Investasi Semen Indonesia Membengkak - Dampak Pelemahan Rupiah

NERACA

Jakarta – Anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak hanya membebankan pergerakan indeks harga saham gabungan, namun juga kinerja emiten di pasar modal. Kondisi inilah yang dialami PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) yang mengaku mengalami pembengkakan nilai investasi sebesar Rp 600 miliar.

Sekretaris Perusahaan PT Semen Indonesia Tbk, Agung Wiharto mengatakan, perseroan harus merogoh kocek lebih dalam lagi untuk pembangunan dua pabrik baru di Rembang dan Indarung akibat melemahnya nilai tukar rupiah, “Awalnya investasi yang disiapkan perseroan untuk kedua pabrik sekitar Rp7 triliun, namun karena rupiah terus melemah, maka investasi yang dibutuhkan meningkat menjadi Rp7,6 triliun,”ujarnya di Jakarta, Selasa (3/12).

Dia menuturkan, sekitar Rp2,5-Rp3 triliun dari total investasi pembangunan menggunakan komponen dolar AS. Nilai ini mencapai 42,85% dari total investasi perseroan. “Kenaikannya berkisar diangka 18 sampai 20% untuk komponen yang menggunakan mata uang dolar AS. Pasalnya, pada saat FS, Semen Indonesia menggunakan kurs acuan sekitar Rp9.500 per dollar AS, namun sekarang membengkak menjadi Rp11.500 per dollar AS,” ungkap Agung.

Maka akibat membengkaknya nilai investasi pembangunan dua pabrik tersebut, Semen Indonesia harus mencari sumber pendanaan lain guna mencukupi kebutuhan investasinya. Kata Agung, perseroan saat ini tengah menjajaki pemberian fasilitas kredit dari Export Credit Agency (ECA) dan sindikasi perbankan lokal.

Sebagai informasi, pabrik baru tersebut diharapkan dapat selesai pada 2016. Di mana, rencana pembangunan kedua pabrik tersebut akan menjadi agenda dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang akan diselenggarakan pada 2014.

Dirinya mengakui pada tahun depan, dana yang akan dialokasikan untuk pembangunan pabrik tersebut masih tergolong kecil, hanya mencapai Rp 1 triliun. “Tahun 2015 nanti yang besar, kita bisa habiskan Rp 3,5 triliun untuk dua pabrik itu,” jelasnya.

Menurutnya, pertumbuhan penjualan Semen Indonesia sedikit mengalami perlambatan jika dibandingkan dengan target penjualan semen sampai akhir tahun yang mencapai 12%. Kata Agung Wiharto, menurunnya target penjualan pada 2014 lantaran imbas dari inflasi, kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate dan juga kebijakan pemerintah mengenai Loan To Value (LTV).

Dia menuturkan, sampai Oktober tahun ini, Semen Indonesia telah meningkatkan volume penjualan mencapai 20,95 juta ton atau 15,2% dibandingkan dengan penjualan semen pada periode yang sama pada tahun lalu sebesar 18,19 juta ton. "Peningkatan volume ini ditopang penjualan domestik yang menyumbang sebesar 20,66 juta ton," kata Agung.

Di sisi lain, perseroan tengah mengincar volume penjualan semen pada tahun 2014 mencapai 27,22 juta ton. Nilai ini tumbuh sekitar 10% dibandingkan target volume penjualan hingga akhir tahun ini sebesar 24,75 juta ton. Seiring dengan volume penjualan perseroan, volume produksi pun diharapkan dapat berada di angka yang sama dengan volume penjualan, “Raihan ini akan ditopang oleh hasil produksi dari beberapa wilayah operasinya antara lain, Gresik, Padang, Tonasa dan Vietnam,” kata Direktur Utama Semen Indonesia, Dwi Sutjipto. (bani)

Related posts