karena dapat mengetahui kondisi lapangan secara langsung.

Seperti menggenapi pandangannya itu, Slamet mengaku lebih memilih menggunakan uangnya untuk keperluan primer. Ia pun mengaku ingin hidup sebagaimana mestinya saja. Mungkin bahasa gamblangnya, hidup dengan tidak neko-neko. Apalagi, menurut dia, jabatan yang dia emban sekarang ini adalah amanah yang tidak akan lama, kapan saja bisa diambil. Setelah menjabat, sebut Slamet, semua orang harus siap menjadi orang biasa lagi. “Bukan hanya jabatan saja, kita pun mungkin meninggalkan dunia ini, orang-orang yang kita cintai harus kita tinggalkan,” bebernya.

Tak Cukup di Belakang Meja

Menyelesaikan kuliah S-1 dan S-2 di Institut Pertanian Bogor, peraih titel doktor bidang pesisir dan kelautan Universitas Brawijaya ini, semenjak awal karirnya sebagai pegawai negeri sipil dikenal sebagai orang teknis. Itu sebabnya, bekerja langsung di lapangan, sudah menjadi kesenangannya tersendiri. Sehingga tatkala Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo mendapuk dirinya sebagai dirjen awal 2012 lalu, Slamet langsung tancap gas menggeber berbagai program dan terjun langsung ke lapangan. “Semangat mengalahkan semuanya,” ujar Slamet.

Waktu yang dia miliki seperti tumpah ruah di area tambak yang tersebar di seluruh Indonesia. Program revitalisasi tambak yang dia unggulkan mau tak mau menguras energi dan pikiran. Peningkatan produksi, baik perikanan budidaya di air tawar, air payau, maupun air laut, nyaris membuatnya berkeliling negeri dalam trafik yang sangat kencang. Acara penebaran benih, penanganan penyakit, hingga undangan panen ikan tentu saja membuatnya harus berbecek-becek di lumpur kolam, tidak peduli hari kerja atau hari libur. “Yang jelas buat saya sendiri, ke lapangan itu adalah kepuasan tersendiri,” papar mantan Kepala Balai Budidaya Air Payau Situbondo itu.

Lebih-lebih, sambung dia, dirinya memang sedari dulu adalah orang teknis dan KKP, kementerian tempatnya mengabdi, merupakan kementerian teknis yang memang harus turun ke lapangan langsung. “Kalau saya, prinsipnya, kita bekerja ini kan bukan hanya di belakang meja saja. Apalagi kita ini se-Indonesia, harus mendengarkan langsung dari masyarakat. Dan mereka pun kalau sering didatangi juga membuat semangat dan motivasi,” kata Dirjen Slamet menjelaskan alasan lain dari kegemarannya meninjau tambak.

Energi dari 30 Menit

Lantas bagaimana Dirjen Slamet menyeimbangkan aktivitas super sibuk dengan kebutuhannya untuk rehat? Ternyata, dia punya cara sendiri. Yakni, dengan meluangkan waktu sekira 30 menit hingga 1 jam untuk, istilahnya, menenangkan diri. Waktu 30 menit itu pun tidak dipatok, bisa jam 12 tengah malam, bisa juga sebelum atau sehabis shubuh. Hal ini, tandasnya, merupakan salah satu langkah untuk menyeimbangkan antara pendakian religius dengan berkomunikasi dengan Tuhan Yang Maha Kuasa dan kegiatannya mengembangkan perikanan budidaya di Tanah Air.

Dengan menyempatkan waktu untuk berzikir 30 menit saja, ada energi dan kesegaran luar biasa yang dirasakan Dirjen. Bahkan, setelah 30 menit berzikir, apalagi ditambah istirahat, maka dia merasa seperti telah beristirahat selama 4 atau 5 jam. Karena itu, waktu khusus berkomunikasi dengan Tuhan tersebut sedapat mungkin dia lakukan secara rutin alias istiqomah.

Hal kedua, imbuh Slamet, untuk membuatnya tetap bugar, olah raga senam dan yoga ringan dia lakukan secara ajeg. Yoga ringan, hanya sekitar 30 menit saja, biasa dia lakukan di hotel, pagi-pagi setelah shubuh. Menyempatkan waktu beryoga, selain sehat, juga menjadi upaya lain meraih ketenangan pikiran.

Pun ketika berada di kendaraan, misalnya di pesawat atau di mobil kala kunjungan kerja, dia berusaha menyempatkan diri untuk tidur, walaupun hanya 1 jam saja. Misalnya, ketika ke Bogor, setelah membaca surat-surat yang harus dia ketahui, Slamet menyempatkan tidur. Atau misalnya ke Cirebon, dia menyempatkan diri untuk recovery. Jadi, berzikir, yoga dan tidur di kendaraan, menjadi tiga perkara yang sejauh ini menjadi gaya hidupnya untuk mencapai keseimbangan. Agar tetap sehat, agar lebih tenang.

Waktu Buat Keluarga

Dirjen Slamet Soebjakto lahir di Banjarnegara, 22 Mei 1961. Menikahi Sri Cahyaningsih Herninawati, mereka dikaruniai tiga anak. Adi Bestara, Syarafina Awanis, dan M. Hibaturrahman. Kesibukan Slamet, sebagai teknisi di sektor perikanan sudah terlihat sejak 1986 sewaktu menjabat sebagai Manajer Operasional Pembenihan Udang KSO Ditjen Perikanan. Pada medio 2004-2011, kesibukannya makin bertambah ketika dirinya menjabat Kepala Balai Budidaya Air Payau Situbondo. Makin sibuk lagi ketika dia menjadi Direktur Perbenihan pada Direktorat Perbenihan Ditjen Perikanan Budidaya KKP dalam kurun waktu 2011-2012. Apalagi, semenjak menjadi Direktur Jenderal Perikanan Budidaya pada awal 2012 hingga sekarang, Slamet semakin lebih sering turun ke tambak dan ke kantor ketimbang di rumah.

Kendati anak dan istrinya mafhum betul dengan kesibukan Slamet, keluarga tetap menjadi prioritasnya. Memang, keluarga, terutama istrinya yang juga PNS di Litbang Budidaya Ikan Hias di Depok, sudah akrab sejak lama dengan kesibukan sang suami karena sama-sama orang teknis. “Istri saya juga orang lapangan. Dia memahami betul, orang lapangan seperti begini. Justru di-support. Hanya dirasakan kesibukan makin terasa sekali,” cerita Slamet.

Dirjen Slamet pun punya trik untuk berkumpul bersama keluarga. Dia punya target untuk menyediakan waktu khusus untuk keluarga. Katakanlah, Sabtu-Minggu di pekan ini hilang karena harus memenuhi undangan stakeholder atau mendampingi kunjungan kerja menteri, dia targetkan minggu depannya lagi dia harus di rumah. Nah, pas punya waktu bersama keluarganya itulah, dia melakukan kegiatan bareng di luar rutinitas pekerjaan. Misalnya, pergi ke Taman Mini Indonesia Indah, hanya sekadar untuk naik kereta gantung bareng istri dan anaknya.

Itulah sekelumit tentang Dirjen Perikanan Budidaya KKP. Apapun itu, Slamet adalah ujung tombak kementerian untuk mengurusi perikanan budidaya di seluruh Indonesia. Kerja kerasnya, tentu saja bukan tanpa tujuan. Kegiatannya yang tak jarang bermandi keringat di tengah lumpur tambak seperti ingin dia persembahkan untuk kemajuan perikanan budidaya. Juga, yang tak kalah penting, Slamet mengaku ingin menjalankan tanggung jawab yang diberikan semaksimal mungkin. Sehingga pada gilirannya, harap Slamet, jabatan yang dia emban tersebut mampu memberikan kesan dan peninggalan yang bagus untuk generasi setelahnya. (ahm/munib)

Related posts