Peternak Diabaikan, Impor Susu Bisa Capai 90%

NERACA

Jakarta - Ketua Dewan Persusuan Nasional Teguh Boediyana menilai jika pemerintah masih tidak memperdulikan nasib peternak sapi maka diperkirakan pada 2020 Indonesia akan ketergantungan terhadap susu impor. Menurut dia, ada banyak faktor yang akan membuat Indonesia menjadi nett importir susu antara lain, populasi sapi yang semakin menurun, ketidakpedulian pemerintah terhadap para peternak sapi dan kebijakan-kebijakan yang tidak pro terhadap peternak.

“Jika dahulu, Indonesia bisa memasok 50% susu dalam negeri sementara saat ini hanya 20%. Akan tetapi, jika pemerintah masih tidak memperdulikan maka pada 2020 produksi dalam negeri hanya mampu memenuhi 10% kebutuhan susu alias 90% dari impor,” kata Teguh saat ditemui Neraca di Jakarta, Selasa (3/12).

Ia mengatakan keberpihakan terhadap peternak dalam negeri masih rendah. Hal itu dibuktikan dengan konsensus Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan populasi sapi dan kerbau mencapai 14,24 juta ekor yang terdiri dari sapi potong jantan sebanyak 4,19 juta ekor, sedangkan sapi potong betina sebanyak 8,5 juta ekor. Adapun sapi perah jantan tercatat sebanya 0,07 juta ekor, dan jumlah sapi perah betina 0,37 juta ekor.

Menurut Teguh, populasi sapi selalu mengalami penurunan terlebih dengan harga daging yang tinggi sehingga membuat para peternak lebih merelakan sapinya dipotong dari pada untuk dipelihara. Tak hanya itu, kata dia, pemerintah juga memberikan karpet merah kepada industri besar susu untuk membebaskan bea masuk impor susu. “Pada 2008, Bea Masuk impor susu dibebaskan. Sementara para peternak semakin sulit karena industri pengolah susu lebih memilih impor,” ucapnya.

Teguh juga mengatakan, harga perliter susu hanya dihargai sebesar Rp5.000 perliter. Padahal di China, harga susu yang dibeli industri pengolah sebesar Rp10.000 perliter. “Para peternak hanya menerima Rp5.000 perliter. Itupun belum dipotong dari biaya-biaya lainnya sehingga para peternak hanya mendapatkan Rp4.000 perliter,” katanya.

Lebih jauh lagi, ia mengatakakan belum terjadi perbaikan harga susu segar di tingkat peternak dan koperasi. Soalnya, menurut Teguh harga susu segar di Indonesia masih tergantung kepada industri pengolah susu. “Susah untuk harga susu naik secara alami dengan hukum suplai-demand. Posisi tawar peternak masih rendah. Kalaupun industri berebut, tetapi insentif yang mereka berikan untuk peternak masih rendah,” lanjutnya.

Teguh mengatakan dengan insentif harga yang rendah, maka sulit bagi peternak meningkatkan produksi susu. Soalnya, kata Teguh peningkatan produksi pasti terkait dengan perbaikan pakan ternak sapi perah yang membutuhkan tambahan biaya.

Teguh mengatakan peternak meminta harga susu dinaikkan menjadi Rp 5.500 per liter di tingkat koperasi dengan tingkat kandungan bahan kering (solid) 12%. Saat ini dengan kandungan solid 10%, susu dihargai di tingkat Rp 3.900 hingga Rp 4.300 per liter di tingkat koperasi. “Ketika kami demo beberapa waktu lalu, di pasar internasional harga susu sudah di atas Rp 6.000 per liter. Memang harga internasional fluktuatif, tetapi saya perkirakan harga ini masih akan bertahan tinggi,” kata Teguh.

Menurut data Kementerian Perindustrian, total kebutuhan bahan baku susu tercatat 3,2 juta ton per tahun. Sedangkan pasokan dari peternak hanya 690.000 ton yang dihasilkan oleh sekitar 597.135 ekor sapi perah. Artinya, hanya 21% bahan baku industri susu olahan yang bisa dipenuhi oleh peternak, sedangkan 79% masih harus diimpor.

Kesulitan Pasokan

Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Jawa Timur Sulistyanto mengatakan, sentra produksi sapi perah di Indonesia (Jawa Timur dan Jawa Barat) kesulitan memenuhi kebutuhan susu bagi pengusaha industri susu yang ditaksir mencapai 2.500 ton liter per hari.

Dikatakan, kapasitas produksi susu di kedua wilayah itu hingga kini hanya mampu menyuplai sekitar 1.600 ton liter per hari, terdiri dari Jawa Timur sekitar 1.000 ton liter per hari dan Jawa Barat sebanyak 600 ton liter per hari.

Bahkan, Jawa Timur selalu menutupi keterbatasan pasokan susu bagi Jawa Barat sebanyak 200-300 ton liter per hari. Pertumbuhan pabrik minuman dan makanan berbahan baku susu di Indonesia membuat industri sapi perah kewalahan memenuhi permintaan. “Di Jawa Timur saja pertumbuhan pabrik susu sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir. Saat ini sudah ada 75 pabrik yang membutuhkan sekitar 1.500 ton liter susu per hari,” katanya.

Dia mencatat, terdapat sejumlah pabrik-pabrik besar di Jawa Timur yang kesulitan bahan baku susu. Nestle, katanya, saat ini hanya mampu memenuhi 700 ton liter susu per hari. Padahal, kapasitas produksi pabrik Nestle diperkirakan mencapai 1.000 ton liter susu per hari.

Related posts