Tahun Depan, Garuda Gelar Rights Issue

NERACA

Jakarta- Menyiasati pendanaan bisnisnya, PT Garuda Indonesia Tbk (Garuda) akan menawarkan sahamnya ke publik melalui aksi korporasi penerbitan saham baru (right issue) sebesar 10% pada semester pertama 2014. “Untuk penjaminan emisi pelepasan 10% saham Garuda akan ditetapkan pada pekan depan,” kata Direktur Utama Garuda, Emirsyah Satar di Jakarta, Selasa (13/12).

Dana yang diperoleh dari hasil korporasi ini, menurut dia, akan digunakan untuk ekspansi dan memperkuat modal usaha perseroan. Diketahui, salah satu pengembangan usaha yang akan dilakukan Garuda yaitu dengan membuka rute-rute baru baik di dalam negeri maupun rute internasional. “Pada rute international tahun depan, kita akan merealisasikan pembukaan penerbangan langsung (direct) ke London.” jelasnya.

Meski demikian, dia menegaskan, dana yang diperoleh dari hasil rights issue nantinya tidak akan digunakan untuk pembelian pesawat. “Dananya murni untuk pengembangan layanan usaha, bukan untuk pembelian pesawat.” ucapnya.

Menurut dia, aksi korporasi ini menjadi salah satu fokus perseroan. Karena itu, pihaknya belum akan merealisasikan rencana pencatatan saham anak usahanya, PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia (GMFAA) dalam waktu dekat ini. Terlebih, di tahun 2014 merupakan tahun pemilihan umum (pemilu). “Fokus kami tahun depan rights issue GIAA,” imbuhnya.

Seperti diketahui, rencana IPO anak usaha Garuda tersebut telah diwacanakan sejak tahun lalu. Informasinya, perusahaan penerbangan plat merah ini telah menunjuk PT Mandiri Sekuritas sebagai penasihat keuangan (advisor). Bahkan, IPO GMFAA ditargetkan dapat dilaksanakan pada kuartal ketiga tahun ini dengan melepas 20% saham barunya ke publik.

Rencananya, dana yang diperoleh dari hasil IPO tersebut akan digunakan untuk mendukung kinerja dan pengembangan perusahaan dalam jangka waktu panjang atau sekitar 15-20 tahun ke depan. “Kemungkinan dananya akan digunakan untuk mendukung pembangunan hanggar untuk merawat pesawat di wilayah Indonesia timur, dan akan dikembangkan di Medan dan Makasar,” kata Direktur Utama PT GMF Aeroasia Richard Budihadianto

Perbaikan fasilitas dan perbaikan hanggar tersebut, kata Richard dimaksudkan untuk memperbesar kapasitas pesawat yang porsi terbesarnya masih di Garuda. Sejauh ini pihaknya akan terus berupaya meningkatkan pendapatan melalui kerjasama dengan maskapai-maskapai luar negeri. Salah satunya yaitu menjalin kerjasama dengan pabrikan pesawat Airbus asal Prancis yang telah menunjuk GMF sebagai pusat remote training center di dunia.“Selain kualitas sumber daya manusia GMF akan lebih baik, peluang usahanya juga besar, mengingat setiap maskapai yang membeli pesawat Airbus, harus ditraining dahulu, dan kami siap untuk ini,” ucapnya.

Menurut dia, sejauh ini komposisi pendapatan perusahaan mayoritas atau sebesar 70% masih berasal dari order induk perusahaan atau Garuda Indonesia, dan selebihnya merupakan dana dari pihak lain. “Ternyata untuk IPO, tidak dipersyaratkan bahwa pendapatan tidak boleh mayoritas dari induk perusahaan, ketentuannya hanya menyarankan 50% pendapatan dari orderan induk perusahaan, dan sisanya 50% dari pihak luar,” jelasnya.(lia)

Related posts