BI Mengaku Utang Swasta Aman

NERACA

Jakarta - Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Difi Ahmad Johansyah, mengaku kalau depresiasi rupiah tidak berpengaruh ke utang luar negeri swasta yang sudah jatuh tempo. Keyakinan Difi atas amannya utang swasta ini lantaran memiliki back-up lindung nilai atau hedging. Meskipun diakuinya, utang swasta ini berpotensi menyebabkan utang macet dalam bentuk valuta asing (valas).

“Utang swasta tidak ada masalah. Mereka (swasta) biasanya sudah siap (dengan jatuhnya rupiah). Saya rasa mereka tidak mungkin nekad. Selain itu, sebagian dari mereka utangnya digaransi oleh induk usaha. Jadi kalau terjadi apa-apa, seperti pembayaran telat atau gagal bayar, langsung di-coverage induk usaha mereka,” ujarnya di Jakarta, Selasa (3/12).

Difi justru tertuju kepada Surat Utang Negara (SUN), di mana menurut dia yang seharusnya dikhawatirkan karena pembeli terbanyaknya adalah investor asing sebanyak 31%. “Ini yang terbesar dibandingkan emerging countries (negara-negara berkembang),” tegas dia.

Namun begitu, kata Difi, pengusaha yang bergerak di ekspor komoditas seperti kelapa sawit dan karet, adalah yang paling diuntungkan dengan melemahnya rupiah. Hal ini dinilai bisa meningkatkan daya saing produk ekspor Indonesia di pasar internasional. Tak hanya itu. Pelemahan rupiah ini bisa menstimulasi eksportir agar barang ekspor menjadi lebih kompetitif sehingga nilainya berpotensi meningkat.

Terkait cadangan devisa (cadev), Difi enggan menyebutkannya lantaran harus menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pada 12 Desember 2013 mendatang. Sebelumnya, per 31 Oktober 2013, cadev Indonesia sebesar US$96,9 miliar. “Itu (posisi cadev) belum bisa di-share. Nantilah setelah RDG hasilnya keluar,” terangnya.

Sebagaimana diketahui, status rupiah dalam keadaan waspada. Pasalnya, selama sepekan kemarin nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berfluktuatif yang membuat jantung berdebar. Pada Senin (2/12) dan Selasa (3/12), rupiah berturut-turut ditutup berada di level Rp11.510 dan Rp11.884 per dolar AS. [ardi]

Related posts